Pengertian ROI (Return of Investment) dan Cara Menghitungnya

By Martina, 21 Mei 2019
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Berbisnis artinya ada keuntungan yang hendak dikejar. Dalam mencapai hal tersebut, seorang pebisnis harus cermat dalam melihat peluang usaha agar uang yang dikeluarkan sebagai modal bisa menghasilkan keuntungan yang berlipat. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan tentang tingkat keuntungan atas investasi yang telah dikeluarkan. Hal ini juga berlaku bagi investor dimana mereka harus melakukan pertimbangan dan prediksi, apakah bisnis bersangkutan setidaknya bisa mengembalikan nilai investasi yang sudah ditanamkan atau tidak. Prediksi yang dimaksud adalah analisis ROI (Return of Investment).


Pengertian ROI (Return of Investment)

ROI (Return of Investment) adalah rasio profitabilitas yang mengukur efisiensi sebuah investasi dengan membandingkan laba bersih dengan total biaya atau modal yang diinvestasikan. Ini artinya, ROI yang bernilai positif menunjukkan keuntungan, sedangkan jika bernilai negatif menunjukkan kerugian. Rasio ROI sendiri biasanya diukur dalam bentuk persentase.


ROI berperan penting untuk memberikan informasi mengenai ukuran keuntungan atau kerugian yang dihasilkan dari investasi, sehingga segala kegiatan operasional dapat dievaluasi tingkat pengembalian investasinya. Dalam hal ini, investasi dapat mengacu pada modal, aset, serta anggaran biaya investasi.


Selain dapat memberikan informasi tentang profitabilitas, ROI juga dapat mengukur efisiensi penggunaan modal kerja, produksi, hingga penjualan dalam perusahaan. Analisis tingkat pengembalian ini akan memudahkan anda dalam memahami kelemahan dan kekuatan perusahaan dibanding perusahaan lain yang bergerak di bidang sejenis (kompetitor).


Para pakar juga memberikan pandangannya tentang makna ROI ini. Menurut S. Munawir (2007:89) Return On Investment (ROI) merupakan bentuk dari rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang berasal dari keseluruhan dana pada aktiva yang digunakan untuk operasional perusahaan.


Sejalan dengan hal tersebut, Sutrisno (2001:255) juga memberikan pandangannya bahwa Return On Investment (ROI) merupakan suatu ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang digunakan untuk menutup investasi yang telah dikeluarkan.


Faktor yang Mempengaruhi ROI

Dari pengertian ROI yang sudah dijelaskan di atas, ROI artinya menunjukkan bentuk rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Rasio tingkat pengembalian investasi tersebut tentu akan dipengaruhi beberapa faktor. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi ROI, yaitu :

  1. Tingkat Perputaran Aktiva

Perhitungan rasio akan bergantung pada tingkat perputaran aktiva yang digunakan sebuah perusahaan untuk seluruh kegiatan operasional. Kecepatan berputarnya aktiva dalam suatu periode, akan sangat mempengaruhi tingkat pengembalian investasi, terlepas dari apakah ROI bernilai positif atau negatif.


  1. Profit Margin

Profit Margin adalah rasio pendapatan terhadap penjualan yang diperoleh dari selisih antara penjualan bersih dengan harga pokok penjualan dibagi dengan penjualan bersih. Profit margin ini sendiri nantinya dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan serta menilai kemampuan manajemen bisnis dalam mengontrol berbagai kebutuhan operasional.


Manfaat Analisis ROI

Beberapa kegunaan dari analisis ROI adalah sebagai berikut.

  1. Mengukur efisiensi penggunaan modal yang bekerja, efisiensi produksi, dan efisiensi bagian penjualan.

  2. Bagi perusahaan yang memiliki data industri, analisis ROI dapat membandingkan efisiensi penggunaan modal pada perusahaan dengan perusahaan lain atau kompetitor.

  3. Dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan yang dilakukan oleh masing-masing divisi dengan cara mengalokasikan semua biaya dan modal ke dalam bagian yang bersangkutan.

  4. Digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

  5. Digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan jika perusahaan mengadakan ekspansi.


Kelemahan Analisis ROI

Selain memiliki banyak kegunaan, analisis ROI juga tetap memiliki kelemahan. Setidaknya ada 2 kelemahan utama yang dimilikinya, yaitu sebagai berikut.

  1. Sulit dalam membandingkan ROI suatu perusahaan dengan perusahaan kompetitor karena praktik akuntansi yang digunakan oleh masing-masing perusahaan berbeda-beda.

  2. Analisis ROI tidak memasukkan unsur biaya modal ke dalam perhitungannya sehingga ROI yang tinggi belum bisa dinilai efektif sebelum dibandingkan dengan biaya modalnya.


Cara Menghitung ROI

ROI dapat dihitung dengan mengurangi biaya investasi dari total pendapatan dan membaginya dengan total biaya investasi. Hasil dari perhitungan ini dapat berupa persentase atau rasio.


ROI = ((Pendapatan Penjualan – Biaya Investasi Awal) : Biaya Investasi Awal) x 100%


Contoh kasus 1

Perusahaan X melakukan investasi sebesar Rp500.000.000,- kepada seluruh usaha penjualan produk A. Perusahaan X tersebut ternyata mendapatkan penjualan sebesar 1.000 unit. Keuntungan yang didapat perusahaan dari penjualan tersebut adalah sebesar Rp700.000.000,-.

Dari penjelasan diatas, diketahui keuntungan investasi yang didapat adalah sebesar Rp200.000.000,- yang didapat dari pengurangan laba dan investasi (Rp 700.000.000 – Rp500.000.000).

Maka perhitungan ROI nya adalah

ROI = ((Rp 700 juta – Rp 500 juta) / Rp 500 juta) x 100%

        = (Rp 200 juta / Rp 500 juta) x 100%

        = 0,4 x 100%

        = 40%

Dari perhitungan maka didapat tingkat ROI adalah sebesar 40%.


Contoh kasus 2

Seorang manajer produksi membeli mesin produksi seharga Rp150.000.000,-. Mesin tersebut dapat menghemat penggunaan tenaga kerja sebanyak 10 orang. Jika gaji tenaga kerja adalah sebesar Rp2.500.000,-, nilai ROI untuk mesin yang dibeli bisa dihitung sebagai berikut.

Pendapatan dari investasi =  Rp 2,5 juta x 10 orang x 12 bulan = Rp 300 juta

Biaya Investasi adalah sebesar Rp 150 juta

Maka ROI = ((300 juta – Rp 150 juta) / Rp 150 juta) x 100%

                   = (150 juta / 150 juta) x 100%

                   = 1 x 100%

                   = 100%

Jadi, ROI dari investasi mesin produksi yang dibeli adalah sebesar 100%.


Pada intinya, untuk mengetahui profit dari suatu investasi jangan hanya terfokus pada margin keuntungan yang di dapat atas produk atau jasa yang dijual. Tetapi juga harus menghitung ROI secara akurat untuk mendapatkan kepastian dan keyakinan bahwa bisnis yang dijalankan mampu untuk berkembang. Perlu diingat juga seperti yang sudah diungkap di bagian kelemahan ROI, bahwa analisis ROI ini tidak memasukkan biaya modal sehingga ROI tinggi tidak serta merta dinilai efektif. Perlu adanya perbandingan dengan biaya modal untuk dapat menganalisis keefektifan tersebut.


Perhitungan ROI juga sangat fleksibel dan dapat digunakan untuk berbagai jenis investasi. Perusahaan bisa menggunakan ROI untuk mengukur laba atas modal yang diinvestasikan. Sedangkan investor dapat menggunakannya dalam mengukur kinerja saham dan bagi individu dapat memakai ROI dalam mengukur laba aset mereka.


Baca juga

5 Alasan Mengapa Harus Berinvestasi Saham di Perusahaan Teknologi

Cara Menghitung/Menentukan Modal Awal (Initial Capital/Initial Investment) Perusahaan

7 Cara Mendapatkan Investor Untuk Startup

Pentingnya Stok Opname Pada Perusahaan Manufaktur

Cara dan Contoh Perhitungan Persediaan Akhir tanpa Stok Opname Barang di Gudang

© 2019 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin