Pengertian dan Tujuan Work Order pada Perusahaan Manufaktur

By Martina, 11 Januari 2020
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Sebelum melakukan suatu pekerjaan, kita tentu harus mendapat perintah kerja dahulu. Hal ini dibutuhkan agar kita tahu apa yang harus dikerjakan, ruang lingkup pekerjaan, dan tanggung jawab yang diemban. Apalagi dalam sebuah perusahaan, perintah kerja harus secara resmi dibuat perusahaan dan disetujui oleh pekerja untuk dilaksanakan. Berkaitan dengan perintah kerja ini, dalam dunia akuntansi dikenal istilah work order.


Istilah work order juga dikenal dalam industri atau perusahaan manufaktur. Namun, seperti apa work order yang dimaksud dan apa tujuan dari pembuatannya? Berikut pembahasan akan hal-hal tersebut.

Pengertian Work Order

Work order artinya perintah kerja. Dalam pengertian umum, work order merupakan dokumen tertulis tentang perintah suatu pekerjaan dalam lingkup internal atau eksternal perusahaan kepada pelaksana yang ditugaskan. Work order juga bisa digunakan untuk melaporkan pekerjaan yang sudah atau yang belum selesai dikerjakan.


Secara lebih khusus terutama dalam perusahaan manufaktur, Work Order adalah dokumen yang mendukung penanganan inspeksi untuk pembekalan material, suku cadang, dan kebutuhan layanan. Melalui work order, semua informasi data kebutuhan dan harga bahan terkait perjanjian dengan vendor bisa terpenuhi. Bisa dikatakan, work order menjadi alat komunikasi antara bagian pemeliharaan perusahaan dengan vendor penerima kerja yang diberikan sebelum pekerjaan efektif dilakukan.

Tujuan Work Order

Work Order dibuat untuk membantu perencanaan serta penjadwalan suatu pekerjaan. Work Order berisikan informasi tentang batasan pekerjaan yang harus dilakukan yang menyangkut tentang objek teknis berupa lokasi, operasi, jadwal mulai, jadwal selesai, dan durasi. Selain itu juga untuk menginformasikan tentang sumber daya yang dipakai seperti jumlah tenaga kerja, bahan, mesin, dan jasa. Pada intinya, pembuatan dan penerbitan work order ini akan menjadi awal terlaksananya semua kegiatan yang berkaitan dengan suatu pekerjaan.


Dari segi pemeliharaan, keberadaan work order bertujuan untuk memberi informasi mengenai biaya. Biaya-biaya yang dimaksud berkaitan dengan pelaksanaan pemeliharaan, durasi pekerjaan, historic trouble, dan mekanik. Work Order sendiri bisa berbentuk surat cetak maupun elektronik. Keduanya punya tujuan yang sama. Namun seiring perkembangan teknologi, sekarang work order juga bisa dikerjakan dalam bentuk aplikasi.Hal ini tentu bertujuan untuk mengefektifkan pekerjaan baik dari sisi pemberi kerja atau penerima kerja.

Work Order dalam Perusahaan Manufaktur

Work Order merupakan bagian dari aktivitas manufaktur (pabrikasi). Sebelum membahas lebih jauh tentang work order ini, ada baiknya mengetahui juga urutan aktivitas manufaktur yang dimaksud:

  1. Menentukan Harga Standar Barang

  2. Menentukan Biaya Standar Produksi

  3. Membuat Formulir Produk

  4. Membuat Work Order

  5. Membuat Pengeluaran Bahan Baku (Material Release)

  6. Membuat Produk dan Bahan Baku Keluaran

  7. Membukukan Biaya Konversi

  8. Melakukan Period End (Proses Akhir Periode)


Berdasarkan urutan aktivitas manufaktur di atas, dapat dilihat bahwa work order dibuat setelah diketahuinya harga standar barang dan biaya standar produksi. Hal tersebut sangat jelas lantaran work order adalah perintah kerja setelah semua penghitungan biaya ditentukan.


Dalam perusahaan manufaktur, Work Order dibuat oleh bagian perencanaan produksi. Perintah kerja ini dimungkinkan untuk dibuat lebih dari satu produk atau bisa pula merupakan proses dari permintaan sales order (pesanan penjualan). Agar lebih dalam memahami work order, berikut elemen-elemen yang ada pada formulir work order.

  1. Bagian Informasi Kerja

Pada bagian atas atau header berisi informasi umum pekerjaan, yaitu Work Order Number, Start Date, Expected Date, Person in Charge, Department, dan Description.

  1. WO No. : Nomor urut formulir Work Order .

  2. Start Date : Tanggal mulai produksi.

  3. Expected Date : Tanggal perkiraan selesainya proses produksi.

  4. Person in Charge : Orang yang bertanggung jawab atas proses produksi.

  5. Department : Departemen yang bertanggung jawab atas proses produksi.

  6. Description : Deskripsi atau penjelasan singkat tentang Work Order yang dibuat.


  1. Bagian Detail 

Pada bagian detail tertera beberapa hal utama, yaitu description, item number, quantity, unit, total cost, SO Number, Finished, dan Closed.

  1. Description : Deskripsi dari bill of material atau formula produk yang akan diproduksi.

  2. Item No. : Nomor kode barang atau produk yang akan diproduksi. Nomor ini sendiri berasal dari nomor produk yang ada pada formulir Formula Produk.

  3. Quantity : Kuantitas atau jumlah produk yang akan diproduksi.

  4. Unit : Nilai satuan dari produk yang harus diproduksi.

  5. Total Cost : Total biaya dari produk.

  6. SO. No. : Nomor Sales Order atau Pesanan Penjualan. Nomor ini hanya berlaku jika perintah kerja berdasarkan pesanan penjualan.

  7. Finished : Persentase penyelesaian produk yang sudah diproduksi.

  8. Closed : Status produk. Apabila sudah dibuatkan Work Order seluruhnya, maka statusnya menjadi Closed atau di ceklis. 


Pada bagian Detail Pekerjaan, termuat bahan baku (material) yang digunakan. Pada bagian ini biasanya berisikan informasi berupa, item, item description, quantity, unit, quantity taken, standard cost, dan total cost.

  1. Item No. : Nomor Kode item bahan baku.

  2. Item Description : Deskripsi tentang bahan baku.

  3. Quantity : Kuantitas atau jumlah bahan baku yang dibutuhkan.

  4. Unit : Satuan bahan baku.

  5. Quantity Taken : Kuantitas bahan baku yang sudah dikeluarkan.

  6. Standard Cost : Harga satuan standar bahan baku. Harga ini nilainya diambil berdasarkan formulir penyesuaian harga standar barang.

  7. Total Cost : Total biaya standar bahan baku.


Sedangkan pada bagian Cost, elemen-elemen yang dimasukkan berupa deksripsi biaya konversi, waktu untuk proses produksi barang, nilai biaya standar konversi pembuatan per jamnya, dan total biaya standar pembuatan.

Contoh Sederhana Formulir Work Order

Berikut adalah contoh sederhana dari formulir work order:

WORK ORDER REQUEST FORM

PT. ABC PRODUCT DEPARTMENT

FAX NO. 021-611-9917


Nama Pemberi Kerja:    _______________________ Tanggal: __________________

Departemen:  _______________________________ Telephone:  ________________

Lokasi:   ________________________________        Penting: Ya_____ Tidak_____

Ruang :  ______________


Deskripsi Permintaan Work Order :


 

 

 

 

 

Deskripsi Work Order dan Bahan yang Digunakan:


 

 

 

 

 


Diselesaikan Oleh: _____________________Tanggal:__________________________

Tanggal Mulai:   _______________________Tanggal Selesai:  ___________________


Departemen Produksi PT.ABC menerima dan memproses permintaan work order setiap hari. Tujuan keseluruhan kami adalah untuk menjadwalkan dan menyelesaikan layanan ini tepat waktu. Untuk menyempurnakan tujuan kami, setiap departemen harus mengisi formulir work order dan kembali ke kantor produksi.


Terima kasih sebelumnya atas kerja sama Anda.


Baca juga

Perbedaan Mendasar Tentang Job order costing dan Process costing

Purchase Order: Pengertian dan Manfaatnya Bagi Perusahaan

Contoh dan Perbedaan Purchase Requisition (PR) Dengan Purchase Order (PO)

10 Strategi Jitu untuk Meningkatkan Repeat Order

Keuntungan dan Kerugian Sistem Pre-Order dan Ready Stock

© 2020 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin