Apa itu Net Present Value Beserta Contohnya

By Martina, 19 November 2020
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Jika Anda berurusan atau bekerja sebagai akuntan sebuah perusahaan atau instansi, maka tentu tak asing dengan arus kas. Arus kas atau cash flow merupakan aliran dana yang menunjukkan sumber dan penggunaan dana. Dalam bidang keuangan, arus kas merujuk pada jumlah uang tunai yang dihasilkan dan dikonsumsi pada suatu periode. Berkaitan dengan arus kas ini, maka ada pula yang disebut dengan Net Present Value. Apa itu Net Present Value?


Pengertian Net Present Value

Istilah Net Present Value dalam ilmu ekonomi dikenal sebagai selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang sudah didiskon menggunakan diskon faktor yang disebut social opportunity cost of capital.  Secara sederhana, Net Present Value atau yang biasa disingkat NPV bisa diartikan sebagai perkiraan keuntungan pada masa mendatang setelah menanamkan modal saat ini. Dalam artian lain, NPV menjadi selisih antara arus kas masuk pada saat ini dengan nilai arus kas keluar pada periode tertentu.


NPV sendiri biasanya dipakai untuk alokasi modal dalam hal menganalisis atau memprediksi keuntungan sebuah proyek. Artinya, jika NPV bernilai positif maka proyeksi pendapatan dari suatu proyek atau investasi melebihi dari proyeksi biaya yang dikeluarkan. Begitupun sebaliknya, jika NPV bernilai negatif maka proyeksinya adalah kerugian.


Berdasarkan penjelasan akan pengertian NPV di atas, maka NPV sangat bermanfaat dalam sebuah bisnis. NPV menjadi pertimbangan pengambilan keputusan karena menjadi proyeksi investasi yang dijalankan. Tidak hanya memprediksi untung atau tidaknya, tetapi juga menjadi acuan menghitung besaran margin keuntungannya.  Dari perhitungan itu pula, pengusaha bisa membandingkan antara keuntungan dengan effort yang harus mereka keluarkan, layak atau tidak. 


Lantas seperti apa kelayakan investasi tersebut berdasarkan nilai NPV-nya? Hal ini bisa dilihat melalui penjelasan berikut.

  1. Jika nilai NPV > 0, maka investasi yang hendak dijalankan diperkirakan akan mendapat keuntungan sehingga proyek layak untuk dijalankan.

  2. Jika nilai NPV = 0, maka investasi yang hendak dijalankan diperkirakan tidak mendapat keuntungan tetapi juga tidak merugi, artinya keputusan investasi pada proyek bisa didiskusikan kembali. Diskusi ini juga dilakukan untuk melihat apakah ada kemungkinan keuntungan lain yang bisa didapat.

  3. Jika nilai NPV < 0, maka investasi yang hendak dijalankan diperkirakan akan mendapat kerugian, artinya investasi tidak layak dilakukan atau sebaiknya dibatalkan.


Berdasarkan ketiga kriteria tersebut, jelas bahwa semakin besar nilai NPV yang didapat, maka semakin besar peluang keuntungan yang bisa didapat. Artinya, NPV tidak sekedar untuk mengetahui untung rugi investasi, melainkan juga membandingkan investasi mana yang lebih baik untuk dipilih antara dua atau lebih pilihan. Namun yang perlu diingat bahwa NPV hanya prediksi yang artinya tidak selalu akurat. Hal tersebut lantaran persamaannya tergantung pada banyak asumsi dengan realisasi yang tidak mudah untuk diprediksi.


Rumus Net Present Value

Hal yang perlu diketahui adalah bahwa rumus NPV bisa dikatakan rumit lantaran harus menambahkan semua arus kas di masa depan dari sebuah investasi, lalu diskon arus kas dengan tingkat diskonto, dan menguranginya dengan investasi awal. Secara matematis, rumus NPV tersebut dituliskan sebagai berikut.

NPV = (C1/(1+r)) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + ... + (Ct/(1+r)t) – C0

Dengan :

NPV = Net Present Value

Ct = Arus kas per tahun pada periode t

C0 = Nilai investasi awal di tahun ke 0

r = Suku bunga atau persentase diskon (%)


Selain dari rumus diatas, menghitung NPV juga bisa menggunakan tabel PVIFA (Present Value Interest Factor for an Annuity). Hal ini cukup mudah karena hanya dengan memasukan ke persamaan berikut,

NPV = (Ct x PVIFA(r)(t)) – C0


Tabel dari PVIFA tersebut adalah sebagai berikut.

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\82. Ukirama\3a.png


Contoh Menghitung NPV

Agar lebih mudah memahami bagaimana cara menghitung NPV, berikut adalah contoh kasusnya.

Sebuah perusahaan produsen makanan kaleng PT.XYZ hendak membeli mesin produksi baru dalam rangka meningkatkan jumlah produksi. Mesin produksi tersebut memiliki harga Rp100 juta dengan suku bunga pinjaman 12% per tahun. Perusahaan tersebut mengestimasikan arus kas masuk sekitar Rp50 juta per tahun dalam jangka waktu lima tahun. Lantas, apakah pembelian mesin produksi tersebut layak untuk dilanjutkan?


Berdasarkan informasi di atas, maka diketahui Ct = 50 juta, C0 = 100 juta, dan r = 12% atau 0,12. Maka untuk mengetahui kelayakan investasi, data di atas bisa langsung dimasukkan ke dalam rumus NPV.

NPV =   (C1/(1+r)) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + (C4/(1+r)4) + (C5/(1+r)5) – C0

NPV = (50/1 +0,12) + (50/(1+0,12)2) + (50/(1+0,12)3) + (50/(1+r0,12)4) + (50/(1+r0,12)5) – 100

NPV = (44,64 + 39,86 + 35,59 + 31,78 + 28,37) – 100

NPV = 180,24 – 100

NPV = 80,24


Berdasarkan rumus NPV tersebut, maka diketahui nilainya adalah Rp80,24 juta. Hal ini menunjukkan bahwa investasi terhadap mesin produksi diprediksi menguntungkan perusahaan. 


Jika di penyelesaian di atas menggunakan rumus NPV, maka contoh berikut adalah penghitungan dengan menggunakan tabel PVIFA. 


Diketahui dari soal, suku bunga r adalah 12% dan periode t adalah 5 tahun. Berdasarkan dua informasi ini, maka bisa langsung dilihat pada tabel nilai untuk 12% dan 5 tahun ialah 3,6048. Angka ini kemudian langsung bisa dimasukkan pada rumus,

NPV = (Ct x PVIFA(r)(t)) – C0

NPV = (50 x 3,6048) – 100

NPV = 180,24 – 100

NPV = 80,24


Maka didapatkan hasil yang sama seperti rumus sebelumnya, yaitu Rp80,24 juta. 


Pertanyaan berikutnya adalah, apa makna dari Rp80,24 juta ini? Maksud dari angka yang didapat dalam perhitungan NPV adalah bahwa mesin produksi yang dibeli bisa menghasilkan sekitar Rp 80,24 juta sesudah pelunasan pembelian dan bunganya.


Itulah penjelasan tentang Net Present Value. Menghitung NPV ini sangat berguna agar perusahaan bisa melakukan proyeksi untung-rugi dalam melakukan investasi. Pemahaman akan NPV ini sangat penting dimiliki tidak hanya bagi jajaran manajerial tetapi tentunya juga bagi akuntan. Untuk itu, perlu pula bantuan software khusus akuntansi agar pekerjaan yang berkaitan dengan akuntansi dan keuangan bisa dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.


Baca juga

Pengertian dan Perbedaan Gross Profit Margin dan Nett Margin Serta Contoh Cara Menghitungnya

Pahami Strategi-Strategi Penetapan Harga dan Manfaatnya Dalam Produksi Barang Penjualan

Definisi Aset Operasi Bersih (Nett Operating Asset) beserta Contohnya

Perbedaan Penghasilan Netto dan Penghasilan Bruto serta Cara Penulisannya dalam Akuntansi

Apa itu Minimum Order Quantity, Manfaat dan Cara Menghitungnya

© 2020 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin