Cara Membuat Jurnal Penyusutan Aktiva Tetap (Fixed Asset) Akuntansi

cara_membuat_jurnal_penyusutan_aktiva_tetap__fixed_asset__akuntansi

Setiap barang yang telah digunakan pasti akan berkurang nilai fungsinya.Akibatnya bila dijual kembali, tentu harganya tidak akan sama dengan harga saat terjadi pembelian. Misalkan saja kendaraan, Anda membeli dengan harga Rp. 100,000,000 dan kemudian digunakan selama 1 tahun saja. Maka saat terjadi penjualan sangat tidak mungkin kendaraan tersebut juga akan dijual dengan harga Rp. 100,000,000. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Lantas bagaimana cara menghitung harga yang layak untuk dijual kembali? Bagaimana perlakuan tindakan tersebut dalam suatu badan usaha?Dalam perusahaan setiap aktiva tetap apabila dijual kembali pasti akan mengalami penyusutan. Hal ini terjadi karena nilai dari aktiva tersebut yang telah berkurang selama masa pemakaian. Anda tidak perlu khawatir mengalami “rugi” saat penjualan, jika Anda dapat menghitung nilai penyusutan dari aktiva tersebut. Sebelum mengetahui cara membuat jurnal penyusutan untuk aktiva tetap, ada baiknya mengenal terlebih dahulu definisi dari penyusutan dan aktiva tetap.

Penyusutan

Definisi dari penyusutan yang juga dikenal dengan istilah depresiasi adalah suatu proses akuntansi untuk mengalokasikan biaya aktiva tetap ke beban dengan cara sistematis dan rasional selama periode tertentu yang diharapkan mendapat manfaat dari penggunaan aktiva tersebut. Jadi secara sederhana penyusutan adalah nilai manfaat yang kita peroleh selama masa pemakaian aktiva tersebut.Penyusutan diberlakukan bagi setiap barang atau benda berwujud yang dimiliki oleh perusahaan. Penyusutan tidak berlaku bagi barang atau benda dengan status sewa. Biasanya penyusutan disusun dalam bentuk jurnal dan masuk ke laporan keuangan perusahaan. Nantinya pada setiap akhir periode, perusahaan akan mendapatkan nilai sisa dari aktiva tersebut. Menurut Arfan Ikhsan (2009:166), penilaian biaya penyusutan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Harga perolehan 

Merupakan harga dari aktiva tersebut pada saat terjadi pembelian. Tidak peduli aktiva dalam kondisi baru atau bekas, selama memiliki harga pembelian maka itulah yang dimaksud harga perolehan.

  1. Perkiraan umur kegunaan

Merupakan perkiraan periode dimana perusahaan dapat memanfaatkan aktiva tersebut. Biasanya satuan dari umur kegunaan dihitung dalam tahun. Namun ada juga yang menghitung dengan satuan kilometer, unit, dan lain sebagainya, disesuaikan dengan keputusan manajemen perusahaan. Contoh aktiva dalam bentuk mobil, biasanya akan menggunakan satuan tahun, yaitu setiap 5 tahun. Aktiva dalam bentuk excavator biasanya akan menggunakan satuan kilometer atau jam. Semua ditentukan dengan keputusan bersama manajemen.

  1. Nilai residual

Biasa disebut juga dengan istilah nilai sisa, merupakan nilai kas dari aktiva tetap pada akhir masa manfaatnya. Nilai sisa juga berupa estimasi jumlah yang kira-kira akan diterima pada saat perusahaan memutuskan untuk menjual aktiva tersebut.Jika ketiga penilaian diatas telah dipenuhi, maka perusahaan perlu menentukan terlebih dahulu metode penyusutan yang akan digunakan. Ada 3 metode penyusutan yang dapat dipertimbangkan, yaitu:

  1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Metode ini merupakan metode favorit, karena lebih banyak digunakan daripada metode lain. Penggunaan metode garis lurus lebih mempertimbangkan penyusutan dari fungsi waktunya daripada fungsi penggunaan. Kekurangan metode ini adalah didasarkan pada asumsi yang tidak realistis, yaitu nilai kegunaan dari aktiva yang konstan setiap tahun dan beban reparasi serta pemeliharaan yang juga sama setiap tahunnya. Rumus dari metode ini adalah:Beban Penyusutan=Biaya-Nilai SisaEstimasi umur aktiva

  1. Metode Jam Jasa (Service Hour Method)

Metode ini didasarkan pada jam saat peralatan atau aktiva tetap tersebut digunakan. Jadi nilai dari beban penyusutan tergantung dari jam jasa. Adanya metode ini karena anggapan bahwa aktiva akan mudah rusak jika digunakan secara full time, daripada digunakan pada jumlah jam tertentu. Biasanya metode ini cocok untuk kendaraan, karena kendaraan lebih cepat berkurang nilai manfaatnya berdasarkan jam kerja daripada hitungan waktu (bulan atau tahun). Rumus dari metode ini adalahBiaya Depresiasi=Harga perolehan -Nilai SisaTaksiran Jam Jasa

  1. Metode Hasil Produksi  (Productive Output Method)

Metode ini menggunakan satuan jumlah unit hasil produksi sebagai umur dari fungsi aktiva itu sendiri. Hal ini menyebabkan hasil perhitungan depresiasi pada setiap periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi dari hasil produksi. Perusahaan harus menghitung nilai depresiasi dari tiap unit produk. Rumus dari metode hasil produksi adalah sebagai berikut:Beban Penyusutan=Harga Perolehan -Nilai ResiduTaksiran Hasil Produksi

Contoh Jurnal Penyusutan Pada Aktiva Tetap

Sebelum membuat jurnal penyusutan, maka Anda harus mencari tahu dahulu ketiga nilai dan komponen diatas, yaitu harga perolehan, perkiraan umur kegunaan dan perkiraan nilai sisa. Berikut contoh kasusnya berdasarkan 3 metode penyusutan.

  1. Metode Garis Lurus

Perusahaan A memiliki akomodasi berupa truck yang dibeli pada tanggal 5 Januari 2019 dengan harga Rp. 120,000,000. Diperkirakan masa pakai adalah 5 tahun dengan nilai sisa atau nilai residu sebesar Rp. Rp. 30,000,000.Beban Penyusutan=Rp. 120,000,000-Rp. 30,000,0005 TahunDari perhitungan diatas didapatkan nilai dari beban penyusutan adalah Rp. 18,000,000. Maka jurnal penyusutan pada akhir tahun dapat disusun sebagai berikut:

TanggalKeteranganDebetKredit
31/12/2019Beban Penyusutan TruckRp. 18,000,000
    Akumulasi Penyusutan TruckRp. 18,000,000

Jika periode akuntansi ditutup setiap bulan, maka Rp. 18,000,000 masih harus dibagi 12, yaitu Rp. 1,500,000. Maka jurnal penyusutan dapat disusun sebagai berikut:

TanggalKeteranganDebetKredit
31/01/2019Beban Penyusutan TruckRp. 1,500,000
    Akumulasi Penyusutan TruckRp. 1,500,000

You Might Also Like