Ini Tips Menentukan Harga Makanan Anda di Aplikasi Pesan Makanan GoFood atau GrabFood

By Martina, 03 April 2019
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Hujan deras, larut malam, kompor rusak, hingga mustahil meninggalkan rumah. Padahal, perut keroncongan tidak karuan. Dulu, mungkin solusi atas situasi ini hanya satu, yaitu mencari restoran yang masih buka dan tentunya cukup memaksakan diri. Tapi di era digital seperti sekarang? Cukup scroll ponsel, lalu makanan akan tiba di depan pintu rumah Anda. Less hassle, less effort.


Yup, tentu Anda telah familiar dengan layanan pesan makanan secara online berbasis aplikasi. Dua yang paling populer di Indonesia adalah GoFood dan GrabFood. Kedua raksasa startup ini menyediakan aplikasi yang memungkinkan penggunanya untuk membeli makanan dari restoran atau warung – yang kemudian disebut mitra atau partner – tanpa perlu repot-repot meninggalkan rumah atau kantor.


Efektif? Jelas. Bahkan menggali lebih dalam lagi, perusahaan ride sharing ini juga berlomba memberikan promo menarik untuk menggaet lebih banyak pengguna mengakses aplikasi mereka. Selama tahun 2018 saja, PT Go-Jek Indonesia mengakui bahwa mitra GoFood berkembang pesat hingga 80 persen. Tak ketinggalan, GrabFood juga bertekad menguasai pasar Indonesia dengan total transaksi mencapai 80 persen dan jumlah mitra tumbuh delapan kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.


Seakan mempertegas fakta di atas, Kontan juga mencatat hingga awal 2018 lalu, jumlah mitra GrabFood mencapai 300.000 merchant. Di sisi lain, Katadata juga mengulas bahwa GoFood telah menggandeng lebih dari 150.000 mitra dan tentu angka ini semakin melambung hingga kini. Tak heran tren bisnis makanan dan minuman tahun 2019 semakin berkembang pesat.


Instrumen Marketing Baru

Tentunya, inovasi dari layanan pesan antar makanan online seperti GoFood dan GrabFood tak akan berhenti di titik memberi ruang untuk berjualan saja. Ada banyak fitur yang mereka kreasikan seperti kategori best seller, buka 24 jam, review terbaik, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung, hal ini membuat bisnis kuliner di ranah online terus berdenyut dan kompetitif.


Untuk bergabung pun tidak sulit. Anda bisa dengan mudah mendaftarkan bisnis kuliner Anda secara online dengan melampirkan dokumen-dokumen yang disyaratkan seperti identitas, NPWP, informasi restoran, hingga daftar menu. Setelah diverifikasi dan disetujui, Anda telah “membangun” kedai virtual yang dijamin akan memperluas jangkauan pasar Anda. McKinsey & Company menyebut bahwa geliat pasar pesan antar makanan online ini mencapai 83 miliar euro di seluruh dunia dan akan terus melejit.


Tak sedikit pebisnis kuliner yang mengaku penjualannya melonjak berkali-kali lipat sejak bergabung di aplikasi pesan makanan online. Animo pengguna aplikasi kian tinggi dengan berbagai kemudahan untuk memesan makanan favorit mereka tanpa harus menembus kemacetan atau mengeluarkan biaya seperti bensin, parkir, dan juga waktu.


Bagaimana Menentukan Harganya?

Tapi promosi digital marketing yang menarik ini tentu harus diiringi dengan strategi jitu. Ketika seorang pebisnis berhasil mengelola restoran online mereka dan terus mengupdate secara berkala, barulah hasilnya akan signifikan dan nyata terasa.


Lalu, pertanyaan besarnya sekarang, bagaimana pebisnis kuliner sebaiknya menentukan harga makanan yang dipasarkan lewat aplikasi seperti GoFood dan GrabFood? Apa yang harus dilakukan sebelumnya? Simak beberapa tipsnya berikut ini:


  1. Perhitungkanlah Margin

Jangan samakan harga jual makanan Anda di restoran offline dengan yang ada di aplikasi. Ketika Anda memutuskan bekerja sama dengan aplikator seperti GoFood dan GrabFood, artinya ada kesepakatan bagi hasil yang disetujui.


Besaran bagi hasilnya pun bervariasi, sekitar 20 hingga 30 persen dari setiap transaksi. Untuk itu, pastikan Anda menaikkan harga produk di aplikasi dan membedakannya dengan harga jika pembeli datang langsung ke restoran. Sistem bagi hasil ini biasanya ditagihkan setiap bulan.


  1. Perhitungkanlah Ongkos Kirim

Ketika Anda setuju untuk berkolaborasi dengan aplikator, ingatlah bahwa mereka memiliki otoritas penuh dalam menaikkan harga atau menentukan ongkos kirim (delivery). Perang tarif dengan kompetitor terkadang membuat mereka menetapkan ongkos kirim cuma-cuma.


Siapa yang tak tergoda? Tanpa perlu capek-capek, pengguna aplikasi bisa menikmati makanan tanpa merogoh dompet untuk biaya ongkos kirim. Tapi jangan lupa, Anda sebagai mitra bisa jadi masih terkena pemotongan untuk biaya ongkos kirim. Perhitungkan pula hal ini sebelum menyusun skema harga.


Baik ongkos kirim maupun penyesuaian margin adalah sebagian dari Cost of Goods Sold (COGS) yang terkait dengan proses produksi dari produk Anda serta biaya operasional yang dikeluarkan. Hal sekecil apapun perlu diperhitungkan sebagai faktor penentuan harga jual makanan Anda.


  1. Sharing dengan Mitra Lain

Sebagai pebisnis kuliner, Anda tidaklah sendiri dalam terjun ke dunia pemesanan makanan online. Untuk itu, tak ada salahnya bertanya kepada teman atau mereka yang berada dalam jaringan sesama pebisnis kuliner untuk tahu review mereka.


Yang terpenting, gali hal yang sekiranya menjadi kritik selama mereka bekerja sama dengan aplikator. Analogikan jika hal itu terjadi pada bisnis kuliner Anda. Kemudian, jangan ragu untuk menanyakannya kepada pihak aplikator sebelum benar-benar setuju bekerja sama. Tak ada salahnya menanyakan hal sedetail mungkin kepada pihak perusahaan.


  1. Alur Pembayaran

Salah satu hal yang perlu Anda antisipasi ketika bisnis kuliner Anda menjadi viral adalah restoran Anda akan dipenuhi driver GoJek dan Grab yang datang untuk membelikan pesanan pelanggan. Ketika hal ini terjadi, jangan sampai situasinya justru membuat pengunjung restoran Anda merasa tidak nyaman. Contohnya, alur pembayaran. Jika antreannya terlalu panjang dan membuat proses membayar menjadi lama, ini bisa menjadi review buruk bagi bisnis Anda!


Untuk itu, tidak ada salahnya membedakan alur pembayaran dengan dua kasir. Satu untuk driver GoJek dan Grab, dan satu lainnya untuk mereka yang makan di tempat atau take away. Ketika hal ini Anda terapkan, artinya Anda perlu menambah sumber daya kasir atau pegawai lengkap dengan gaji mereka. Masukkan hal ini sebagai biaya produksi sebelum menentukan harga jual makanan di aplikasi.


Bisnis kuliner Anda, keputusan Anda. Terapkan sistem yang memudahkan seluruh mekanisme penjualan tanpa membuat Anda kewalahan. Di momen ketika Anda memutuskan untuk berkolaborasi dengan aplikator, artinya Anda telah membuka cabang restoran baru yang bisa diakses secara digital tanpa batas, no boundaries. Artinya, pekerjaan Anda akan bertambah banyak dan bisa jadi merepotkan jika tidak dikelola dengan baik.


Untuk itu, sebelum Anda memutuskan untuk tanda tangan kontrak kerja sama dengan aplikator, simulasikan dulu bagaimana bisnis kuliner Anda akan berjalan ketika layanan GoFood dan GrabFood sudah dimulai. Cari celah dan siasati dengan strategi yang efektif. Misalnya, dengan menyiapkan kertas invoice yang berbeda antara pembelian lewat aplikasi dengan pembelian langsung. Cara ini akan mempercepat proses pembayaran.


Ide lainnya mungkin sesederhana memberi tempat bagi driver GoJek dan Grab untuk menunggu dengan nyaman, menyediakan tempat parkir yang tidak mengganggu lalu lintas sekitar restoran Anda, atau dengan memberikan cemilan atau minuman bagi driver yang sudah rela mengambil pesanan ke restoran Anda. Small gesture akan sangat berarti bagi bisnis kuliner Anda.


Baca juga

Pentingnya Efisiensi Waktu dan Ketepatan Perhitungan COGS pada Bisnis Makanan dan Minuman

Apa Itu Pajak UMKM, Keuntungan dan Cara Perhitungannya

Cara Membuat Laporan Stok pada Bisnis Café Anda

Tren Bisnis Makanan dan Minuman Tahun 2019

5 Cara Mengoptimalkan Proses Produksi di Pabrik Makanan dan Minuman

© 2021 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin