Pahami Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal (Capital Structure) Serta Contohnya

By Martina, 04 April 2021
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Dalam pendirian sebuah bisnis, ketersediaan modal adalah sumber daya utama yang wajib ada. Modal menjadi syarat wajib untuk memulai sebuah bisnis, mengembangkan hingga membuatnya besar. Untuk menyediakan modal ini, ada dua sumber dana yang menjadi opsi untuk dipilih oleh perusahaan. Yakni sumber pendanaan internal dan eksternal. Sumber pendanaan internal tentu saja dari modal yang dimiliki perusahaan sendiri, bisa itu berupa modal uang, properti, saham, dan lainnya. Sedangkan sumber dana eksternal bisa diperoleh melalui hutang salah satunya. Kedua sumber dana perusahaan ini seyogyanya dapat dioptimalkan untuk kepentingan bisnis. 


Setiap perusahaan memiliki pola dan rumus sumber modalnya masing-masing. Ada yang lebih besar pada sumber dana internal, ada juga yang modalnya lebih didominasi oleh sumber eksternal seperti hutang misalnya. Pola yang digunakan oleh perusahaan dalam merumuskan susunan sumber modal bisnisnya inilah yang kita namakan struktur modal atau capital structure. 


Setiap perusahaan memiliki struktur modal yang berbeda-beda. Beberapa perusahaan dengan karakteristik tertentu cenderung memilih memperbesar modanya dengan dana eksternal pinjaman. Namun perusahaan dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, lebih mengutamakan sumber modal internal, karena berhutang dianggap menambah beban perusahaan. 


Bagaimana perbandingan susunan modal internal dan eksternal setiap perusahaan memang berbeda-beda, namun hampir semua perusahaan pasti memiliki dua sumber pendanaan ini. Hal ini karena setiap sumber pendanaan memiliki karakteristik, risiko dan manfaatnya masing-masing. Sumber pendanaan internal yang dimiliki perusahaan dari laba yang ditahan atau cadangan modal, lebih bebas resiko dibandingkan hutang. Perusahaan tidak berkewajiban mengembalikan moda itu kepada pihak lain. Namun sumber pendanaan internal ini terbatas dan butuh waktu yang lama untuk menambah kuantitasnya. 


Sedangkan, untuk sumber pendanaan eksternal, seperti hutang, memiliki kuantitas yang lebih besar dan tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk mendapatkannya. Terlebih dalam situasi darurat atau ketika perusahaan menginginkan ekspansi besar-besaran untuk skala bisnisnya, perusahaan yang besar lebih memilih menambah modalnya dengan berhutang. 


Bukankah kita penasaran apa saja yang menjadi bahan pertimbangan perusahaan ketika memutuskan menggunakan sumber modal eksternal atau internal? Apa saja faktor dan variabel yang mesti dipikirkan oleh perusahaan sebelum membuat keputusan? Jika iya, mari kita bahas faktor-faktornya satu per satu.


Profitabilitas

Semakin tinggi laba yang dihasilkan dan nilai pengembalian modal, perusahaan cenderung menggunakan dana internal. Jika sebaliknya, perusahaan cenderung berhutang lebih besar karena dana internal tidak cukup. 


Profitabilitas bisa kita maknai sebagai seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan profit atau laba dari proses bisnis yang dijalankannya. Setiap perusahaan tentu bekerja keras agar bisnisnya terus tumbuh dan menghasilkan laba yang semakin lama semakin besar. Semakin banyak laba yang dihasilkan, perusahaan dapat menyimpan dana cadangan dan menahan laba tersebut untuk dijadikan modal tambahan bisnis berikutnya. Semakin lancar dan besar laba dan modal internal yang bisa dihasilkan perusahaan, meningkatkan nilai pengembalian modal jadi semakin cepat. Pada kondisi yang seperti ini, perusahaan cenderung memilih menggunakan modal internal daripada eksternal. 


Namun, jika keuntungan yang dihasilkan perusahaan tidak cukup besar sehingga perusahaan kekurangan modal untuk membiayai operasional bisnis, mau tidak mau perusahaan akan mencari pendanaan eksternal dengan melakukan pinjaman.


Struktur Aset

Semakin banyak aset yang dimiliki perusahaan, semakin mudah perusahaan mendapatkan dana hutang sebagai jaminan pinjaman. Struktur aset = lancar dan tidak lancar. 


Sebuah perusahaan memiliki struktur aset yang berbeda-beda. Ada perusahaan yang memiliki aset lancar lebih besar dari tidak lancar, ada juga yang sebaliknya. Tidak sedikit pula perusahaan yang memiliki aset lancar dan tidak lancar sama besarnya atau seimbang. Perbedaan besar kecilnya aset lancar dan tidak lancar ini ditentukan oleh jenis dan model bisnis yang dijalankan perusahaan dan bagaimana kondisi keuangan serta kebutuhan terkini perusahaan. 


Perusahaan yang sedang berkembang, memiliki aset lancar lebih besar karena dibutuhkan untuk menjalankan roda bisnisnya. perusahaan baru biasanya belum memiliki cukup banyak aset tidak lancar. Berbeda dengan perusahaan yang sudah besar dan berumur, karena bisnis sudah besar dan laba tinggi, perusahaan bisa membeli banyak aset tidak lancar, dan jumlah aset keduanya sama besarnya. 


Struktur aset yang dimiliki perusahaan menjadi variabel penting dalam pertimbangan sumber modal mana yang lebih besar untuk dipilih. Apakah internal atau eksternal. Banyaknya aset yang dimiliki suatu perusahaan memudahkan dalam mencari pinjaman. Itu karena aset-aset tersebut terpercaya menjadi jaminan atas pinjaman yang dilakukan perusahaan. Semakin besar aset yang dimiliki, nilai jaminannya semakin besar dan pinjaman yang didapat bisa semakin banyak pula.


Ukuran Perusahaan 

Semakin besar ukuran perusahaan, semakin mudah perusahaan mendapat pinjaman. Ini membuat perusahaan lebih suka berhutang untuk pemenuhan modalnya. Dan sebaliknya. 


Berbicara mengenai ukuran berarti kita menggunakan standar besar atau kecil skala perusahaan. Semakin besar perusahaan, semakin memiliki nama dan kepercayaan publik. Hal ini membuat kredibilitas perusahaan juga meningkat. Tidak hanya di mata konsumen saja, namun juga kreditur. Para kreditur jadi lebih mudah percaya atas kemampuan perusahaan mengembalikan dana pinjaman. Jadi perusahaan semakin mudah dapat pinjaman. Tidak hanya itu, semakin besar jumlah hutang, biasanya suku bunga yang harus dibayarkan jadi lebih hemat. Hal ini membuat perusahaan besar cenderung mengambil hutang dalam jumlah banyak dan mudah. 


Resiko Bisnis

Semakin tinggi risiko bisnis perusahaan, rasio hutang harus semakin kecil. Resiko bisnis juga patut dipertimbangkan sebelum mengambil pinjaman dana eksternal. Jika bisnis sedang sangat beresiko, akan lebih bijak jika tidak terlalu banyak mengambil hutang. Hal itu dapat membahayakan bisnis dan menambah beban keuangan perusahaan untuk membayar hutang.


Pertumbuhan Aset

Semakin tinggi pertumbuhan aset, dorongan perusahaan melakukan pinjaman hutang semakin besar. Sebagai peluang investasi dan mengembangkan skala bisnis. 


Pertumbuhan aset yang positif dan semakin besar, biasanya dibarengi dengan keinginan perusahaan melakukan ekspansi pasar. Karena peluang dan kesempatan biasanya tidak datang sembarang waktu. Ketika perusahaan bergerak ke arah yang positif, peluang ini cenderung diambil sebagai moment memperluas jangkauan pasar. Untuk melakukan hal itu, perusahaan butuh dana modal besar dalam waktu singkat. Untuk memenuhinya, perusahaan melakukan pinjaman modal dalam jumlah besar. 


Ketika pertumbuhan aset perusahaan bergerak ke arah yang positif, perusahaan semakin mudah mendapatkan dana pinjaman. Karena para kreditur melihat pertumbuhan positif perusahaan sebagai jaminan bahwa perusahaan dapat mengembalikan pinjaman dan para kreditur juga mendapat keuntungan.


Baca juga

5 Metode Penyusutan Aset Tetap dalam Akuntansi dan Contoh Cara Menghitungnya Menggunakan Excel

Memahami Pengertian Plant Asset, Natural Resources, dan Intangible Asset dalam Aset Bisnis Perusahaan

Definisi Aset Operasi Bersih (Nett Operating Asset) beserta Contohnya

Contoh Cara Menghitung Biaya Pelepasan Aset

Definisi Aset Tidak Lancar (Non-Current Asset) Beserta Contohnya

© 2021 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin