Perbedaan Biaya Overhead Pabrik Dengan Jenis Biaya HPP Lainnya

By Ayu, 07 Januari 2019
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Dalam suatu manajemen keuangan perusahaan modern, terdapat pengkategorian biaya berdasarkan fungsinya. Perusahaan umumnya sudah membuat alokasi dana untuk tiap sektor, termasuk memberi alokasi dana tidak terduga. Semua ini diperlukan guna menciptakan situasi keuangan yang sehat sehingga eksistensi perusahaan dapat terjaga.

Terdapat beberapa kategori biaya yang dimulai dari proses produksi dan distribusi. Secara umum, dikenal beberapa istilah seperti biaya overhead, harga pokok produksi, dan harga pokok penjualan. Tentunya tiga kategori ini memiliki pengertian masing-masing. Lantas apa yang membedakan?

Biaya Overhead

Jika diartikan secara sederhana, biaya overhead adalah biaya produksi tidak langsung, istilah umumnya disebut indirect cost. Yang dimaksud dengan biaya tidak langsung yaitu biaya selain proses produksi. Dalam kata lain, biaya overhead merupakan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan di luar ongkos produksi, termasuk pengeluaran tak terduga.

Bahkan jika suatu perusahaan mempunyai banyak divisi selain divisi produksi, semua pengeluaran yang digunakan di divisi lain dikategorikan sebagai biaya overhead, termasuk biaya tenaga kerja yang harus dibayarkan. Beberapa contoh lain dari biaya overhead pabrik yaitu asuransi, pajak, perawatan mesin produksi, pembelian bahan tambahan, juga fasilitas lain yang diperlukan untuk menunjang produksi.

Menurut sifatnya, biaya overhead pabrik digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu biaya perawatan dan pemeliharaan seperti biaya beli suku cadang juga biaya yang dikeluarkan untuk membayar jasa servis, kemudian biaya tenaga kerja tidak langsung yang upahnya tidak diambil langsung dari produk yang dihasilkan, dan biaya bahan penolong.

Dilihat dari volume produksi, biaya overhead pabrik juga dibagi dalam tiga kategori, yaitu biaya overhead tetap yang besarannya tidak akan berubah meski volume produksi berubah, kemudian biaya overhead variabel yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai volume produksi, dan biaya overhead semi variabel yang dapat berubah meski tidak sesuai volume produksi.

Ditilik dari hubungannya dengan divisi lain dalam satu perusahaan, biaya overhead pabrik dibagi dalam dua jenis. Pertama yaitu biaya overhead langsung ke divisi yang manfaatnya hanya dapat digunakan secara internal satu divisi. Kedua yaitu biaya overhead tidak langsung ke divisi yang pemanfaatannya dapat digunakan oleh lebih dari satu divisi.

Harga Pokok Produksi

Semua biaya produksi yang melekat pada produk sebelum laku dijual adalah harga pokok produksi. Meskipun itu untuk membuat produk setengah jadi, atau untuk sekedar memproses bahan baku produk. Pada intinya, biaya yang dikorbankan selama proses produksi harus dapat dihitung secara kuantitatif dengan melihat nilai pada produk yang dihasilkan.

Di dalam harga pokok produksi terdapat beberapa macam biaya lain yang dikeluarkan, misalnya biaya untuk pengadaan bahan baku, kemudian pengolahannya, lalu proses akhir produksi, hingga barang siap dijual. Yang juga masuk dalam golongan harga pokok produksi yaitu biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan baku langsung, termasuk juga biaya overhead.

Dapat dikatakan bahwa harga pokok produksi merupakan nilai yang dikorbankan untuk memproduksi suatu barang berdasarkan nilai saat barang dijual. Untuk mempermudah penyebutan, harga pokok produksi digolongkan menjadi dua macam, yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Perbedaan singkatnya, besaran biaya tetap tidak akan berubah, sedangkan biaya variabel akan berubah sesuai dengan situasi.

Untuk menghitung harga pokok produksi, terdapat dua metode yang dapat digunakan, yaitu full costing dan variable costing. Perbedaan besar pada dua jenis metode ini yaitu ada pada biaya overhead pabrik. Metode full costing akan menghitung semua biaya produksi sebagai harga pokok produksi. Sedang metode variable costing hanya akan menghitung biaya yang tidak termasuk ongkos produksi.

