Kenali Lebih Lanjut Proyek Konstruksi dan Risiko Proyek Konstruksi

By Martina, 31 Maret 2019
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Di sepanjang jalan, kita bisa jadi menjumpai pembangunan. Dari mulai di desa sampai di kota besar, pembangunan selalu ada baik itu rumah, sekolah, gedung bertingkat, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Pembangunan ini biasa kita kenal sebagai proyek konstruksi. Proyek sendiri berarti rangkaian kegiatan yang dibatasi waktu dengan alokasi sumber daya tertentu untuk mencapai apa yang telah direncanakan. Sedangkan konstruksi adalah membangun. Jadi, bisa disederhanakan bahwa proyek konstruksi adalah kegiatan membangun suatu bangunan tertentu sesuai rencana yang dibatasi waktu dan alokasi sumber daya tertentu.

Proyek konstruksi ini sendiri tidak hanya soal pembangunan. Banyak aspek yang menunjang dan menjadi karakteristiknya. Begitupun soal risiko, proyek konstruksi juga memiliki kemungkinannya sendiri. Untuk lebih jelas, berikut pembahasannya.

Mengenal Proyek Konstruksi

Seperti yang sudah dibahas di atas, proyek memiliki karakteristik yaitu memiliki jangka waktu dan sumber daya tertentu. Berkaitan dengan pembangunan, maka proyek juga berarti memiliki lahan atau lokasi tertentu yang ditetapkan, spesifikasi akan bahan, alat, tenaga kerja, dan metode pelaksanaan, jenis pekerjaan, serta tahapan tertentu.

  1. Jenis Proyek Konstruksi

Pembangunan juga sejatinya berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Ini artinya proyek konstruksi pun bisa berkembang sesuai keragaman bidang kehidupan manusia. Namun secara umum, ada beberapa jenis proyek konstruksi yang paling umum ditemui dalam kehidupan manusia saat ini, yaitu :

  • Building Construction (Bangunan Gedung)

Proyek konstruksi bangunan gedung ini mencakup bangunan perkantoran, sekolah, pertokoan, rumah sakit, rumah tinggal, dan sejenisnya. Biaya dan teknologi pada jenis proyek ini sangat beragam dari yang rendah sampai tinggi.

  • Real Estate (Bangunan Perumahan)

Proyek konstruksi untuk bangunan perumahan berbeda dengan proyek bangunan gedung karena sistemnya dibangun serempak dengan sekaligus penyerahan prasarana penunjang seperti infrastruktur jalan, jaringan air, dan fasilitas lain.

  • Proyek Konstruksi Teknik Sipil

Proyek Konstruksi Teknik Sipil atau beberapa orang menyebutnya ‘proyek’ saja ini umumnya berupa pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, jembatan, terowongan, pelabuhan, bandara, bendungan, dan lain sebagainya. Hal ini berarti proyek jenis ini biasanya berskala besar dan berteknologi tinggi.

  • Industrial Construction (Konstruksi Industri)

Proyek konstruksi industri biasanya adalah pembangunan yang membutuhkan spesifikasi dan persyaratan khusus seperti untuk pertambangan, kilang minyak, dan industri berat lainnya.

  1. Tahapan Proyek Konstruksi

Proyek konstruksi dikerjakan melalui beberapa tahapan sebelum pada akhirnya dilaksanakan. Secara garis besar tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Planning (Perencanaan)

Seperti namanya, tahap ini menjadi tahap awal untuk merencanakan bagaimana proyek akan dilakukan serta menyiapkan berbagai hal-hal mendasar lainnya. Tahap perencanaan ini meliputi beberapa kegiatan seperti survey lokasi, studi kelayakan, budgeting, membuat TOR (Term of Reference), dan membuat master plan.

  1. Design (Perancangan)

Setelah direncanakan, tahap selanjutnya adalah proses desain yang mencakup 3 kegiatan utama, yaitu :

  • Preliminary Design (Pra-Rancangan) : membuat kriteria desain, skematik desain, diagram blok plan, rencana tapak, gambar potongan, denah, site plan tata ruang, dan estimasi biaya.

  • Design Development (Pengembangan Rancangan) : membuat perhitungan detail  baik struktur maupun non struktur, membuat gambar detail arsitektur, elektrikal, struktur, mekanik, serta membuat estimasi biaya untuk konstruksi secara terperinci.

  • Final Design dan Construction Document : mempersiapkan dokumen dan gambar untuk tahap pelelangan.


  1. Pelelangan

Pelelangan yaitu tahap untuk melakukan pengadaan konsultan (perencanaan dan pengawas) dan pengadaan kontraktor.

  1. Construction (Pelaksanaan)

Setelah kontrak ditandatangani dan Surat Perintah Kerja (SPK) keluar, maka tahap pelaksanaan atau pembangunan konstruksi fisik sudah siap dilakukan sesuai dengan apa yang sudah dirancang. Pada pekerjaan pelaksanaan ini mencakup beberapa pekerjaan yaitu merencanakan jadwal kerja, membagi waktu secara rinci, rencana meletakkan bahan dan alat bangunan, membuat organisasi lapangan, mengadakan bahan/material, alat, dan tenaga kerja, serta pekerjaan persiapan dan pengukuran.

Risiko Proyek Konstruksi

Suatu proyek konstruksi yang tengah dijalankan juga tak lepas dari risiko yang berasal dari sumber-sumber pemicunya. Sumber risiko dapat diartikan sebagai faktor yang dapat menimbulkan kejadian yang bersifat negatif.

Sumber-sumber utama timbulnya risiko bisa berasal dari berbagai faktor. Menurut Perry & Hayes (1985) dan Curtis & Napier (1992), beberapa risiko pada proyek diantaranya adalah fisik, lingkungan, perancangan, logistik, keuangan, aspek hukum, perundang-undangan, keamanan, politik, konstruksi, dan operasional.

Lebih lanjut, John A. Rutgers juga memberikan tanggapannya akan sumber risiko pada proyek yaitu dari waktu, biaya, kinerja, perubahan desain, kenaikan suku bunga, akibat kerusakan, force majeure, dan perubahan nilai mata uang.

Secara umum, sumber risiko pada proyek bisa dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sebagai berikut.

  1. Risiko dalam Bidang Manajemen, seperti kurang tepatnya perencanaan lingkup biaya, jadwal, dan mutu, ketepatan penentuan struktur organisasi, ketelitian pemilihan personil, kurang jelasnya kebijakan dan prosedur, serta koordinasi pelaksanaan.

  2. Risiko dalam Bidang Teknis, seperti ketepatan pekerjaan, ketepatan pengadaan material, ketepatan jadwal dan kualitas konstruksi, tersedianya tenaga kerja, tersedianya tenaga ahli, dan teknologi baru dalam konstruksi.

  3. Risiko dalam Bidang Kontrak dan Hukum, seperti pasal-pasang yang kurang jelas, pengaturan pembayaran dan klaim, masalah jaminan dan garansi, lisensi dan hak paten, serta force majeure.

  4. Risiko dalam Bidang Ekonomi, Sosial, dan Politik, seperti peraturan perpajakan, situasi pasar, pelestarian lingkungan, kestabilan moneter, perijinan, realisasi pinjaman, hingga aliran kas.

Karena banyaknya risiko-risiko dalam proyek konstruksi, maka penting untuk dilakukan suatu manajemen risiko agar kerugian bisa dihindari. Manajemen risiko ini dilakukan dengan pendekatan dengan memahami, mengidentifikasi, dan mengevaluasi risiko suatu proyek. Kemudian mempertimbangkan apa yang akan dilakukan terhadap dampak yang ditimbulkan.

Melalui manajemen risiko, diharapkan ada strategi alternatif yang bisa dilakukan, yaitu :

  • Menghindari risiko tersebut,

  • Mencegah risiko dan mengurangi kerugian,

  • Meretensi risiko,

  • Mentransfer risiko, dan

  • Asuransi

Itulah hal-hal yang berkaitan dengan proyek konstruksi. Banyak hal yang dibahas dalam proyek konstruksi ini dan banyak hal pula yang harus dipertimbangkan dalam menjalankannya. Meskipun begitu, proyek konstruksi adalah kegiatan yang tak pernah surut. Hal ini karena manusia yang terus berkembang dan terus membangun. Sekalipun ada banyak risiko, proyek konstruksi tetap menjadi penting karena menyangkut kemaslahatan manusia itu sendiri. Oleh karena itulah, resiko sekecil apapun akan dihindari melalui pengkajian akan manajemen risiko proyek.


Baca juga

Cara dan Contoh Menghitung Pajak PPH pada Perusahaan Jasa Konstruksi

6 Kegunaan Sistem ERP Untuk Perusahaan Konstruksi

Poin Penting Pajak Penghasilan (PPH) Perusahaan Konstruksi yang Harus Diketahui

Cara Membuat Anggaran / Budget Proyek pada Perusahaan Kontraktor

Mengenal Manajemen Proyek (Project Management) Di Perusahaan

© 2021 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin