Perbedaan dan contoh perhitungan FIFO, LIFO dan Average

By Ayu, 21 Juli 2021
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

FIFO, LIFO dan average, terdengar familiar bukan ketiga istilah tersebut? Terutama untuk kita yang selama ini bergerak di bidang manufaktur, pangan atau retail. Pemahaman mengenai FIFO, LIFO dan average sudah seperti makanan sehari-hari yang pasti diterapkan dalam proses bisnis dan semua karyawan harus memahaminya dengan baik. 


Bagi kita yang tidak bekerja di bidang-bidang tersebut, mungkin masih asing dengan istilah ini karena tidak dipakai dalam proses kerja sehari-hari. Padahal strategi FIFO LIFO dan average ini bisa diterapkan di hampir semua sektor dan akan sangat berguna. Kenapa butuh mengetahui soal FIFO LIFO dan average? Ini dia penjelasannya. 


Kenapa Butuh Mempelajari Ini?

FIFO, LIFO dan Average merupakan salah satu strategi untuk mengontrol ketersediaan barang, agar stok terjaga kualitas dan kuantitasnya. Kontrol kualitas dan kuantitas barang ini sangat erat kaitannya dengan menjaga agar barang tetap dalam kondisi terbaiknya, tidak kadaluarsa, rusak atau turun nilainya. Hal tersebut berhubungan dengan tanggal barang dibeli dan masuk ke gudang. Dibutuhkan pengaturan yang tepat agar barang-barang yang tersimpan di gudang ini bisa terjual dalam kondisi tetap baik. 

Stok barang melimpah maupun tidak, sangat penting untuk diatur. Karena barang-barang itu adalah sumber pemasukan untuk perusahaan. Jika barang sudah rusak sebelum laku, perusahaan tentu merugi. Oleh karena itu, pengaturan stok barang di gudang sangat perlu diperhatikan baik usia barang, tanggal masuknya, kadaluarsa, harga belinya dan semua yang berhubungan dengan menjaga kualitas stok, harus dilakukan. Karena menjaga stok barang dengan sistem yang tepat ini tidak hanya berdampak pada kualitas barang agar laku saja, namun juga untuk memudahkan pencatatan akuntansinya. Kapan barang masuk, berapa harga beli, berapa penjualan barang yang masuk tanggal sekian yang bisa jadi harganya akan berbeda dengan barang datang di tanggal lain. Demi kerapian pencatatan akuntansinya, sistem FIFO LIFO dan average sangat penting untuk dikuasai dan diterapkan dalam bisnis Anda. 


Tentang FIFO

Metode yang pertama adalah FIFO (first in first out). Sesuai dengan kepanjangannya, metode ini menjual barang sesuai urutan masuknya barang ke gudang. Barang yang dibeli dulu akan dijual pertama. Dalam praktek di lapangan, di pergudangan maupun dalam display toko retail, metode FIFO ini akan sangat diperhatikan pada rak barang yang memiliki masa kadaluarsa seperti makanan atau produk-produk konsumsi lainnya.

Dalam teori untuk display barang maupun penataan barang di gudang, FIFO akan memandu dengan selalu meletakkan barang paling awal masuk di barisan terdepan dan barang yang paling akhir masuk ditata di bagian belakang. Penataan seperti ini memungkinkan barang yang usianya lebih lama bisa terambil lebih dulu. 

Metode FIFO ini juga akan mempengaruhi pencatatan dan pelaporan akuntansinya. Barang yang datang lebih awal akan dicatat sesuai tanggal masuknya dan juga kapan lakunya. Pencatatan dalam akuntansi ini juga akan melibatkan harga beli barang dan berapa kuantitasnya.

Contoh Perhitungan: 

PT Akasia Jaya membeli kaos combed 30s untuk dijual kembali. Perusahaan melakukan pembelian sebanyak empat kali karena pemilik usaha mencari harga terendah dengan pembelian partai dan ada kuota maksimal pembelian, karena itu belinya beberapa kali dicicil. 

Transaksi 

Qty

Biaya satuan 

Kaos gelombang 1

200

30.000

Kaos gelombang 2

150

35.000

Kaos gelombang 3

100

59,990

Kaos gelombang 4

75

60.000


Dari perincian di atas, metode FIFO akan membantu barang yang dikulak gelombang 1 untuk dijual lebih dulu dengan menentukan harga jualnya berdasar harga belinya. Begitu seterusnya untuk gelombang berikutnya. 


Apa itu LIFO?

Bagaimana dengan metode LIFO? Kebalikan FIFO. Jika pada FIFO yang harus dikeluarkan lebih dulu adalah barang yang datang lebih dulu, maka dalam LIFO, barang yang dijual lebih dulu adalah yang dibeli dari pemasok paling akhir. Sesuai namanya last in first out. Jadi barang yang dijual adalah barang yang paling fresh, paling baru dan sedang naik daun pada saat itu. 

Kita bisa menjumpai realitasnya pada pedagang pakaian. Dalam dunia fashion misalnya, trend fashion selalu berganti-ganti dengan cepat dan biasanya akan berputar. Tren yang lama bisa kembali jadi in lagi pada suatu saat. Pebisnis dibidang fashion akan membeli barang yang sedang naik daun dan langsung dijual saat itu juga untuk mengejar penjualan dan laba. Sedangkan barang-barang yang sudah dikulak sejak dulu tapi tidak sedang tren, bisa disimpan lebih dulu dan akan dijual saat trennya meningkat. 

Metode LIFO ini memberikan kemudahan saat pencatatan akuntansinya, yaitu cepat mengetahui keuntungan penjualannya karena kurun waktu pembelian dan penjualannya dekat. Namun metode ini memberikan laba yang tidak sebesar FIFO. Karena pada saat membeli barang sedang tren, harga kulaknya akan lebih mahal dan tidak bisa dijual terlalu mahal karena persaingan sangat ketat. Jika dijual terlalu mahal bisa tidak laku. Kelemahan lain metode LIFO ini tidak bisa diterapkan pada bisnis yang tidak mengacu pada tren. 


Tentang Average

Metode ketiga yaitu Average atau rata-rata. Metode ini mengambil titik tengah dari FIFO dan LIFO. Tidak memperhatikan mana barang yang masuk pertama dan terakhir, juga tidak berpacu pada harga kulak awal atau akhir, semuanya akan dipukul rata sesuai dengan harga total dan kuantitas total barang yang dikulak dan akan dijual. Jadi, dari segi perhitungan harga jualnya diambil harga rata-rata. 

Hal ini lebih memudahkan pencatatan akuntansinya karena tidak perlu menghitung jumlah barang dan harganya pada saat penjualan. Selain itu dari segi penataan barang pun tidak perlu ditata berdasarkan urutan tanggal masuk, karena barang biasanya tidak memiliki tanggal kadaluarsa, misalnya barang-barang kebutuhan rumah tangga. 

Contoh perhitungan:

transaksi 

qty

harga 

total 

gelombang 1

            300 

        170,000 

                51,000,000 

gelombang 2

            470 

        230,000 

              108,100,000 

gelombang 3

            100 

          50,000 

                  5,000,000 

TOTAL 

            870 

 

              164,100,000 

AVERAGE 

 

 

                      188,621 


JIka pada FIFO harga jual mengacu pada harga beli tiap gelombang, maka metode average ini semua biaya beli ditotal dan dibagi jumlah barang yang dimiliki. Dari perhitungan itu didapatkan bahwa harga beli rata-ratanya 188.621. maka harga inilah yang akan menjadi pijakan penentuan harga jual. 


Baca juga

5 Alasan Kenapa Manajemen Gudang pada Bisnis Logistik Diperlukan

Ketahui Istilah Omnichannel Warehouse dalam Bisnis Distribusi

7 Cara Mudah dalam Mengelola Stok Barang di Gudang

8 Solusi Mengatasi Masalah Mengelola Stok Barang di Gudang

6 Solusi Mengatasi Masalah Stok Barang dalam Bisnis Makanan dan Minuman

© 2021 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin