Mengenal Elemen Struktur Biaya (Cost Structure) dalam Bisnis Perusahaan

By Martina, 05 Juni 2021
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Setiap pelaku usaha maupun mereka yang masih dalam tahap merencanakan bisnisnya pasti sudah tahu seberapa penting kemampuan mengelola keuangan yang baik untuk dapat dimiliki oleh setiap para pengusaha. Hal ini karena modal yang dimiliki perusahaan merupakan jantung bisnis. Sebaik apapun strategi pemasaran serta operasional bisnis yang akan dijalankan, tanpa modal maka bisnis tersebut tidak akan bisa berjalan. Oleh karena itu, banyak orang yang belajar mengenai manajemen bisnis di universitas dengan harapan mereka bisa mendapatkan banyak ilmu yang bisa diterapkan pada bisnisnya. 


Akan tetapi, bisa dikatakan dunia bisnis kejam. Mereka yang mempunya ilmu cara mengelola bisnis yang baik pun belum tentu bisa sukses apalagi pengusaha yang tidak memiliki dasar ilmunya sama sekali. Setelah laporan akuntansi, hal selanjutnya yang patut untuk dipahami oleh setiap pebisnis maupun yang akan segera menjadi pebisnis adalah mengetahui bagaimana caranya mengelola modal yang dimiliki agar dapat teralokasikan dengan baik dan dapat dimanfaatkan untuk mendorong perkembangan perusahaan.


Mempelajari dan memahami apa yang dimaksud dengan Struktur Biaya atau yang dikenal juga sebagai Cost Structure akan membantu pelaku usaha untuk dapat menganalisa transaksi yang dilakukan.


Mengenal Struktur Biaya (Cost Structure)

Bagi pelaku usaha yang baru saja menginjakkan kakinya di dunia bisnis, istilah Struktur Biaya atau Cost Structure belum pernah mendengarnya. Struktur Biaya (Cost Structure) disini mengacu pada berbagai jenis biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan selama operasional bisnisnya dan biasanya terdiri dari dua jenis, yaitu biaya tetap dan variabel.


Biaya tetap atau Fixed Cost merupakan biaya yang tidak akan berubah terlepas dari jumlah output yang diproduksi oleh perusahaan. Berkebalikan dengan biaya tetap, biaya variabel sifatnya berubah-ubah sesuai dengan volume produksi yang dihasilkan oleh perusahaan.


Dalam setiap operasional bisnis, selalu ada pengeluaran yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan tanpa terkecuali dengan beberapa jenis biaya. Namun, struktur biaya yang diperuntukkan bagi perusahaan bisa berbeda-beda tergantung dari industri perusahaan tersebut beroperasi. Contohnya seperti perusahaan yang bergerak di bidang grosir dan penyedia layanan, struktur biaya yang dimiliki berbeda sehingga akun pengeluaran yang muncul pada laporan keuangannya akan bergantung pada objek dari biaya tersebut, seperti pelanggan, layanan, aktivitas bisnis maupun proyek. Tidak hanya dalam industri yang berbeda, bahkan struktur biaya di dalam suatu perusahaan bisa jadi bervariasi antara lini produk, divisi, atau juga unit bisnis, yang diakibatkan oleh aktivitas operasional bisnis yang dilakukan.


Fixed Cost vs Variable Cost

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa ada dua jenis biaya yang ada pada struktur biaya, yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Jika biaya tetap merupakan biaya yang tidak akan berubah terlepas dari besaran hasil produksi perusahaan, biaya variabel akan berbeda tergantung dari volume produksi perusahaan tersebut. 


Biaya tetap (fixed cost) juga memiliki sifat yang selalu ada dan tidak mungkin berfluktuasi seiring waktu. Contoh dari biaya tetap adalah biaya overhead seperti biaya sewa, pajak properti, penyusutan aset tetap, dan biaya bunga. Salah satu contoh khusus dari biaya tetap adalah biaya tenaga kerja langsung atau gaji karyawan. Meskipun pada beberapa perusahaan biaya tenaga kerja langsung ini cenderung bervariasi sesuai dengan jumlah jam kerja seorang karyawan, biaya tersebut masih dapat dikatakan relatif stabil. Oleh karenanya, biaya tenaga kerja langsung atau gaji karyawan dapat dikategorikan sebagai biaya tetap.


Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang besarnya berbeda-beda tergantung dari hasil produksi yang dimiliki oleh perusahaan. Contoh untuk biaya variabel seperti biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan baku langsung, bonus, komisi, dan utilitas, serta biaya pemasaran. Pada umumnya, yang termasuk ke dalam biaya variabel lebih beragam daripada biaya tetap. Bagi perusahaan yang bisnisnya menjual produk, salah satu dari biaya variabel yang dikeluarkan adalah bahan baku langsung, upah borongan, dan komisi. Sedangkan bagi perusahaan yang bisnisnya menyediakan layanan kepada konsumen, yang termasuk ke dalam biaya variabelnya terdiri dari biaya perjalanan, gaji, dan bonus. Pada perusahaan yang berbasis proyek, biaya seperti gaji karyawan atau tenaga kerja langsung serta pengeluaran proyek lainnya tergantung pada jumlah jam yang digunakan pada masing-masing proyek.


Apakah Cost Allocation dan Cost Pool Sama Dengan Cost Structure?

Jika membahas tentang Cost Structure atau Struktur Biaya, ada kalanya Cost Allocation dan Cost Pool juga turut disebut. Hal ini bisa jadi membingungkan bagi pelaku usaha yang masih mempelajari dunia bisnis.


Seperti namanya, Cost Allocation atau Alokasi Biaya merupakan sebuah proses mengidentifikasi biaya yang muncul, dan kemudian mengalokasikannya ke objek biaya yang tepat, seperti lini layanan, proyek, unit bisnis, lini produk, pelanggan, dan juga departemen) berdasarkan hal-hal tertentu yang terukur. Biasanya alokasi biaya ini digunakan untuk mengalokasikan biaya di antara objek biaya yang berbeda untuk dapat menghitung keuntungan atau profit yang didapat oleh perusahaan, misalnya, lini produk yang berbeda.


Sedangkan Cost Pool atau Kumpulan Biaya merupakan pengelompokkan biaya individu dari biaya yang sebelumnya telah dialokasikan. Contoh dari kumpulan biaya seperti biaya pemeliharaan, biaya overhead, dan biaya tetap lainnya. Pada umumnya, perusahaan akan menggunakan alokasi berbasis biaya tunggal seperti jam kerja atau jam operasional mesin untuk mendistribusikan biaya dari kumpulan biaya tersebut ke objek biaya yang telah ditentukan.


Kategori Struktur Biaya (Cost Structure)

Setidaknya ada dua kategori utama dalam struktur biaya (cost structure), yaitu value-driven dan cost-driven.


Fokus dari struktur biaya yang digerakkan oleh nilai adalah menciptakan nilai lebih dalam produk itu sendiri. Pada kategori ini, karena yang menjadi perhatian utamanya adalah nilai produk atau kualitas, maka perusahaan tidak harus menghasilkan produk dengan menekan biaya serendah mungkin. Contoh perusahaan yang menggunakan struktur biaya yang berfokus pada nilai produk adalah Prada, Hermes, Rolex, dan barang mewah lainnya.


Berlawanan dengan struktur biaya yang berfokus pada nilai produk, kategori kedua yaitu struktur biaya yang berfokus pada biaya yang dikeluarkan digerakkan oleh meminimalkan biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan atau layanan sebanyak mungkin. Contoh perusahaan yang menggunakan struktur biaya ini adalah Walmart.


Baca juga

Apa Itu Biaya Utang (Cost of Debt) dan Cara Menghitungnya

Ketahui Metode dan Cara Menghitung Moving Average Cost (Pergerakan Biaya Rata-Rata)

Tips Cara Mengelola Biaya Perusahaan

Definisi dan Jenis Klasifikasi Biaya dalam Akuntansi Secara Lengkap

Kenali Cara Pencatatan Klaim Biaya (Reimburse) dalam Laporan Keuangan

© 2021 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin