Perusahaan Harus Tahu Kapan Saatnya Melakukan Pengeluaran Modal (Capital Expenditure)

By Martina, 07 April 2021
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Pernahkah kita menyaksikan adanya pembukaan cabang baru suatu perusahaan di kota kita? Perusahaan tersebut bisa membuka cabangnya berupa kantor, toko ataupun pabrik, bergantung pada jenis bisnis yang dijalankan. Biasanya, kantor-kantor pusat perusahaan berada di ibukota Jakarta. Untuk mengembangkan perusahaannya agar semakin besar dan menjangkau pasar semakin luas, perusahaan akan melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru di kota-kota besar lain yang dianggap prospek. 


Semisalnya seperti PT Transretail Indonesia yang melakukan ekspansi besar-besar dengan membuka puluhan gerai Transmart baru di berbagai kota besar. Mereka menyewa/ membeli tanah, mendirikan atau merenovasi bangunan dan mengadakan aset-aset baru untuk toko retailnya di cabang yang baru. Apa yang sedang dilakukan oleh perusahaan tersebut adalah contoh dari pengeluaran modal atau capital expenditure. 


Apa itu Capital Expenditure?

Capital expenditure bisa kita pahami sebagai modal yang digunakan oleh perusahaan untuk pengadaan ataupun peremajaan aset-aset perusahaan untuk kebutuhan yang berjangka panjang. Standar waktu penggunaannya lebih dari satu tahun, bahkan mungkin bisa lebih panjang, yakni sepanjang perusahaan itu beroperasi. Jadi, modal yang dibelanjakan oleh Transmart untuk membuka cabang-cabang barunya di berbagai kota itu, bisa disebut sebagai capital expenditure. 

Capital expenditure ini penting sekali dilakukan oleh perusahaan jika ingin memperbesar skala bisnisnya. Sebuah perusahaan tak akan bisa menaikkan skala bisnisnya jika tidak ditunjang dengan aset dan modal yang cukup. Namun, kapan waktu yang tepat bagi perusahaan untuk melakukan capital expenditure ini? 


Kapan Perusahaan Membutuhkan Pengeluaran Modal?

Suatu perusahaan harus tahu kapan saatnya berinvestasi capital expenditure dengan tidak. Kenapa demikian? Karena pertama, untuk melakukan pengeluaran modal ini, membutuhkan biaya yang sangat besar. Modal yang dibutuhkan lebih dari kebutuhan operasional perusahaan secara rutin. Modal yang akan dikeluarkan bisa berkali-kali lipat. Dimana jika perhitungan salah, tentu saja ini mendatangkan kerugian besar-besaran untuk perusahaan. 


Kedua, capital expenditure ini tidak bisa dibatalkan. Jika sudah dibatalkan, perusahaan akan merugi karena harus mengganti seluruh aset yang terlanjur terbeli. Ketiga, setiap perusahaan memiliki kebutuhan aset yang spesifik bergantung pada jenis bisnis yang dijalankan. Aset-aset yang diadakan oleh perusahaan kecil kemungkinannya sama dengan perusahaan lain. Perusahaan perlu memikirkan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan dan meninjau harga pasaran yang berlaku pada waktu tersebut. 


Keempat, aset yang terbeli ini bisa menjadi nilai tambah maupun nilai kurang perusahaan ketika nanti terjadi auditor, evaluasi ataupun dalam pengajuan investasi. Itulah kenapa perusahaan harus memikirkan betul-betul kapan saat yang tepat melakukan capital expenditure. Kapan waktu yang tepat? 


Ada beberapa keadaan yang dapat dipertimbangkan oleh perusahaan yang akan melakukan capital expenditure :

  1. Keadaan Keuangan Perusahaan

Pertimbangan yang pertama harus dipikirkan oleh perusahaan adalah meninjau keuangan internal. Bagaimana kesehatan keuangan dan kepemilikan modal yang ada. Apakah modal perusahaan dapat digunakan untuk pengeluaran dan pembelian aset-aset baru dalam jumlah besar ataukah tidak. 


Kondisi keuangan dan modal perusahaan ini berimplikasi pada bagaimana nanti perusahaan akan membeli aset baru. Jika modal perusahaan mencukupi maka capital expenditure dapat dilaksanakan dengan uang perusahaan. Namun jika kurang tapi capital expenditure harus dilakukan maka opsi berikutnya adalah mengajukan pinjaman dana ke pihak ketiga. Jika kedua opsi tidak bisa dilakukan maka bisa memunculkan opsi ketiga yaitu menunda pelaksanaan capital expenditurenya.


  1. Urgensitas Kebutuhan Pengembangan Pasar 

Pertimbangan berikutnya adalah kebutuhan bisnis perusahaan. Apakah saat ini perusahaan benar-benar butuh dan mampu mengembangkan pasar dengan mengadakan aset-aset baru ataukah sebenarnya belum terlalu urgent? Apakah perusahaan telah siap dengan semua kebutuhan dan konsekuensi pengeluaran modal ini ataukah belum. 


  1. Keadaan Ekonomi Nasional dan Global 

Selain itu, perusahaan juga butuh mempertimbangkan keadaan perekonomian global untuk menghitung peluang keberlanjutan dan kesuksesan pembukaan cabang baru bisnisnya. jika perekonomian tumbuh positif, maka ini adalah saat yang tepat untuk meluaskan jangkauan pasar dengan pembelian aset-aset baru. Namun pada kondisi ekonomi melemah, lebih bijak jika perusahaan mengoptimalkan cabang dan aset yang sudah ada dulu. 


Keadaan perekonomian nasional dan global juga berdampak pada harga pasaran aset-aset yang dibutuhkan. Waktu yang tepat untuk capital expenditure adalah ketika perekonomian tumbuh optimis.


Jenis-Jenis Dan Contoh Capital Expenditure

  1. Penggantian peralatan 

Ada kalanya aset-aset penting yang dimiliki oleh perusahaan mengalami kerusakan atau penurunan performa yang menyebabkan proses produksi terhambat. Maka perusahaan akan melakukan pembaruan mesin-mesin produksi atau aset-aset lain yang diperlukan. Proses pembaruan ini bisa membeli  baru dan mengganti aset yang lama, ataupun menambah aset baru tanpa membuang yang lama. 


  1. Perluasan pasar dengan pembukaan cabang 

Pembukaan cabang baru terkadang menjadi jawaban ketika perusahaan ingin berekspansi meluaskan pasarnya. Satu kantor di kota tertentu tidak akan cukup untuk meluaskan jangkauan pasar hingga ke seluruh kota di Indonesia. Tanpa kantor cabang di kota tujuan, biaya yang dibutuhkan untuk transportasi akan lebih besar.


Tidak hanya itu, tapi juga kemungkinan penurunan kualitas produk karena terlalu lama proses distribusi, lamanya proses pengiriman dan sebagainya. Yang mana pasti berimbas pada harga jual produk yang jadi mahal. Untuk memangkas itu semua, perusahaan biasanya memutuskan mendirikan cabang untuk menjawab semua masalah itu. 


Mendirikan cabang membutuhkan modal yang besar di awal untuk pengadaan aset-aset baru. Itu tidak masalah, karena nanti modal awal akan terbayarkan ketika bisnis lancar. 


  1. Perluasan pasar dengan produk baru

Selain membuka cabang, strategi lain untuk perluasan pasar adalah meluncurkan varian produk baru untuk konsumen. Untuk merealisasikan hal tersebut, perusahaan membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk pengadaan aset-aset terkait riset, peluncuran dan produksi produk yang baru. 


  1. Proyek akibat hukum baru yang harus dipatuhi

Ada hukum yang menyentuh langsung bisnis bidang tertentu. Biasanya ini terjadi pada bisnis yang mengeksploitasi alam. Misal pada bisnis pertambangan. Pemerintah membuat kebijakan baru soal izin pertambahan dan pengelolaan limbah hasil tambang yang melarang pembuangan langsung ke alam. Sehingga perusahaan mau tidak mau harus membuat kolam pengolahan limbah dimana pembuatannya menggunakan modal perusahaan. Modal untuk pengolahan limbah ini termasuk capital expenditure.



Baca juga

Contoh Cara Menentukan Biaya Perawatan (Maintenance Expenses) untuk Meningkatkan Nilai Asset

Definisi dan Perbedaan Akun Biaya (Cost) dan Beban (Expense) Beserta Contohnya

Pengertian dan Perbedaan Biaya Tetap dengan Biaya Variable serta Cara Menghitungnya

Kenapa Perusahaan Butuh Membuat Akun untuk Biaya Lain-Lain (Miscellaneous Expenses) dan Contoh Cara Membuatnya

Pengertian Credit Expense (Hutang Biaya) dan Contoh Cara Menghitungnya

© 2021 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin