Pengertian, Tujuan dan Fungsi Tutup Buku

By Martina, 23 Mei 2020
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Bagi seorang pebisnis, khususnya orang-orang yang bekerja sebagai akuntan maupun bidang perbank-an, istilah tutup buku merupakan hal yang sudah tidak asing lagi. Bahkan menjadi agenda rutin setiap bulanya.


Tutup buku merupakan sebuah proses kerja yang sangat penting. Tidak hanya untuk perkantoran besar maupun dunia perbankan, namun juga bagi pengusaha bahkan hingga level UMKM sekalipun. Namun sebelum membahas lebih dalam mengenai tutup buku, alangkah baiknya memahami terlebih dahulu apa tutup buku itu.

Pengertian Tutup Buku

Pada dasarnya, tutup buku merupakan berakhirnya suatu siklus akuntansi sebuah perusahaan, bisnis, organisasi, atau lembaga apapun yang melibatkan uang dalam operasionalnya. Tutup buku menjadi tanda bahwa perusahaan menutup / cut off pelaporan periode keuangan yang dilakukan bagian administrasi atau bagian keuangan.


Ketika aktivitas tutup buku dilakukan, maka perusahaan tersebut sedang melakukan proses pemindahan nilai saldo akhir di tiap-tiap akun neraca menjadi saldo awal untuk periode berikutnya. Sebagai contoh, bila sebuah perusahaan menutup buku diakhir tahun 2020 dengan laba 1 juta, maka 1 juta tersebut menjadi saldo awal untuk pencatatan periode tahun 20201.


Tutup saldo tidak hanya dilakukan setiap tahun saja, namun juga dilakukan setiap bulanya. Sehingga, bisa dikatakan bahwa ada 2 siklus tutup saldo dalam akuntansi, yaitu tahunan dan bulanan. Keduanya saling terintegrasi satu sama lain.


Untuk siklus tutup buku bulanan, setiap akun laba-rugi akan ditutup dan dipindahkan ke akun laba tahun berjalan untuk bulan berikutnya. Sedangkan untuk tutup buku di akhir tahun, laporan laba-rugi akan dipindahkan ke laba ditahan.


Tutup buku akhir bulan berfungsi sebagai pembentukan jurnal penyusutan aset dan revaluasi. Hal ini tidak dilakukan pada saat tutup buku akhir tahun. Karena itu, ketika melakukan tutup buku tahunan, proses tutup buku bulanan harus dilakukan terlebih dahulu (hingga bulan Desember). Setelah itu, barulah dilakukan tutup buku tahunan. Namun bila perusahaan menggunakan software, biasanya proses tutup buku akhir bulan dan tahunan bisa dilakukan secara otomatis.

Tujuan Tutup Buku

Setelah mengetahui apa itu tutup buku, serta dua jenis tutup buku, pertanyaan berikutnya adalah: “Mengapa perlu melakukan tutup buku yang menyita waktu, bahkan setiap bulan dan setiap tahunya?”. Tutup buku wajib dilakukan mengingat tujuan yang sangat penting dalam dunia akuntansi, seperti:

  1. Pelaporan keuangan

Adanya siklus tutup buku yang dilakukan secara rutin, bertujuan untuk mendapatkan laporan kondisi keuangan perusahaan di akhir masa periode tertentu. Dengan adanya tutup buku, perusahaan bisa melakukan rekap terhadap kondisi keuangan perusahaan di setiap bulan dan tahunya. Data ini sangat penting bagi perusahaan serta stakeholder yang berkepentingan seperti pemberi modal, pajak, maupun bagian direksi. 

  1. Mengetahui posisi saldo akhir

Dengan adanya rekap keuangan perusahaan di setiap akhir bulan dan akhir tahun, maka pemilik perusahaan bisa mengetahui nilai saldo akhir yang dimiliki. Hal ini penting untuk menjadi bahan dasar analisa perkembangan bisnis, kekuatan keuangan, serta total aset perusahaan.

  1. Mengetahui laba-rugi

Dengan adanya laporan perkembangan bisnis dan laporan keuangan perusahaan, anda juga bisa mengetahui apakah pada periode sebelumnya perusahaan mengalami keuntungan atau justru kerugian.