Harga Pokok Penjualan

Setelah proses produksi selesai dilakukan, produk kemudian dijual dengan harga tertentu. Inilah yang disebut dengan harga pokok penjualan, yaitu harga produk yang dijual. Penghitungan harga pokok penjualan untuk setiap produk industri umumnya ditentukan dari persediaan jumlah produk di awal kemudian ditambah dengan harga produksi dan dikurangi dengan persediaan jumlah produk di akhir.

Mengacu pada prinsip akuntansi, saldo persediaan awal ditambah harga bahan pokok produk kemudian dikurangi jumlah persediaan yang masih tersisa, merupakan kalkulasi untuk menentukan kisaran harga pokok penjualan untuk sekali masa produksi. Terkhusus untuk perusahaan industri, kalkulasi harga pokok penjualan harus mencakup biaya upah langsung dan biaya bahan pokok, ditambah semua biaya produksi tidak langsung kemudian dikoreksi dengan saldo awal dan akhir.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa harga pokok penjualan melibatkan hitungan seluruh biaya, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung, hingga produk siap dijual. Dalam kata lain, harga pokok penjualan menghitung semua biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang yang akan dijual.

Dengan mengetahui harga pokok penjualan, perusahaan dapat mengetahui seberapa besar biaya yang diperlukan untuk memproduksi suatu barang. Selanjutnya, harga pokok penjualan akan dimunculkan dalam laporan laba rugi perusahaan sebagai salah satu komponen utama dalam neraca keuangan.

Dari perhitungan harga pokok penjualan, perusahaan akan mendapat gambaran berapa kisaran harga jual yang tepat dari suatu produk untuk dibebankan ke konsumen. Manfaat lain, harga pokok penjualan dapat digunakan untuk mencari tahu seberapa besar laba yang akan diperoleh perusahaan. Secara sederhana, jika harga jual lebih rendah dari harga pokok penjualan, maka perusahaan akan merugi. Jika harga jual lebih tinggi dari harga pokok penjualan, perusahaan akan mendapat laba.

Cara Membedakan BOP dan HPP

Satu di antara metode sederhana untuk membedakan BOP dengan HPP yaitu dengan mengkategorikan setiap biaya yang dikeluarkan perusahaan. Sebagai gambaran, HPP cenderung terikat secara langsung dengan proses produksi. Contohnya, jika perusahaan membayar upah karyawan divisi produksi, maka ini tergolong biaya HPP selain BOP. Alasannya, jika perusahaan tidak sedang memproduksi barang dalam waktu tertentu, maka perusahaan tidak harus membayar upah karyawan divisi tersebut. Di sisi lain, biaya BOP akan selalu ada meskipun perusahaan tidak sedang dalam memproduksi barang apapun.

Meskipun demikian, pada praktiknya banyak perusahaan sering salah dalam menempatkan alokasi biaya antara BOP dan HPP. Selain itu, tidak jarang beberapa unsur arus kas keluar secara teknis terkadang tidak masuk dalam unsur biaya. Kondisi demikian sebenarnya wajar juga sering terjadi, dan masih dapat ditolerir jika hasil perhitungan neraca keuangan secara keseluruhan tetap menunjukkan sisi positif.

Terkhusus untuk perusahaan industri dan sejenisnya, mengetahui rincian biaya overhead pabrik sangat penting. Dengan memahami BOP, perusahaan dapat menentukan perhitungan anggaran untuk suatu periode. BOP juga akan membantu perusahaan menjaga laba yang didapatkan dengan mengkalkulasi biaya yang sedang atau akan dibutuhkan.


Baca juga

Pentingnya Stok Opname Pada Perusahaan Manufaktur

Cara Membuat Laporan Stok Pada Bisnis Cafe Anda

Apa itu Pajak UMKM, Keuntungan dan Cara Perhitungannya

Perbedaan Laporan Neraca (Balance Sheet) dan Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Pengertian dan Cara Menghitung Biaya Overhead Pabrik

© 2019 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin