Perbedaan Mendasar Tentang Job order costing dan Process costing

By Ayu, 24 Februari 2019
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Terdapat berbagai macam teknik akuntansi yang digunakan untuk menghitung ongkos pasti pembuatan produk, termasuk material, upah pekerja, dan biaya overhead. Saat barang diproduksi karena pesanan, teknik perhitungan job order costing digunakan. Jika barang yang diproduksi melewati beberapa proses atau tahapan, diperlukan teknik process costing untuk menghitungnya.

Process costing secara umum digunakan pada suatu pabrik yang memproduksi barang secara tetap. Dengan kata lain, job order costing digunakan untuk menghitung biaya pengerjaan atau nilai kontrak, sementara process costing digunakan untuk menghitung ongkos tiap proses produksi.

Job order costing umumnya berisi tentang catatan pengeluaran material dan upah pekerja untuk tugas yang spesifik, termasuk biaya overhead jika pun ada. Process costing lebih diartikan sebagai biaya yang dibutuhkan tiap departemen dalam memproses suatu produk untuk tiap hari.

Job Order Costing

Job order costing merupakan metode menghitung ongkos produksi untuk suatu unit secara spesifik. Satu contoh mudah, proyek konstruksi untuk membuat satu rumah dari awal sampai akhir merupakan job order. Dalam hal ini, produk yang dihadirkan merupakan event yang hanya berjalan satu kali.

Metode penghitungan dengan job costing melibatkan akumulasi semua biaya produksi untuk membuat suatu unit. Dalam contoh konstruksi rumah, ongkos buruh yang bekerja untuk membuat satu unit rumah akan dimasukkan dalam catatan pengeluaran sebelum ditambah dengan biaya lain.

Begitu juga dengan kayu atau material lain yang dibutuhkan untuk membuat satu unit rumah. Semua informasi seperti ini nantinya dibutuhkan sebagai tagihan untuk konsumen atas pekerjaan dan material yang digunakan, juga untuk melacak keuntungan perusahaan dari satu proyek yang dijalankan.

Dalam job costing, pekerjaan yang dimaksud sangat spesifik dan kadang berupa kontrak, yang mana pekerjaan dilakukan sepenuhnya atas instruksi dan permintaan konsumen. Dengan metode ini, tiap pekerjaan dianggap sebagai entitas yang berbeda, sehingga biayanya berbeda.

Job costing seringnya dipraktikkan oleh industri yang mempunyai spesialisasi produk berdasarkan kebutuhan dan permintaan konsumen. Contoh industri semacam ini yaitu furniture, konstruksi rumah, percetakan, dekorasi interior, dan lainnya.

Process Costing

Process costing merupakan metode untuk menghitung biaya produksi massal dari suatu barang atau jasa. Satu contoh, bank menyediakan jumlah deposit yang sama untuk tiap konsumen. Dalam hal ini, bank menyediakan banyak produk dan menjualnya secara seimbang pada semua konsumen.

Perhitungan process costing melibatkan akumulasi biaya dari proses produksi panjang yang berkaitan dengan produk secara langsung. Dari contoh bank sebelumnya, dalam tiap menerima deposit bank pasti butuh uang sebagai ongkos untuk menjalankan proses, juga untuk menggaji karyawan.

Semua ongkos produksi yang sudah dikeluarkan kemudian dijumlah lalu dibagi dengan total unit produk yang sudah dibuat untuk menentukan biaya per unit. Biaya kemudian diakumulasi oleh setiap tingkatan departemen, sebelum akhirnya dijadikan salah satu materi laporan keuangan tahunan.

Dalam process costing, proses merujuk pada tahapan terpisah dari produksi yang dilakukan untuk mengubah material dasar hingga menjadi bentuk lain. Process costing umumnya diterapkan pada perusahaan yang membuat produk identik dalam jumlah banyak.

Tahapan proses produksi yang dimaksud bisa berupa apapun, misalnya secara paralel, berurutan, atau terpisah. Hasil proses pertama akan menjadi awal dari proses berikutnya, dan proses terakhir akan menghasilkan produk jadi. Karena memiliki proses berbeda, maka tiap proses dihitung secara parsial.

Secara umum, process costing lebih tepat diterapkan untuk perusahaan dengan produksi skala besar yang memproduksi barang hingga beberapa tingkatan. Beberapa contoh industri semacam ini yaitu industri baja, sabun, cat, kertas, minuman, juga lainnya.

Beda Job Order Costing dan Process Costing

Ditilik dari segi makna, job order costing merujuk pada perhitungan biaya dari suatu kontrak atau pekerjaan yang dilakukan atas permintaan klien. Sedang process costing merupakan biaya yang dikenakan untuk setiap proses yang dilakukan dalam menghasilkan suatu produk.

Dari cara menghitungnya, job order costing menghitung semua biaya yang dikeluarkan, sedang process costing hanya menghitung biaya tiap proses yang dijalani kemudian dibagi dengan banyaknya produk yang dihasilkan untuk mengetahui biaya tiap unit.

Dapat dikatakan dalam hal perbedaan cakupan biaya, bahwa job order costing menghitung pekerjaan dan process costing menghitung proses. Tak ada perpindahan uang dalam job order costing, tapi dalam process costing uang kerap berpindah tangan sesuai proses yang ditangani tiap departemen.

Perhitungan biaya job order costing umumnya dilakukan setelah pengerjaan selesai, sementara untuk process costing perhitungan dilakukan setelah semua proses selesai. Oleh karena itu, job costing banyak dipraktikkan di industri yang melayani permintaan konsumen. Untuk process costing, penerapannya lebih tepat digunakan industri dengan skala produksi besar.

Dalam proses produksinya, kesalahan atau kehilangan tidak dihitung untuk job costing. Hal berbeda terjadi untuk process costing, karena setiap kehilangan akan dihitung dan dinilai sebagai bagian dari kerugian produksi. Itu sebabnya, job costing tak mengenal pemotongan anggaran, sementara dalam process costing justru kerap terjadi.

Keunggulan dan Kelemahan Job Order Costing dan Process Costing

Satu keunggulan dari job order costing yaitu memungkinkan manajemen menghitung profit dari tiap pekerjaan yang sudah dilakukan, kemudian membantu menilai jenis pekerjaan tertentu yang akan dicari untuk masa mendatang. Untuk satu ini, bidang paling memiliki prospek yaitu kontraktor dan konsultan.

Process costing juga mempunyai nilai plus, yaitu memungkinkan manajemen memperoleh informasi detail tentang statistik produksi dari tiap departemen dalam satu lingkungan kerja. Karena sifatnya yang demikian, process costing tepat diterapkan perusahaan membuat produk yang berkelanjutan.

Meski demikian, dua jenis perhitungan biaya ini juga punya sisi lemah masing-masing. Kelemahan job order costing yaitu bahwa manajemen diharuskan mengetahui semua material dan upah pekerja yang dikeluarkan selama pengerjaan berlangsung. Sementara kelemahan process costing yaitu terlalu bergantung catatan statistik alih-alih data lapangan.

Ambil contoh jika kontraktor menggunakan sistem job order costing. Dengan sistem ini, kontraktor diharuskan paham alur pengadaan material, teknik konstruksi, instalasi listrik, termasuk mengelola makan siang dan jam kerja semua pekerja yang terlibat.

Sementara jika memakai sistem process costing, material dihitung menggunakan rata-rata unit produksi, dan pengeluaran untuk upah relatif konsisten antara periode gajian sehingga perusahaan butuh sumber dana besar untuk dapat melakukan ini.


Baca juga

Cara Mengelola dan Melunasi Hutang pada Bisnis UKM

Cara dan Contoh Perhitungan Metode FIFO, LIFO dan Average

Tips Cara Mudah Melakukan Stock Opname Dengan Efektif

8 Solusi Mengatasi Masalah Mengelola Stok Barang di Gudang

7 Cara Mudah dalam Mengelola Stok Barang di Gudang

© 2019 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin