Pengertian, Tujuan, Manfaat, dan Contoh Konsep Metode Six Sigma dalam Produksi

Sindhu Partomo
Pengertian, Tujuan, Manfaat, dan Contoh Konsep Metode Six Sigma dalam Produksi

Daftar Isi


Six Sigma adalah metodologi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas proses bisnis dengan mengidentifikasi dan menghilangkan penyebab cacat atau kesalahan. Dikembangkan oleh Motorola pada tahun 1980-an, Six Sigma telah menjadi standar dalam banyak industri, termasuk manufaktur, untuk mencapai efisiensi operasional yang tinggi. Artikel ini akan menjelaskan konsep Six Sigma, aplikasinya dalam industri manufaktur, serta memberikan contoh konkret penerapannya.

Pengertian Metode Six Sigma

Six Sigma adalah metode pengendalian kualitas yang berfokus pada pengurangan variasi dan peningkatan kualitas dengan menggunakan alat statistik. Six Sigma berasal dari dua kata, six yang artinya enam (6) dan sigma yang merupakan satuan standar deviasi (σ), sehingga Six Sigma bisa disimbolkan dengan 6σ. Six Sigma sendiri merupakan metode dalam manajemen produksi yang berfokus pada peningkatan kualitas produksi. Peningkatan kualitas yang dimaksud adalah dengan memperbaiki proses serta mengidentifikasi dan meminimalisasi cacat produk. Selain itu, upaya lainnya juga dilakukan dengan mengurangi pemborosan agar menghasilkan produk dan layanan yang lebih baik, lebih murah, dan lebih cepat. Metode Six Sigma dibuat untuk menggantikan metode TQM (Total Quality Management) yang sudah lebih dulu dikenal. Namun secara konsep, Six Sigma bisa dikatakan sebagai penggabungan antara konsep TQM dengan SPC (Statistical Process Control). Kesuksesan pelaksanaan Six Sigma sendiri akan tergantung pada kemampuan dasar untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah.

Tujuan utama Six Sigma adalah mencapai kinerja dengan tingkat cacat/gagal produksi yang sangat rendah, yaitu tidak lebih dari 3,4 (tiga koma empat) untuk setiap satu juta unit. Metodologi ini menggunakan dua pendekatan utama: DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) untuk proyek-proyek peningkatan proses dan DMADV (Define, Measure, Analyze, Design, Verify) untuk pengembangan produk atau proses baru.

Komponen Utama Six Sigma

  1. DMAIC:

    • Define: Menentukan masalah, tujuan proyek, dan kebutuhan pelanggan.
    • Measure: Mengukur kinerja proses saat ini.
    • Analyze: Menganalisis data untuk mengidentifikasi penyebab utama cacat.
    • Improve: Mengimplementasikan solusi untuk menghilangkan penyebab cacat.
    • Control: Memantau proses untuk memastikan perbaikan yang berkelanjutan.
  2. DMADV:

    • Define: Mendefinisikan tujuan proyek dan kebutuhan pelanggan.
    • Measure: Mengukur dan mengidentifikasi CTQs (Critical to Quality) yang relevan.
    • Analyze: Menganalisis opsi desain untuk mencapai kualitas yang diinginkan.
    • Design: Merancang proses atau produk baru yang memenuhi standar kualitas.
    • Verify: Memverifikasi desain dengan uji coba dan memastikan kinerjanya.

Aplikasi Six Sigma di Industri Manufaktur

Six Sigma diterapkan di industri manufaktur untuk meningkatkan kualitas produk, mengurangi biaya, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Berikut adalah beberapa cara bagaimana Six Sigma diterapkan di sektor ini:

  1. Peningkatan Kualitas Produk:
    Six Sigma digunakan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan cacat dalam proses produksi, sehingga meningkatkan kualitas produk akhir.

  2. Efisiensi Proses:
    Dengan mengurangi variasi dan meningkatkan konsistensi proses, Six Sigma membantu dalam mengoptimalkan efisiensi operasional.

  3. Pengurangan Biaya:
    Mengurangi cacat dan limbah dalam proses produksi berkontribusi pada pengurangan biaya total.

  4. Kepuasan Pelanggan:
    Produk berkualitas tinggi yang konsisten meningkatkan kepuasan pelanggan dan loyalitas merek.

Contoh Penerapan Six Sigma

Studi Kasus: Peningkatan Proses Produksi di Perusahaan Otomotif

Masalah: Sebuah perusahaan otomotif mengalami tingginya tingkat cacat pada komponen mesin yang menyebabkan peningkatan biaya produksi dan penurunan kepuasan pelanggan.
Pendekatan DMAIC:

  1. Define: Masalah diidentifikasi sebagai tingginya tingkat cacat pada komponen mesin. Tujuan proyek adalah mengurangi tingkat cacat sebesar 50% dalam waktu enam bulan.
  2. Measure: Data dikumpulkan tentang tingkat cacat saat ini. Ditemukan bahwa tingkat cacat adalah 7% dari total produksi.
  3. Analyze: Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab utama cacat. Ditemukan bahwa variasi dalam pemasok bahan baku dan proses pemesinan adalah penyebab utama.
  4. Improve: Implementasi perbaikan dilakukan dengan memilih pemasok bahan baku yang lebih konsisten dan meningkatkan proses pemesinan dengan kalibrasi ulang mesin.
  5. Control: Setelah perbaikan diterapkan, proses dipantau secara berkala untuk memastikan bahwa tingkat cacat tetap rendah. Hasil: Tingkat cacat pada komponen mesin berkurang dari 7% menjadi 3% dalam waktu enam bulan, yang melebihi target awal. Perusahaan berhasil mengurangi biaya produksi dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Studi Kasus: Pengurangan Waktu Produksi di Pabrik Elektronik

Masalah: Sebuah pabrik elektronik mengalami waktu produksi yang panjang, menyebabkan keterlambatan pengiriman dan ketidakpuasan pelanggan. Pendekatan DMAIC:

  1. Define: Masalah diidentifikasi sebagai waktu produksi yang panjang. Tujuan proyek adalah mengurangi waktu produksi sebesar 30% dalam waktu enam bulan.
  2. Measure: Data dikumpulkan tentang waktu produksi saat ini. Ditemukan bahwa rata-rata waktu produksi adalah 10 hari.
  3. Analyze: Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab utama dari waktu produksi yang panjang. Ditemukan bahwa penundaan terjadi pada tahap pengujian dan inspeksi.
  4. Improve: Implementasi perbaikan dilakukan dengan mengotomatisasi sebagian proses pengujian dan meningkatkan pelatihan untuk tim inspeksi.
  5. Control: Setelah perbaikan diterapkan, proses dipantau untuk memastikan bahwa waktu produksi tetap pendek. Hasil: Waktu produksi berkurang dari 10 hari menjadi 6 hari dalam waktu enam bulan, mencapai target yang ditetapkan. Pabrik berhasil meningkatkan kepuasan pelanggan dengan pengiriman yang lebih tepat waktu.

Manfaat Metode Six Sigma

Bagi perusahaan, penerapan Metode Six Sigma yang berhasil akan memberikan beberapa manfaat yang diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Menunjang Kesuksesan yang Berkesinambungan
    Six Sigma menjadi metode kunci bagi perusahaan untuk terus melakukan terobosan dalam menciptakan strategi produksi terbaik. Manfaatnya tidak hanya untuk menunjang kesuksesan perusahaan, tetapi juga agar kesuksesan itu bersifat kontinu atau berkesinambungan.

  2. Memperkuat Nilai di Mata Konsumen
    Six Sigma diterapkan untuk menciptakan mutu yang lebih baik sehingga bernilai tinggi bagi konsumen, bahkan menjadi satu-satunya pilihan konsumen. Hal ini bisa dicapai dengan mempelajari perspektif konsumen.

  3. Mempercepat Perbaikan
    Perbaikan proses produksi akan menjadi lebih cepat dan terjaga melalui metode Six Sigma. Perbaikan ini penting dalam usaha mencukupi desakan konsumen.

  4. Menjadi Standar Baru
    Six Sigma menggunakan kerangka bisnis untuk mewujudkan tujuannya. Dengan persentase keberhasilan yang cukup tinggi yaitu mencapai 99,9966%, Six Sigma bisa menjadi standar baru bagi siapapun yang terlibat agar memperbaiki kemampuannya.

  5. Melakukan Perubahan Strategis
    Bisa melakukan perubahan strategis dari mulai memperkenalkan produk baru, menjalin kerja sama baru, memasuki pasar baru, dan lain sebagainya bisa menjadi manfaat dari penerapan Six Sigma bagi perusahaan. Manfaat dari Metode Six Sigma ini bisa dirasakan maksimal apabila dalam implementasinya didukung baik oleh top level, kerja tim yang solid, program training yang tepat, alat ukur terbaru, serta etos kerja yang lebih baik.

Kesimpulan

Six Sigma adalah alat yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam industri manufaktur. Dengan menerapkan pendekatan DMAIC dan DMADV, perusahaan dapat mengidentifikasi dan menghilangkan cacat dalam proses mereka, mengurangi biaya, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Contoh kasus nyata menunjukkan bagaimana Six Sigma dapat digunakan untuk mencapai hasil yang signifikan dalam waktu yang relatif singkat. Memahami dan mengaplikasikan konsep Six Sigma adalah langkah penting bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di pasar global.

Kalau kamu mau tahu lebih banyak tentang stok barang, supply chain, inventory management, atau software ERP yang memudahkan pembukuan stok, kamu bisa pelajari di blog Ukirama.

Sumber:
Hanggara, A. (2019). Pengantar Akuntansi. Jakad Media Publishing.

Ukirama ERP memudahkan ratusan perusahaan mengelola bisnis setiap hari

Jadwalkan Demo

Sindhu Partomo
Sindhu Partomo

Seorang penulis dengan fokus pada Branding dan Digital Marketing

You Might Also Like