  1. Membentuk saldo awal

Dalam sebuah perusahaan, total aset / keuangan perusahaan pasti akan terus dikelola agar operasional bisnis bisa terus berjalan. Adanya tutup buku, membuat perusahaan bisa meneruskan pencatatan jurnal keuangan perusahaan pada jurnal di periode berikutnya. Perusahaan bisa menggunakan asumsi kondisi keuangan di akhir periode sebagai modal awal untuk periode berikutnya.

Fungsi Tutup Buku

Sekarang kita telah mengetahui tujuan dari dilakukanya tutup buku secara rutin, baik setiap bulan maupun setiap tahunya. Selain tujuan-tujuan diatas, yang mana bila dilakukan akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi perusahaan, berikutnya kita akan memahami fungsi tutup buku:

  1. Pelaporan keuangan

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, dengan melakukan tutup buku, informasi tentang kondisi akuntansi di akhir periode bisa diketahui. Data tersebut akan memudahkan perusahaan ketika membuat laporan keuangan, dimana tinggal memasukan saldo akhir dari masing-masing akun pada jurnal keuangan yang sudah di tutup. 

  1. Kerapian dan kecepatan membaca kondisi keuangan perusahaan

Pencatatan yang dipisah di setiap periode, baik bulan maupun tahun akan membuat pencatatan keuangan perusahaan menjadi lebih rapi dan mudah dicari jika suatu saat dibutuhkan. Bayangkan bila pencatatan dibuat dalam satu jurnal yang sama, administrasi menjadi tidak rapi dan berantakan. Akan sangat sulit mencari data keuangan pada bulan / tahun yang sudah lampau.


Selain itu, ini juga akan membuat perusahaan mendapatkan pembukuan keuangan yang update di setiap bulanya. Ketika dibutuhkan, maka perusahaan bisa langsung melihat jurnal keuangan yang sudah di tutup pada periode sebelumnya, tanpa perlu melakukan proses perhitungan terlebih dahulu yang tentu membutuhkan waktu yang lama.


Adanya proses tutup buku yang disiplin juga memperjelas agenda / time frame bagi karyawan terkait, baik administrasi maupun keuangan setiap bulannya. Sebagai contoh, para pegawai bank pasti sudah menyiapkan diri untuk merampungkan proses tutup buku di setiap akhir bulan, bahkan hingga melakukan lembur sampai malam sekalipun.

  1. Kecepatan mencari kesalahan pencatatan

Tidak dipungkiri, kesalahan penulisan angka pada jurnal akuntansi sering terjadi. Bahkan oleh akuntan yang profesional sekalipun. Adanya siklus tutup buku yang rutin dilakukan ini, sangat memudahkan mencari dimana kesalahan penulisan terjadi.


Akuntan hanya perlu melihat kondisi keuangan pada akhir tutup buku, bila ada selisih maka dipastikan di periode tersebut terjadi kesalahan pencatatan. Bayangkan bila jurnal tersebut terus bersambung selama beberapa bulan / tahun tanpa ada proses tutup buku. Anda perlu menelusuri jurnal akuntansi selama beberapa bulan atau bahkan tahun. Tentu menguras banyak waktu dan konsentrasi.

  1. Dasar analisis kebijakan perusahaan

Yang terakhir, adalah hal yang paling penting. Data-data tentang neraca keuangan perusahaan di setiap ahir periode bisa menjadi “harta karun” bagi para pengambil kebijakan perusahaan dalam menetapkan langkah yang akan dilakukan berikutnya.


Mengapa? Karena pengambilan suatu kebijakan dan arah bisnis pasti didasari atas kondisi perusahaan pada waktu itu. Melalui neraca keuangan yang dilaporkan pada laporan tutup buku, pengambil kebijakan dapat mengetahui bagaimana kondisi perusahaan, masalah apa yang sedang dihadapi, dan peluang apa yang bisa dimanfaatkan.


Data-data tersebut menjadi asumsi dasar dalam pengambilan keputusan arah perusahaan pada periode-periode berikutnya, sehingga kebijakan yang diambil merupakan kebijakan yang tepat.


Baca juga

Apa Itu Buku Tambahan Piutang (Subsidiary Ledger) beserta Contohnya

Apa Itu Wapu (Wajib Pungut) Dalam PPN

Apa Itu Barang Kena Pajak Tidak Berwujud beserta Contohnya

Apa Itu Cloud Kitchen serta Konsep dan Manfaatnya Dalam Bisnis Kuliner

Apa Itu Anuitas Dalam Keuangan beserta Contohnya

© 2020 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin