Ketahui Metode dan Cara Menghitung Moving Average Cost (Pergerakan Biaya Rata-Rata)

By Martina, 17 November 2020
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Ketika memulai berbisnis, salah satu aset yang krusial adalah persediaan barang. Artinya, perlu diketahui metode dan cara mengukur baik nilai moneter maupun nilai buku dari persediaan agar sinkron dengan laporan keuangan.


Salah satu metode costing untuk menentukan nilai harga pokok penjualan serta nilai persediaan adalah moving average cost atau pergerakan biaya rata-rata. Dengan metode ini, akan ditemukan pergerakan biaya rata-rata yang berlaku ke hampir semua barang.


Cara Menghitung Moving Average Cost

Formula yang digunakan untuk menghitung moving average cost adalah:


((Jumlah barang awal x Harga rata-rata) + (Jumlah barang masuk x Harga barang masuk)) / (Jumlah barang awal + Jumlah barang masuk)


Dalam metode moving average cost, harga rata-rata setiap barang dihitung ulang setiap kali pembelian barang selesai. Harga rata-rata ini kemudian dihitung dengan cara membagi nilai barang dengan jumlah barang yang tersedia. Dari situlah ditemukan harga rata-rata, seluruhnya bisa diberlakukan ke setiap barang.


Contoh cara menghitung Moving Average Cost adalah:

Barang: 10 botol minyak goreng ukuran 2 liter (harga Rp20.000)

Penjualan: 3 botol

Pembelian berikutnya: 5 botol (harga Rp25.000)


Pembelian

Barang Terjual

Balance

Barang Masuk

Harga

Total

Barang Keluar

Harga

Total

Stok

Harga

Total

10

20.000

200.000

3

20.000

60.000

7

20.000

140.000

5

25.000

125.000













12

22.083

265.000


Berdasarkan penghitungan di atas, perusahaan memiliki stok 10 minyak goreng yang dibeli dengan harga Rp20.000. Saat stok tinggal 7, perusahaan kembali membeli 5 minyak baru dengan harga Rp25.000.


Dengan demikian, stok minyak goreng saat ini adalah 12 botol dengan harga rata-rata per unit Rp22.083. Angka ini ditemukan setelah dihitung dengan metode moving average cost.


Umumnya, metode seperti ini digunakan perusahaan dengan model usaha seperti supermarket. Alasannya karena harga pembelian bahan baku minyak goreng setiap periodenya bisa berbeda-beda akibat berbagai faktor.


Pentingnya Menghitung Moving Average Cost

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang apapun harus memastikan produknya terjual sehingga stok atau inventaris yang dimiliki bisa terjual. Jika jumlah produk yang diperjualbelikan masih sedikit, tentu mudah menghitungnya satu-persatu.


Namun, tidak demikian halnya bagi perusahaan yang inventarisnya tidak bisa dihitung satuan. Misalnya jika barang yang dijual berupa cairan, kacang-kacangan, gas, minyak mentah, atau kabel. Contoh-contoh barang itu biasanya dihitung dalam kuantitas besar.


Untuk menggambarkan pentingnya moving average cost, ilustrasinya adalah sebuah perusahaan yang menjual bensin. Stok yang tersedia saat ini adalah sekitar 50 galon. Di saat bersamaan, sedang dipesan 200 galon yang baru. Tentunya, mustahil menyimpan stok bensin lama dan baru secara terpisah.


Tak hanya itu, harga beli bensin yang lama dan baru juga berbeda. Di sinilah saat metode moving average cost diaplikasikan. Beberapa manfaat dari metode moving average cost adalah:


  1. Menetapkan harga jual

Tujuan utama metode ini adalah agar dapat menghitung harga jual baru dengan tepat sesuai dengan harga beli, baik untuk produk yang lama maupun baru. Dengan demikian, profit yang diterima pun akan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan.


Itu sebabnya, angka dari moving average cost ini harus segera diperbaharui setelah barang pesanan baru telah diterima. Hasil kalkulasi moving average cost akan diterapkan pada seluruh penjualan berikutnya dan laporan keuangan.


  1. Memantau posisi finansial perusahaan

Lebih jauh lagi, adanya moving average cost juga membantu memantau posisi finansial perusahaan. Penghitungan ini digunakan saat pencatatan inventaris dan memasukkan data aset. Seluruh nilai penjualan yang dihitung dalam moving average cost akan berpengaruh terhadap penghitungan keuntungan kotor. 


  1. Memastikan pencatatan akurat

Nilai moneter inventaris dari sebuah perusahaan atau bisnis harus terus dipantau secara akurat. Semakin sehat pengelolaan inventaris sebuah perusahaan, akan semakin mudah memenuhi kebutuhan dari konsumen.


Metode moving average cost memungkinkan pemilik bisnis untuk melakukan kalkulasi ulang inventaris setelah ada barang masuk yang baru. Hal ini dapat membantu perusahaan menentukan estimasi nilai moneter inventaris secara keseluruhan.


  1. Metode konservatif yang aman

Metode valuasi inventory moving average cost ini merupakan pilihan antara metode first in, first out (FIFO) dan last in, first out (LIFO). Bagi pebisnis, pilihan metode moving average cost dapat dikatakan opsi yang aman sekaligus konservatif dalam membuat laporan finansial perusahaan.


Menghitung Moving Average Cost

Jika terdengar rumit, sebenarnya metode moving average cost ini justru membantu perusahaan dalam hal penetapan harga. Setiap perubahan harga beli bahan baku atau barang dari supplier akan berpengaruh terhadap harga jual terkini dalam bisnis Anda.


Adanya aplikasi berbasis cloud untuk manajemen stok, kontrol pembelian dan penjualan, serta pencatatan akuntansi seperti Ukirama akan memudahkan seluruh proses penghitungan moving average cost atau pergerakan biaya rata-rata.


Selain itu, menggunakan metode berbasis cloud akan menghindari kesalahan dari pekerjaan manual yang memakan waktu serta energi. Operasi penghitungan moving average cost dapat dilakukan secara otomatis atau terkomputerisasi.


Mengingat moving average cost ini berubah setiap kali ada pembelian baru, metode ini hanya bisa diaplikasikan pada pembukuan inventaris secara perpetual atau terus menerus. Metode moving average cost tidak bisa digunakan jika sistem pembukuan inventaris bersifat periodik.


Meski demikian, ada perlakuan khusus ketika stok sedang negatif. Biasanya, ini terjadi pada bisnis yang harus menyimpan bahan baku terlebih dahulu sebelum menjual ke konsumen. Bisnis yang made to order jarang memiliki stok negatif karena bahan baku dibeli berdasarkan jumlah pesanan yang telah masuk.


Dalam bisnis semacam ini, penghitungan moving average cost tidak berlaku untuk stok negatif atau minus saat dilakukan penghitungan ulang. 


Bila disimpulkan, moving average cost adalah metode penghitungan yang akurat dan sederhana untuk inventaris sebuah bisnis. Anda bisa dengan mudah memantau moving average cost produk yang dimiliki dalam laporan.


Jangan lupa jika bisnis sudah berkembang semakin besar, gunakan software yang dapat menghitung serta revaluasi secara otomatis. Dengan demikian, proses penghitungan dengan metode moving average cost tidak akan menghabiskan terlalu banyak sumber daya. Kedepannya, proses penghitungan otomatis ini akan sangat membantu perusahaan.


Baca juga

Definisi dan Contoh Cara Menghitung Biaya Operasi (Operating Cost)

Pengertian dan Contoh Cara Menghitung Biaya Overhead Pabrik (Manufacturing Overhead Costs)

Pengertian dan Perbedaan dari Joint Cost (Biaya Bersama) dengan Joint Product Cost (Biaya Produk Bersama)

Definisi dan Perbedaan Akun Biaya (Cost) dan Beban (Expense) Beserta Contohnya

Cara Analisis CVP (Cost Volume Profit) dalam Akuntansi Manajemen Biaya beserta Contohnya

© 2020 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin