banner iklan

Apa Itu Hutang Jangka Panjang (Long Term Debt) dan Dampaknya pada Bisnis Usaha

apa_itu_hutang_jangka_panjang__long_term_debt_dan_dampaknya_pada_bisnis_usaha.png

Hutang selalu diasosiasikan dengan segala hal yang negatif. Berupa ketidakberdayaan, keterdesakan, dan momok menakutkan yang membuat hidup tak bahagia. Biasanya orang berhutang karena tidak memiliki solusi lain dan benar-benar harus untuk bertahan hidup. Tapi belakangan ini, hutang seakan menjadi opsi lain yang bisa dipilih untuk memenuhi gaya hidup. Namun, pada perusahaan, hutang tidak sepenuhnya demikian. Hutang dapat menjadi solusi untuk menambah modal perusahaan yang kemudian dioptimalisasikan untuk mengembangkan perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi. Ada dua jenis hutang berdasarkan waktu jatuh temponya, yakni pendek dan panjang. Pada artikel ini akan kita bahas hutang jangka panjang.

Pengertian Hutang Jangka Panjang 

Hutang adalah dana pinjaman. Sedangkan jangka panjang merujuk pada pengertian kapan lamanya jatuh tempo pinjaman itu harus dibayarkan. Jika waktu jatuh temponya satu tahun, berarti dikategorikan jangka pendek. Tetapi, jika lebih dari satu tahun, bisa disebut hutang jangka panjang. Berapa lamanya waktu pelunasan, bisa disepakati antara pemberi hutang dengan penerima hutangnya. Pada umumnya hutang jangka panjang ini memiliki rentang pelunasan antara lima hingga dua puluh tahun. 

Jenis-jenis Hutang Jangka Panjang 

  1. Hutang hipotek

Hutang hipotek bercirikan jaminan berupa aset tetap perusahaan. Maksudnya adalah, perusahaan yang mengajukan pinjaman, harus memiliki sesuatu untuk dijaminkan. Sesuatu itu berupa aset tetap, seperti tanah, gedung, kantor, gudang dan sebagainya. Jaminan ini wajib ada karena jumlah hutangnya besar. Ketika waktu jatuh tempo dan ternyata perusahaan gagal bayar, maka jaminan berupa aset itu dapat dijual yang hasilnya digunakan untuk melunasi sisa pinjaman yang belum dibayar. 

  1. Hutang obligasi

Berbeda dengan hipotek yang mengharuskan jaminan aset tetap, hutang obligasi adalah hutang yang dilelang menggunakan surat utang yang boleh dibeli bebas. Jadi perusahaan swasta atau pemerintah, mengumpulkan modal dari masyarakat menggunakan surat hutang. Pembeli obligasi akan menerima kembali uangnya sesuai waktu jatuh tempo yang tertera pada surat hutangnya. Perusahaan lebih menyukai sistem hutang ini karena memiliki tingkat bunga yang relatif rendah.

Keuntungan Memiliki Hutang Jangka Panjang untuk Bisnis

  1. Meningkatkan penjualan melalui optimalisasi aset 

Bukankah hutang adalah beban yang harus dibayarkan saat jatuh tempo? Bagaimana bisa berhutang justru bisa meningkatkan penjualan bukankah keberadaan hutang justru akan mengurangi pendapatan yang masuk sebab sebagian penghasilan itu harus dikurangi untuk membayarkan hutang? Ya, itu juga tepat. Namun, hutang jangka panjang dalam satu sisi, merupakan solusi yang bisa ditempuh perusahaan untuk mengepakkan sayap bisnisnya. Bagaimana bisa? Begini penjelasannya. Perusahaan memutuskan untuk mengambil hutang dalam jumlah besar dengan masa jatuh tempo yang lama. Biasanya antara lima sampai dua puluh tahun, tergantung kesepakatan. Kemudian, hutang itu akan menjadi model perusahaan yang bisa digunakan untuk membeli aset-aset penting yang berpengaruh langsung pada optimalisasi produksi hingga ke penjualan. Misal, untuk menyewa kantor cabang, membeli mesin produksi, menambah jumlah karyawan berpengalaman dan seluruh proses bisnis yang bisa dioptimalkan dengan penambahan dana dari hutang itu. Jadi, pengembangan modal melalui aset-aset penting tersebut harapannya bisa menggenjot hasil akhir berupa peningkatan penjualan yang berimbas langsung pada peningkatan pendapatan perusahaan. Tanpa modal eksternal dari hutang, perusahaan tidak bisa mengoptimalisasi aset, proses bisnis akan terus stagnan. 

  1. Mengurangi besaran pajak yang harus dibayarkan

Menyinggung pajak memang sensitif. Karena bermasalah dengan pajak bisa menyeret perusahaan pada masalah yang lebih besar dari sekadar kerugian. Bisa jadi perusahaan dikenakan sanksi atau hukum. Memiliki hutang yang besar, sesungguhnya bisa menolong perusahaan memperkecil beban pajaknya. Bagaimana bisa? Beban pajak dihitung dari berapa banyak pendapatan yang dimiliki perusahaan dalam satu masa akuntansi atau biasa disebut satu tahun. Semakin besar pendapatannya, semakin besar pula beban pajaknya. Karena penghitungannya melalui persentase. Ketika perusahaan memiliki beban hutang, apalagi dalam jangka panjang, maka setiap bulan atau setiap periode akuntansi, perusahaan harus menyiapkan dana untuk melunasi hutangnya. Nah, dana tersebut dipotong dari pendapatan bulanan atau tahunan perusahaan. Ketika pendapatan dipotong untuk disisihkan melunasi hutang, maka sisa pendapatan yang ada yang kemudian dijadikan pijakan untuk dikenakan beban pajak. Semakin berkurang jumlah pendapatannya, semakin kecil pula pajak yang harus dibayarkan. 

  1. Tidak ada campur tangan dalam pengambilan keputusan manajemen

Berbeda dengan metode investasi, dimana pihak yang menanamkan modal (investor) memiliki hak bersuara atas keputusan strategis perusahaan. Biasanya perusahaan menetapkan aturan berupa standar prosentase minimal kepemilikan saham investasi di perusahaan tersebut untuk bisa bersuara. Semakin besar investasinya, semakin besar pula haknya dalam mempengaruhi keputusan manajemen. Namun, pemberi hutang jangka panjang tidak memiliki hak seperti investor tersebut. Sebesar apapun hutang yang diberikan pada perusahaan, pemberi hutang tidak bisa mempengaruhi keputusan strategis manajemen. Inilah mengapa hutang jangka panjang lebih disukai pebisnis dibanding investasi.

Kerugian Memiliki Hutang Jangka Panjang untuk Bisnis

  1. Menurunkan nilai saham 

Rasio sumber pendanaan perusahaan pasti mempengaruhi nilai saham perusahaan dalam bursa efek. Rasionya harus seimbang memang antara sumber pendanaan internal dengan eksternal (hutang). Jika rasio hutang terlalu besar dibanding modal internal, membuat calon investor berpikir ulang untuk membeli saham perusahaan Anda. Rasio hutang yang tinggi bisa menurunkan kredibilitas dan kepercayaan atas performa perusahaan dalam mengelola modal dan menjalankan bisnis. Namun disisi lain, jika rasio hutang jangka panjang terlalu rendah, perusahaan akan dinilai tidak memiliki keberanian mengambil peluang dan keuntungan lewat hutang jangka panjang yang bisa membantu mengembangkan bisnis. 

  1. Semakin lama masa jatuh tempo, semakin besar resiko yang dihadapi perusahaan 

Resiko gagal bayar menjadi momok tersendiri untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki hutang jangka panjang dalam jumlah besar. Resiko yang patut dipertimbangkan oleh perusahaan itu diantaranya krisis ekonomi, mekanisme pasar, pertumbuhan ekonomi global dan nasional dan sebagainya. Setiap peristiwa yang terjadi bisa berpengaruh pada kelancaran bisnis dan pendapatan perusahaan. Semakin panjang jangka waktunya, semakin sulit untuk memprediksi resiko-resiko yang mungkin terjadi di masa depan. Hal ini akan berimbas langsung pada bagaimana rencana yang harus dibuat perusahaan untuk mencegah, bertahan dan menangani masalah di masa depan.


You Might Also Like