Semua Hal yang Harus Kamu Tahu tentang Konsinyasi

By Ayu, 01 Oktober 2021
Google Plus Share   Facebook Share   Linkedin Share

Biasanya ketika Anda berbisnis dengan para pengecer atau toko, mereka akan membayar produk yang mereka beli langsung di muka. Baru setelah itu mereka menjual produk tersebut di tokonya. Bisnis sudah menghasilkan keuntungan pada waktu itu juga ketika mereka menukar produk dengan keuntungan. Sementara itu, para pengecer masih harus menjual produk tersebut ke konsumen sebelum mereka mendapatkan keuntungan.

Akan tetapi, kerja sama konsinyasi tidak sama dengan hal tersebut. Di dalam konsinyasi, pengirim atau pemasok menyarahkan stok atau inventaris pada penerima barang. Namun belum sampai mentransfer kepemilikan maupun menghasilkan uang hingga penerima barang tersebut menjual inventaris ke pelanggan. 

Ketika pengecer menjual produknya, pemasok akan memperoleh keuntungan serta harus membayar kepada pengecer. Biasanya perbandingan keuntungannya kurang lebih 20-60%. Ketika pengecer gagal dalam menjual semua produk, mereka bisa mengembalikan sisa barang yang tidak berhasil mereka jual ke pemasok tanpa harus menggantinya.

Kerja sama konsinyasi bisa menjadi salah satu cara yang mampu menghemat biaya pengecer ketika ingin mengisi tokonya. Selain itu, bisnis seperti ini juga memungkinkan pemasok memperoleh eksposur tanpa harus mengeluarkan uang tambahan untuk menjual, memasarkan, serta memajang produk tersebut. itu artinya, ketika kedua pihak saling memahami persyaratan kontrak, maka ini akan menjadi sebuah win-win solution.

Lalu apa bedanya dengan proses pembelian grosir? Perbedaannya adalah ketika Anda menjual grosi, maka Anda menjual produk tersebut langsung ke pengecer dengan menerima imbalan berupa pembayaran. Kemudian pengecer akan menjual produk Anda ke pelanggan mereka sendiri. Ketika pengecer mendapatkan keuntungan, maka 100% keuntungan tersebut berada di tangan pengecer.

Pada sistem grosir, pengecer lebih seperti pelanggan. Sementara pada konsinyasi, pengecer lebih kepada tenaga penjual yang akan memperoleh keuntungan dari setiap produk yang dia jual.

Kelebihan dan Kekurangan Bisnis Konsinyasi

Kerja sama yang bersifat konsinyasi dapat memberikan manfaat bagi pengirim maupun peneirma barang. Namun penting juga mengetahui bahwa bisnis dengan menerapkan konsinyasi juga bisa menyebabkan kerugian.

  1. Keuntungan bisnis dengan konsinyasi bagi pemasok atau pemilik produk


  • Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa atau membeli toko

  • Tidak perlu juga mempekerjakan karyawan untuk mengurus toko Anda

  • Pelanggan bisa melihat serta mencoba produk sebelum membelinya

  • Anda juga bisa meningkatkan kesadaran produk atau merek sebelum Anda menghadapi pelanggan baru

  • Anda juga bisa membangun reputasi

  • Dengan konsinyasi, Anda mempunyai peluang yang besar untuk bisa masuk ke pasar yang lebih kompetitif dan pastinya lebih besar juga

  • Produk Anda lebih menonjol serta berbeda dari apa yang ditawarkan pengecer 

  • Lebih mudah dalam menguji produk baru untuk memahami mana produk yang laku dan mana yang tidak

  • Anda bisa menjalin kerja sama jangka panjang dengan pengecer

  • Tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk menyimpan inventaris atau stok


  1. Kerugian bisnis dengan konsinyasi terhadap pemilik produk


  • Anda dapat menerima pembayaran hanya setelah pengecer menjual produk Anda

  • Jika produk Anda ternyata tidak laku, Anda harus menariknya serta mencari cara lain untuk menjual produk tersebut. Salah satunya bisa dengan menjualnya di tempat lain

  • Tidak semua produk bisa menerapkan penjualan dengan sistem konsinyasi

  • Jika ada produk yang tidak laku atau bahkan rusak dan berada di luar kendali Anda, maka Anda bisa rugi

  • Anda harus mempercayai dan bergantung kepada orang lain. Maka dari itu, di sini perlu memilih orang yang benar-benar bisa Anda percaya


  1. Keuntungan bagi pengecer atau penerima barang


  • Produk Anda bisa menarik pelanggan atau konsumen baru

  • Anda tidak memiliki kewajiban membayar barang sampai barang atau produk tersebut Anda  jual

  • Anda bisa dengan mudah memperluas pilihan produk

  • Anda bisa terhindar dari kehabisan stok

  • Merupakan investasi dengan risiko rendah serta biayanya pun juga rendah karena Anda tidak harus membeli inventaris secara langsung (membayar di muka)


  1. Kerugian untuk penerima barang


  • Anda bisa dimintai pertanggungjawaban ketika ada produk di toko Anda yang mengalami kerusakan atau dicuri

  • Anda harus menyiapkan uang untuk inventaris baru

  • Anda mungkin juga harus bertanggung jawab mengenai biaya penyimpanan stok, termasuk biaya keamanan

  • Anda juga bertanggung jawab dalam mengelola inventaris konsinyasi di tempat yang terpisah dari inventaris reguler

Bisnis Konsinyasi di Kehidupan Nyata

Misalnya Anton, dia adalah seniman. Anton ini menjual karyanya di toko favoritnya di mana toko tersebut memang tempat menjual karya seni dari para seniman lokal. Anton mulai dengan menjual dua produknya. Anton membuat kesepakatan dengan pihak toko di mana Anton meletakkan 50 set poster dan 100 set kartu ucapan.

Ternyata poster Anton laku semuanya dalam sebulan. Namun untuk kartu ucapannya terdapat masalah. Sudah 60 hari (jangka waktu maksimal produk berada di toko). Dalam 60 hari, kartu ucapan hanya terjual 60 set dari total 100. Kemudian pemilik toko mengembalikan 40 set sisanya kepada Anton.

Secara keseluruhan, bisnis konsinyasi sukses. Kedua pihak juga mendapatkan keuntungan. Sekarang Anton harus memikirkan cara lain untuk menjual produknya. Bisa juga dengan membuat desainnya menjadi lebih menarik.

Tips Menjalin Kerja Sama Konsinyasi

Menerapkan bisnis konsinyasi bisa jadi lebih rumit dari yang Anda bayangkan ketika Anda tidak bisa mengelolanya dengan bak. Untuk itu, ada beberapa tips di bawah ini yang perlu Anda perhatikan.

  1. Buatlah perjanjian yang saling menguntungkan

Agar bisnis dengan kerja sama konsinyasi berhasil, kedua pihak (penerima dan pengirim barang) harus saling terbuka dan menjelaskan tentang keinginan dan harapan mereka. Pastikan kamu memiliki jawaban terhadap beberapa pertanyaan di bawah ini:

  • Berapa persentase yang akan didapatkan penerima terhadap produk yang dijual? Biasanya persentasenya antara 20 sampai 60%

  • Berapa lama penerima barang menyimpan barangnya? Biasanya antara 30 sampai 90 hari

  • Kapan produk harus dibayar?

  • Apakah terdapat biaya tambahan untuk penyimpanan atau pemasaran produk ke konsumen?

  • Seperti apa kebijakan pengirimannya?

  • Seperti apa kebijakan pengembaliannya?

  • Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap biaya pengiriman?

  • Bagaimana cara berkomunikasi antara pengirim dan penerima barang?

  • Seperti apa transaksi yang nanti dilakukan?

Intinya kedua pihak harus saling terbuka. Pastikan kedua pihak juga memahami kontrak kerja yang sudah disetujui.

  1. Bangun Bisnis yang Saling Menguntungkan

Bisnis yang kamu jalankan harus seperti bunga dengan lebah. Ya, bisnis ini harus bersifat simbiosis mutualisme. Perjanjian antara pengirim dan penerima barang harus saling menguntungkan. Kedua pihak juga harus melakukan yang terbaik untuk membuat produknya laris sehingga keduanya sama-sama mendapatkan keuntungan.

  1. Kenali produk dengan baik

Tips yang ketiga adalah kedua pihak juga harus memahami dan mengenali produk dengan baik. Cek kualitas dan pastikan tidak ada kekurangan baik dari produk itu sendiri maupun dari kemasannya. Sebagai pengirim atau pemilik barang, pastikan kamu mengirim atau menyerahkan produk tersebut dalam kondisi yang baik. Ini bisa kamu buktikan dengan foto.



Baca juga

10 Tanda Kondisi Keuangan Perusahaan Sedang dalam Bahaya

Alasan Pengelolaan Akuntansi Secara Otomatis Sangat Diperlukan Oleh Perusahaan

Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum Membuka Cabang Perusahaan

Penyebab Terhambatnya Pelaksanaan SOP Dalam Perusahaan Dan Cara Mengatasinya

Cara Pencatatan Akuntansi Perusahaan Yang Menggunakan Mata Uang Asing

© 2021 PT Ukirama Solusi Indonesia Bahasa Indonesia | English   Google Plus   Instagram   Facebook   Linkedin