Mengenal Pendekatan Agile dalam Manajemen Proyek

By Aulia, 01 Maret 2022
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Sejak banyak bermunculan startup, metode agile juga banyak diperbincangkan oleh pengusaha. Dalam bisnis diperlukan agile atau kecepatan dan kemampuan dalam merespon konsumen dan perubahan pasar. Agile juga diperlukan dalam manajemen sebuah proyek dan pengembangan perangkat lunak. Dengan memahami pendekatan agile, Anda bisa merespon perubahan dengan cepat. 


Pengertian Agile


Agile adalah metode pengembangan perangkat lunak yang didasarkan pada pengukuran berulang, aturan dan solusi yang sudah disepakati agar membantu tim memberikan nilai kepada konsumen dengan lebih cepat dan mudah. Agile diperlukan untuk mengelola proyek pengembangan perangkat lunak yang berfokus pada rilis berkelanjutan dan menggabungkan umpan balik pelanggan dengan setiap iterasi. Tim pengambang perangkat lunak yang menggunakan metode agile akan mampu memperluas kolaborasi dan menumbuhkan kemampuan untuk merespons tren pasar dengan lebih baik. Konsumen dan pasar mengalami perubahan dengan cepat sehingga membutuhkan respon yang cepat pula. 


Dalam pendekatan agile, tim harus mampu meningkatkan kepuasan konsumen melalui pengiriman perangkat lunak bernilai tambah yang berkelanjutan, dengan tetap berkomunikasi secara konstan dengan klien. Selain itu, tim juga harus berfokus pada komunikasi antara anggota tim agar koordinasi berjalan lancar. 


Dengan menerapkan pendekatan agile, tim akan bisa memiliki fleksibilitas tinggi untuk melakukan penyesuaian dan pengembangan proyek. Manajemen proyek yang menggunakan pendekatan agile juga merupakan landasan praktik DevOps, di mana tim pengembangan dan operasi bekerja secara kolaboratif. Saat ini, Agile telah menjadi metodologi yang terkenal da pilihan banyak orang, terutama mereka yang mencoba menciptakan lingkungan pengiriman berkelanjutan.


Sejarah Agile


Sebelum metodologi agile muncul, orang-orang yang berada dalam dunia industri menggunakan pendekatan waterfall. Metodologi waterfall adalah pendekatan manajemen proyek linier, dimana persyaratan pemangku kepentingan dan pelanggan dikumpulkan di awal proyek, dan kemudian membuat rencana proyek secara berurutan untuk mengakomodasi persyaratan tersebut. Karena metode tersebut dianggap tidak fleksibel dan tidak bisa menanggapi respon serta perubahan pasar yang cepat, maka sekelompok besar tim pengembangan perangkat lunak mulai merencanakan pendekatan baru di tahun 1990an. Salah satu tokoh yang menggagas munculnya metode baru yang lebih fleksibel adalah Jon Kern. Lalu di awal tahun 2000-an, Jon Kern dan kelompoknya yang terdiri dari 17 pengembang perangkat lunak mengadakan pertemuan di Oregon. Mereka melakukan brainstorming ide untuk mempercepat pengembangan untuk membawa perangkat lunak baru lebih cepat ke pasar. Setelah pertemuan tersebut, mereka mengeluarkan manifesto agile. Isi manifesto agile antara lain:


Kepuasan pelanggan adalah prioritas utama, ditunjukkan melalui pengiriman berkelanjutan dan nilai tambah.

Perubahan pada persyaratan harus diterima  daripada mengejar persyaratan yang “kaku”, meskipun perubahan itu terjadi pada tahap akhir pengembangan. 


Pelanggan dan tim pengembang harus bekerja sama setiap hari untuk memfasilitasi sinkronisasi tim dan produk.

Menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan dukungan bagi tim pengembang adalah hal yang penting agar mereka termotivasi.

Momen retrospektif di dalam tim sangat penting, memungkinkannya melakukan penyesuaian yang diperlukan dan meningkatkan efisiensi.

Proses tangkas mendorong pembangunan berkelanjutan karena ritme konstan dan keunggulan teknisnya, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas.


Sejak saat itu, pendekatan agile yang didasarkan pada manifesto tersebut telah digunakan banyak perusahaan. Bukan hanya perusahaan perangkat lunak, perusahaan yang bergerak di bidang retail dan manufaktur pun mulai menerapkan pendekatan ini. Perusahaan pertama yang menerapkan pendekatan agile adalah Toyota, tepatnya di akhir 70an. Kini, perusahaan raksasa seperti Apple dan Netflix pun menggunakan pendekatan ini.


Jenis-jenis Agile Development

Ada berbagai jenis pendekatan agile yang tersedia di pasar untuk memenuhi keinginan setiap proyek. Berikut jenis-jenis metodologi agile:


  1. Scrum

Salah satu contoh metodologi agile yang paling populer adalah scrum. Jenis metode agile ini dilakukan dengan memecah fase pengembangan menjadi beberapa tahap atau siklus yang disebut 'sprint'. Waktu pengembangan untuk setiap sprint dimaksimalkan dan didedikasikan hanya untuk mengelola satu sprint dalam satu waktu. 

  1. Extreme Programming (XP)

Extreme Programming (XP) adalah metodologi yang menekankan kerja tim, komunikasi, dan umpan balik. Jenis metode ini berfokus pada pengembangan konstan dan kepuasan pelanggan. Mirip dengan scrum, metode ini juga menggunakan sprint atau siklus pengembangan singkat untuk menciptakan lingkungan yang produktif dan sangat efisien.

  1. Kristal

Metode kristal berfokus pada pengiriman perangkat lunak yang cepat, keteraturan, administrasi yang lebih sedikit dengan keterlibatan pengguna yang tinggi, dan kepuasan pelanggan. Dalam metode ini, setiap sistem atau proyek tidak dapat ditiru dan memerlukan berbagai praktik, proses, dan kebijakan untuk mencapai hasil terbaik.

  1. Metode Pengembangan Sistem Dinamis (DSDM)

Metode DSDM memberikan struktur komprehensif yang didefinisikan dan dimodifikasi untuk membuat rencana, pelaksanaan, pengelolaan, dan skala prosedur pengembangan perangkat lunak. Dalam metode ini, modifikasi proyek dianggap penting dan kualitas dengan pengiriman tepat waktu tidak boleh dinegosiasikan.

  1. Scaled Agile Framework (SAFe)

SAFe adalah serangkaian alur kerja dan pola organisasi dengan kerangka kerja yang relatif ringan namun tetap mempertahankan pengambilan keputusan terpusat untuk efisiensi pengembangan perangkat lunak. 

Manfaat Pendekatan Agile


Pendekatan agile memiliki beberapa manfaat seperti berikut:


  1. Mempermudah proses kontrol

Dengan menerapkan metode agile, pekerjaan dapat dipecah menjadi beberapa bagian dan dilakukan dalam siklus yang cepat dan berulang. Metode ini juga menerapkan pertemuan rutin yang memungkinkan tim proyek untuk mendiskusikan kemajuan, masalah, dan mencari solusi. Pendekatan ini juga membantu membuat seluruh proses lebih transparan dan terkontrol.

  1. Produktivitas meningkat

Penerapan metode agile akan membuat proyek bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat karena teknis pengerjaannya dibagi dalam beberapa tahap sehingga lebih mudah dikelola. Cara ini juga memungkinkan produk diluncurkan dengan cepat serta perubahan dapat dilakukan dengan mudah dan kapan saja selama proses berlangsung.

  1. Meningkatkan kualitas

Salah satu manfaat besar pendekatan agile adalah membantu tim proyek menemukan masalah dan menciptakan solusi dengan cepat dan efisien. Fleksibilitas metode agile juga memungkinkan tim proyek untuk menanggapi reaksi pelanggan dan terus meningkatkan produk.

  1. Meningkatkan kepuasan pelanggan

Kolaborasi yang erat antara tim proyek dan pelanggan memberikan umpan balik secara langsung. Pelanggan dapat menyesuaikan harapan dan keinginan mereka selama proses berlangsung. Dengan begitu, hasil akhir akan mampu memuaskan pelanggan.

  1. Pengembalian investasi lebih tinggi

Penerapan agile akan membuat produk akhir siap untuk dipasarkan lebih cepat, tetap terdepan dalam persaingan dan dengan cepat menuai keuntungan. Dengan begitu, biaya dan waktu yang diperlukan juga lebih sedikit tanpa  mengurangi kualitas aplikasi dan kepuasan pelanggan.



Baca juga

5 Jenis Software yang Dibutuhkan untuk Pengembangan Bisnis Perusahaan

Cara Mengelola Uang Kas (Petty Cash) dalam Perusahaan

Tahapan Perencanaan Produksi pada Perusahaan Manufaktur

Ukirama Terpilih Sebagai Salah Satu Perwakilan dari Indonesia di CeBIT Australia 2018

Contoh Laporan Penjualan Pada Perusahaan Dagang

© 2022 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin