banner iklan

Perbedaan Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syariah

8_perbedaan_akuntansi_konvensional_dengan_akuntansi_syariah

Tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan ekonomi syariah baik di Indonesia maupun dunia Islam sangat pesat dalam beberapa tahun belakangan. Hal tersebut nampak menjadi tren yang menyelimuti masyarakat muslim dunia dan direspon baik pula oleh pelaku ekonomi. Berbagai istilah terkait syariah pun menyasar ke berbagai elemen ekonomi, termasuk akuntansi dengan sebutan akuntansi syariah.Dalam akuntansi, memang perubahan sangat dimungkinkan terjadi. Hal itu lantaran akuntansi merupakan produk budaya dimana prakteknya menjadi cerminan perilaku komunitas dalam suatu wilayah. Artinya, jika dalam suatu komunitas masyarakat memiliki budaya yang berbeda, maka akan terjadi perbedaan pula dalam tujuan, kebijakan, standar, dan teknik akuntansinya.Berkaitan dengan pembahasan di atas, tentu yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menjadi perbedaan antara akuntansi biasa atau konvensional dengan akuntansi syariah? Untuk mengetahuinya, berikut pembahasan rincinya.

Mengenal Akuntansi Konvensional

Sebelum membahas tentang perbedaan, ada baiknya kita mengenal dahulu apa itu akuntansi. Akuntansi atau accounting memiliki arti menghitung. Secara umum, akuntansi merupakan proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah, dan menyajikan data transaksi yang berkaitan dengan keuangan.Akuntansi konvensional sendiri berfokus untuk pelaksanaan kerja manajer dalam menjaga investasi yang dipercayakan pemilik atau kreditor kepada dirinya. Laba tentu saja menjadi pencapaian utamanya. Berkaitan dengan ideologi, akuntansi dipengaruhi oleh berbagai ideologi, namun yang paling dominan adalah ideologi kapitalisme. Hal ini juga diamini oleh berbagai pandangan ahli, salah satunya Harahap (2001) yang mengatakan bahwa ilmu akuntansi konvensional yang berkembang saat ini dilandasi jiwa kapitalisme dan perkembangan ekonomi kapitalisme sangat dipengaruhi perkembangan akuntansi konvensional.

Mengenal Akuntansi Syariah

Secara etimologis, istilah akuntansi syariah berakar dari kata bahasa arab yaitu Muhasabah yang juga berarti Hisab atau menghitung, menimbang, atau mendata secara teliti dan dicatat dalam pembukuan. Konsepnya secara umum sama dengan akuntansi konvensional yaitu terkait entitas bisnis, kesinambungan, stabilitas daya beli, dan periode akuntansi. Namun ada beberapa isu yang khas terutama dalam perhitungan karena harus sesuai dengan landasan ajaran islam.Akuntansi syariah sendiri dikenal sebagai ilmu akuntansi yang berorientasi sosial. Makna dari pernyataan itu bahwa akuntansi syariah tidak hanya sebagai penerjemah fenomena ekonomi secara moneter, namun juga bagaimana fenomena ekonomi tersebut berpengaruh di masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan dari akuntansi syariah itu sendiri yakni menciptakan peradaban bisnis berwawasan humanis, emansipatoris, transendental, dan teleologikal.

Seperti yang sudah diungkap sebelumnya, landasan dari akuntansi syariah adalah ajaran Islam. Dasar hukumnya tentu tak terlepas dari Al-Quran dan Hadis. Selain itu sumber lain seperti Ijma (kesepakatan ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu), dan ‘Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan syariat Islam juga diberlakukan.

Perbedaan Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Syariah

Setelah mengenal hal dasar dari akuntansi konvensional dan akuntansi syariah di atas, lantas bagaimana kita membedakan antara akuntansi konvensional dan akuntansi syariah? Dalam hal ini, ada beberapa hal yang bisa menjadi elemen pembedanya, yaitu:

  1. Landasan dan Prinsip 

Landasan atau prinsip kegiatan tentu menjadi perbedaan paling dasar dari akuntansi konvensional dan akuntansi syariah. Pada akuntansi syariah, kegiatan ekonomi harus berlandaskan pada kaidah dan syariah Islam yang terintegrasi dalam kehidupan masyarakat muslim secara umum. Sedangkan akuntansi konvensional memiliki dasar kerja pada logika manusia yang bisa berubah tergantung kebutuhan dan kultur masyarakat setempat.

  1. Nilai yang Dianut

Dari sisi lain, akuntansi syariah sangat erat dengan nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan pertanggungjawaban. Semua hal berkaitan dengan keadilan, kebenaran, dan pertanggungjawaban ini juga harus sesuai dengan ajaran Islam dan rasul. Apalagi dalam Islam, ketiga hal tersebut sangat penting karena memiliki pengaruh pada keputusan dan tindakan seseorang hingga bisa mempengaruhi orang lain. Sedangkan pada akuntansi konvensional, nilai keadilan, kebenaran, dan pertanggungjawaban tentu juga berlaku tetapi sangat tergantung pada nilai yang dianut pada masing-masing kelompok organisasi.

  1. Hal-Hal yang Dilarang

Oleh karena berdasarkan kaidah Islam, maka akuntansi syariah juga melarang pencatatan transaksi ekonomi yang mengandung riba, judi, penipuan, barang tidak halal seperti minuman kerasa, prostitusi, dan hal-hal yang tidak sesuai syariat Islam secara umum. Berbeda dengan akuntansi konvensional yang lebih bersifat bebas tergantung masing-masing kelompoknya.

  1. Konsep Penilaian 

Di dalam menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, para ahli akuntansi modern masih memiliki pandangan yang berbeda-beda. Bahkan apa yang dimaksud dari modal pokok itu sendiri masih belum ditentukan. Berbeda dengan akuntansi syariah, konsep penilaian didasarkan pada nilai tukar yang berlaku. Hal ini dilakukan untuk melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di waktu mendatang.

  1. Konsep Modal

Secara akuntansi konvensional, konsep modal dikenal dalam dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal beredar (aktiva lancar). Berbeda halnya dengan akuntansi syariah dimana modal pokok dibagi dalam dua hal yaitu uang atau cash dan harta barang atau stock. Modal berupa barang sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu barang milik dan barang dagang.

  1. Prinsip Laba

Seperti yang dipahami secara umum, laba terjadi jika ada kegiatan jual beli. Hal itulah yang menjadi prinsip laba dari akuntansi konvensional. Namun berbeda jika dilihat dari sudut pandang akuntansi syariah. Pada akuntansi syariah, laba akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan nilai barang, tidak peduli barang tersebut terjual atau belum terjual. Hanya saja memang, laba baru bisa dinyatakan jika sudah ada jual beli dan laba tidak boleh dibagi sebelum benar-benar nyata diperoleh. 

  1. Cakupan Laba

Pada akuntansi konvensional, prinsip laba bersifat universal yaitu mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan uang dari sumber lain. Sedangkan pada akuntansi syariah, laba akan dibedakan menjadi dua yaitu laba  dari aktivitas pokok dan modal pokok serta laba yang berasal dari transaksi. Selain itu yang harus diperhatikan dengan seksama adalah soal laba dari sumber haram yang tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampur pada modal pokok.

  1. Pandangan Tentang Mata Uang

Hal yang juga menarik dari akuntansi konvensional adalah tentang mata uang seperti emas, perak, dan barang lain. Menurut konsep akuntansi syariah, kedudukan benda-benda tersebut bukan tujuan dari segalanya. Mata uang emas, perak, dan lainnya hanyalah perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai dan harga.Itulah beberapa hal terkait perbedaan akuntansi konvensional dan akuntansi syariah. Jika bisa disimpulkan, akuntansi konvensional dan akuntansi syariah memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Akuntansi konvensional berdasar pada buah pikir manusia yang bergantung pada budaya dimana sistem akuntansi tersebut dilakukan. Sedangkan pada akuntansi syariah, tujuan laporan keuangannya harus terintegrasi dengan kehidupan masyarakat muslim.


You Might Also Like