Apa Saja yang Dibutuhkan dan Cara Membuat Jurnal Penutup Perusahaan Dagang

By Martina, 13 Januari 2020
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Setiap akhir periode, perusahaan pasti akan melaporkan berbagai jenis laporan akuntansi. Termasuk pada perusahaan dagang, salah satu laporan akhir yang wajib disediakan adalah jurnal penutup. Ini merupakan laporan yang posisinya sangat krusial sehingga wajib dipahami oleh setiap akuntan di perusahaan bersangkutan.


Jurnal Penutup merupakan jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi dan digunakan untuk menutup tahapan dalam siklus akuntansi perusahaan dagang. Hal-hal yang ditutup adalah semua akun nominal sementara seperti akun pendapatan, akun beban, akun prive, dan akun ikhtisar laba rugi. Oleh karena ditutup, maka saldo akun-akun tersebut akan menjadi nol kembali pada awal periode akuntansi berikutnya.


Lantas bagaimana spesifikasi jurnal penutup pada perusahaan dagang? Apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana cara membuatnya? Untuk menjawab hal ini, berikut pembahasan lebih jelasnya.

Jurnal Penutup Perusahaan Dagang

Layaknya jurnal penutup lainnya, jurnal penutup pada perusahaan dagang juga merupakan bagian dari siklus akuntansi. Jurnal penutup perusahaan dagang juga memiliki kesamaan dengan jurnal penutup perusahaan jasa berdasarkan beberapa hal seperti adanya penutupan penjualan. Jadi, jurnal penutup pada perusahaan dagang berguna untuk menutup akun-akun nominal perusahaan. Nilai perkiraan sementaranya akan menjadi nol dan selanjutnya dipindahkan ke perkiraan modal atau ke perkiraan laba ditahan.


Lantas mengapa akun nominal tersebut harus ditutup? Alasannya tak lain karena sifatnya yang sementara alias hanya sesuai pada periode yang berjalan dan tidak lagi relevan untuk periode berikutnya. Dalam perusahaan dagang, akun-akun nominal yang harus ditutup tersebut diantaranya ialah akun penghasilan, akun beban, akun potongan penjualan, akun retur penjualan, akun laba-rugi, harga pokok penjualan, dan akun prive.


Selain beberapa hal di atas, jurnal penutup juga berperan sebagai jurnal entri khusus laporan laba ditahan. Fungsinya untuk memastikan saldo pada laporan laba ditahan dan neraca pada kondisi yang sesuai dengan saldo akhir laba di buku besar. Pada intinya, jurnal penutup akan menyajikan informasi keadaan yang sebenarnya suatu perusahaan setelah dilakukan penutupan buku.

Hal-hal yang Dibutuhkan untuk Membuat Jurnal Penutup pada Perusahaan Dagang

Dalam membuat Jurnal Penutup pada perusahaan dagang, terdapat 4 hal berupa kelompok akun utama yang butuh dipersiapkan. Keempat kelompok akun tersebut adalah :

  1. Akun nominal dengan saldo normal kredit, seperti akun penjualan dan pendapatan diluar usaha

  2. Akun nominal yang memiliki saldo normal debit, seperti akun Harga Pokok Penjualan, potongan penjualan, retur penjualan, dan beban-beban

  3. Akun ikhtisar laba rugi

  4. Akun Prive jika ada


Kebutuhan akun-akun pada perusahaan dagang ini sebenarnya sama dengan akun yang dibutuhkan untuk membuat jurnal penutup pada perusahaan jasa. Hanya saja ada sedikit perbedaan yaitu pada akun yang ditutup untuk akun nominal yang memiliki saldo normal di debit dan saldo nominal di kredit. Untuk perusahaan dagang, akun nominal yang akan di debit yaitu akun HPP, potongan penjualan, dan sebagainya. Sedangkan akun nominal yang memiliki saldo normal di kredit yaitu untuk akun penjualan barang dagang.

Cara Membuat Jurnal Penutup pada Perusahaan Dagang

Setelah menyiapkan akun-akun yang dibutuhkan di atas, berikut akan dijabarkan bagaimana cara membuat jurnal penutup untuk perusahaan dagang.

  1. Menutup akun pendapatan dengan mentransfer saldo kredit di akun pendapatan ke akun kliring yang dikenal sebagai ringkasan pendapatan.

  2. Menutup semua rekening biaya dan akun kontra pendapatan dengan mentransfer saldo debit dalam akun pengeluaran dan akun kontra pendapatan ke akun ringkasan pendapatan.

  3. Menutup akun ringkasan pendapatan dengan mentransfer saldo di akun ringkasan pendapatan ke akun laba ditahan.

  4. Menutup akun dividen dengan mentransfer saldo debet dari akun dividen ke akun laba ditahan.

Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang cara membuat jurnal penutup untuk perusahaan dagang ini, berikut contoh kasus penerapannya. Perusahaan ABC memiliki saldo laba ditahan sebesar Rp 300.000.000 dengan data akun-akun lainnya adalah sebagai berikut:

Neraca Saldo

Debit

Kredit

Laba Ditahan

50.000.000


Dividen

10.000.000


Pendapatan Penjualan


300.000.000

Diskon Penjualan

5.000.000


Retur Penjualan

3.000.000


Pendapatan Bunga


150.000.000

HPP

200.000.000


Biaya Operasional

50.000.000


Biaya Administrasi

70.000.000


Biaya Bunga

200.000



Setelah mengetahui data-data di atas, maka selanjutnya adalah tahap pembuatan jurnal penutupannya:

  1. Menutup Akun Penjualan yang punya Posisi Saldo di Kredit

Berdasarkan data tabel di atas, maka diketahui bahwa ada dua akun yang berada di sisi kredit yakni pendapatan penjualan dan pendapatan bunga.

Pendapatan Penjualan

300.000.000


Pendapatan Bunga

150.000.000


    Ringkasan Pendapatan


450.000.000


  1. Menutup Akun Biaya-Biaya dan Kontra-Pendapatan

Berdasarkan data tabel, maka didapat bahwa akun yang akan ditutup adalah diskon penjualan, retur penjualan, biaya operasional, biaya administrasi, dan biaya bunga.

Ringkasan Pendapatan

128.200.000


    Diskon Penjualan


5.000.000

    Retur Penjualan


3.000.000

    Biaya Operasional


50.000.000

    Biaya Administrasi


70.000.000

    Biaya Bunga


200.000


  1. Menutup Akun Ringkasan Pendapatan ke Laba Ditahan

Selanjutnya adalah menutup akun ringkasan pendapatan ke posisi laba ditahan. Namun sebelumnya, akun ringkasan pendapatan di debit dan kredit harus disesuaikan dahulu yaitu nilainya harus sama dengan nominal laba atau rugi bersih pada laporan laba ruginya.

Ringkasan Pendapatan

(450.000.000 - 128.200.000)

321.800.000




321.800.000


  1. Menutup Akun Dividen ke Laba Ditahan

Oleh karena dividen merupakan penghasilan hak investor, maka nilainya harus dikurangkan atau didebit dari akun ekuitas laba ditahan.

Laba Ditahan

10.000.000


    Dividen


10.000.000


Setelah semua langkah di atas, maka bisa didapatkan Laporan Laba Ditahan dari Perusahaan ABC.

Saldo Awal Laba Ditahan (pada 1 Januari)

300.000.000

Laba Bersih (+)

321.800.000

Dividen (-)

10.000.000

Laba Ditahan (pada 31 Desember)

611.800.000


Setelah semua data tersebut didapat, maka selanjutnya adalah mengerjakan Jurnal Penutup. Berikut adalah contoh sederhananya saja. Data yang diisi pada tabel ini harus  disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan dagang.

Tanggal

Keterangan

Debit

Kredit

31 Des

Penjualan

300.000.000



Retur Penjualan

3.000.000



Pendapatan Bunga

150.000.000



    Ikhtisar Laba-Rugi


453.000.000

31 Des

Ikhtisar Laba Rugi

323.200.000



    HPP


200.000.000


    Retur Penjualan


3.000.000


    Biaya Operasional


50.000.000


    Biaya Administrasi


70.000.000


    Biaya Bunga


200.000

31 Des

Modal

100.000.000



    Prive


100.000.000


Demikianlah penjelasan tentang Jurnal Penutup pada perusahaan dagang. Ilmu dan pengetahuan tentang jurnal penutup ini memang wajib dimiliki oleh setiap akuntan karena menjadi syarat menyusun laporan keuangan. Namun agar pekerjaan menjadi lebih efektif, Anda bisa menggunakan aplikasi atau software khusus akuntansi dari Ukirama ERP yang lengkap dan terintegrasi.


Baca juga

Cara dan Contoh Laporan Laba Rugi dan Jurnal Penutup Pada Perusahaan Dagang

Perbedaan dan contoh Jurnal Penyesuaian, Jurnal Penutup dan Jurnal Pembalik

Perbedaan Jurnal Pengeluaran dengan Jurnal Pembelian Beserta Cara dan Contoh

Cara Membuat Jurnal Pembelian yang Ada Potongan Pembeliannya

Cara dan Contoh Membuat Jurnal Penerimaan Kas (Buku Kas Masuk) dan Jurnal Pengeluaran Kas (Buku Kas Keluar)

© 2020 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin