Apa itu Bill of Lading (B/L) dalam Ekspor-Impor? Beserta Jenis dan Fungsinya

By Martina, 05 Oktober 2019
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Jika Anda adalah eksportir atau importir pasti sudah kenal dengan istilah Bill of Lading. Dokumen ini sangat penting dan menjadi identitas dari barang yang diterima atau dikirimkan di pelabuhan tempat pengiriman. Bill of Lading didefinisikan sebagai dokumen pelengkap yang menjadi bukti yang dikeluarkan oleh pihak pelayaran dari barang yang akan dikirimkan atau diterima. Biasanya dokumen Bill of lading berisi informasi yang menjelaskan identitas dari barang, pengirim dan penerima. Informasi dasar seperti Pengirim, muatan, jumlah B/L, nama pemesan, metode pembayaran dan freight. Dokumen bill of lading ini bisa disebut juga sebagai surat perjanjian pengangkutan antara penerima atau pengirim dengan pihak pengangkutnya. 

Fungsi Bill of Lading 

Setelah Anda mengetahui apa sebenarnya Bill of Lading, Anda juga dapat mengidentifikasi apa sebenarnya fungsi dari bill of lading ini. 

  1. Sebagai Bukti

Fungsi pertama dari Bill of lading adalah menjadi bukti atau tanda terima dari muatan. Biasanya bill of lading menjadi bukti bahwa barang yang akan dikirimkan sudah dimuat di atas kapal pengangkut. Sehingga muatan sudah tercatat dalam kapal dan sudah meninggalkan pelabuhan.

  1. Sebagai Dokumen Kepemilikan 

Bill of lading biasanya dimiliki oleh pemilik barang dan pengirim barang. Bagi pemilik barang yang menerima dari pelabuhan, bill of lading bisa menjadi bukti kepemilikan. Sehingga penerima barang dapat mengklaim barang di pelabuhan sesuai dengan data dan identitas yang tertulis dalam bill of lading. 

  1. Kontrak Pengangkutan 

Selain berfungsi sebagai bukti dan identitas dari barang yang dikirimkan melalui pelabuhan. Bill of Lading sendiri memiliki fungsi untuk menjadi dokumen perjanjian pengangkutan dan penyerahan barang dari pihak pengangkut kepada penerima.

Dasar Kepemilikan Bill of Lading

Sebagai dokumen yang memiliki nilai mengikat antara pengirim, pengangkut dan penerima. Dasar kepemilikan dari bill of lading ini terbagi menjadi tiga. Yaitu:

  1. Bill of Lading atas Pemegang 

Dasar kepemilikan bill of lading atas pemegang ini digunakan oleh pemilik barang yang akan menagih barang yang dikirimkan. Tetapi penggunaan Bill of lading pemegang saat ini sudah mulai jarang digunakan. Ciri utama bill of lading atas pemegang adalah adanya tanda ‘bearer’ pada dokumen bill of lading. 

  1. Made Out to Order Bill of Lading 

Pemilik bill of lading made out to order memiliki keleluasaan untuk memindahtangankan kepemilikan kepada orang lain tentu dengan adanya endorsement. Ciri utama Made out bill of lading adalah adanya kalimat “consigned to order”.  Tanda “consigned to order” biasanya akan tercantum di bagian belakang atau depan dari alamat yang dituju. 

  1. Straight Bill of Lading 

Straight bill of lading merupakan B/L yang paling umum digunakan. Mekanisme dari Straight B/L adalah pengiriman langsung kepada penerima barang. Tentu pada lembar B/L terdapat nama penerima sehingga cirinya adalah adanya kata “consigned” atau bisa juga “to”. Hal ini tentu tidak memungkinkan adanya pemindahtanganan dari pihak penerima kepada orang lain. Sehingga jika ingin melakukan hal tersebut harus melengkapi dokumen berupa surat pernyataan pemindahan hak milik. Tetapi, jika yang dilakukan endorsement. Maka, pemindahan kepemilikan tersebut akan tidak diakui. 


Jenis-Jenis Bill of Lading Berdasarkan Proses Pengiriman

Dalam mengenal jenis-jenis Bill of lading, Anda akan lebih mudah memahaminya dengan membayangkan bagaimana proses pengiriman barang. Sehingga proses dari satu pos pengiriman ke pos selanjutnya dapat tergambar dengan lebih mudah. 

  1. B/L Received for Shipment 

Seperti namanya, received for shipment adalah sebuah dokumen B/L yang menunjukan bahwa barang-barang yang akan dikirimkan sudah diterima oleh perusahaan pelayaran. Tetapi pada proses ini, barang belum dikirim atau bisa jadi belum dimuat ke kapal. Jika menggunakan B/L ini Anda harus mengetahui beberapa resikonya antara lain:

  1. Kemungkinan adanya pemindahan kapal. Sehingga yang mulanya barang akan dikirimkan menggunakan kapal A, tetapi jika menggunakan B/L ini ada kemungkinan barang akan dimuat di kapal B.

  2. Risiko pemogokan akan membuat barang-barang yang dikirimkan menjadi terbengkalai. Sehingga tidak dijamin apakah barang akan tetap dalam kondisi yang baik atau justru menjadi rusak. 

  3. Ada risiko penambahan biaya sewa gudang dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.


  1. B/L Shipped on Board

Jenis B/L ini sudah memasuki tahap selanjutnya, yaitu barang yang akan dikirimkan sudah dimuat di atas kapal. 


  1. B/L Short Form

Short form B/L merupakan bagian atau seperti catatan pelengkap untuk B/L itu sendiri. B/L Long form menunjukan catatan mengenai barang-barang yang dimuat. Tetapi dokumen ini tidak mencantumkan syarat-syarat pengangkutan. 


  1. B/L Long Form

Berbeda dengan B/L short form, B/L long form masih termasuk catatan dalam dokumen B/L. Bedanya dalam dokumen long form, syarat-syarat pengangkutan sudah terdokumentasi secara rinci. 


  1. B/L Through 

B/L through merupakan salah satu jenis B/L yang dikeluarkan dalam kondisi khusus yaitu ketika tidak adanya jasa pengiriman langsung menuju pelabuhan tujuan dan dilakukan transshipment. Maka dokumen B/L through perlu dikeluarkan. 

  1. B/L Combined Transport 

Sesuai dengan namanya, combined transport B/L akan menggunakan kombinasi jasa pengangkutan lainnya khususnya pengangkutan lewat darat. 


  1. B/L Charter Party 

Jika pengirim atau penerima barang menggunakan pengangkutan secara borongan misalnya menyewa sebagian atau seluruh kapal. Maka B/L yang digunakan adalah charter party B/L


  1. B/L Liner 

Jika Anda menggunakan kapal pengiriman yang sudah memiliki jadwal pengiriman dan jalur perjalanan yang sudah terorganisir dengan baik. Maka B/L yang digunakan adalah Liner B/L.

Jenis-Jenis Bill of Lading Berdasarkan Kondisi Barang

Bukan hanya proses pengiriman saja yang akan memengaruhi dokumen B/L. Tetapi kondisi dari barang yang akan dikirimkan juga berpengaruh pada jenis B/L yang akan dikeluarkan. Berikut jenis-jenis B/L berdasarkan kondisi barang. 

  1. Clean Bill of Lading

Jenis clean B/L akan memberikan keterangan bahwa barang yang akan dikirimkan dalam kondisi baik dan tanpa cacat. Biasanya terdapat kalimat yang menunjukan bahwa kondisi barang berada dalam kondisi baik dan pengiriman yang juga dalam kondisi siap.


  1. Stale Bill of lading

Berbeda dengan clean, Stale menunjukan bahwa barang yang dikirimkan mengalami masalah selama perjalanan. Misalnya masalah yang paling umum terjadi adalah adanya pencurian, munculnya biaya penalti dari pengusaha pelabuhan per harinya, munculnya kerusakan-kerusakan barang dan adanya penjualan menggunakan instrumen lelang umum.


Biasanya untuk mengatasi hal tersebut dengan beberapa opsi seperti:

  • Pengirim B/L akan mengizinkan pengiriman secara  langsung tanpa melalui bank kepada pembeli. 

  • Pengiriman B/L langsung kepada agen di Negara tujuan 

  • Pengiriman B/L diizinkan untuk langsung kepada kapal-kapal pengangkut. 


  1. Unclean Bill of Lading 

Kebalikan dari clean bill of lading, unclean B/L menunjukan kondisi barang yang muncul beberapa kerusakan atau tidak adanya perlindungan pada barang.



Baca juga

Ketahui Apa Itu Periode Akuntansi serta Manfaat dan Tujuannya untuk Perusahaan

Sudah Tahu Apa Itu Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda? Ketahui Tujuan dan Persyaratannya Disini!

Apa itu PPh Final dengan PPh Tidak Final? Beserta Perbedaan dan Contohnya

Apa Itu Biaya Penyusutan Aktiva?

Apa itu NOP (Nomor Objek Pajak) Suatu Usaha serta Contoh dan Cara Menghitungnya

© 2019 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin