Bayangkan Anda sedang mengajukan pinjaman modal kerja ke bank, atau bernegosiasi dengan calon investor untuk mengembangkan bisnis retail atau F&B Anda ke kota lain. Di tengah proses itu, pihak bank atau investor tiba-tiba meminta laporan keuangan yang "sesuai standar IFRS". Anda mungkin langsung bertanya-tanya — bukankah akuntan Anda selama ini sudah memakai PSAK? Apakah keduanya berbeda, dan apakah bisnis Anda perlu khawatir soal ini?

Pertanyaan ini lebih sering muncul dari yang Anda kira, terutama saat bisnis mulai bertumbuh, mencari pendanaan, atau bekerja sama dengan mitra dan pemasok internasional. Artikel ini akan menjelaskan apa itu IFRS, bagaimana hubungannya dengan PSAK/SAK yang berlaku di Indonesia, dan mengapa pemahaman dasar soal ini tetap relevan — bahkan untuk usaha kecil dan menengah sekalipun.

Apa Itu IFRS?

IFRS (International Financial Reporting Standards) adalah kumpulan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standards Board (IASB), badan independen di bawah naungan IFRS Foundation. Tujuan utamanya sederhana: menciptakan satu "bahasa" pelaporan keuangan yang seragam secara global, sehingga laporan keuangan sebuah perusahaan di Indonesia bisa dibandingkan secara apple-to-apple dengan perusahaan di negara lain.

Sejauh ini, lebih dari 120 negara telah mengizinkan atau mewajibkan penggunaan IFRS sebagai pedoman perusahaan dalam menyusun laporan keuangan, dan Indonesia — melalui Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) — adalah salah satunya. Namun perlu digarisbawahi: Indonesia tidak memakai IFRS secara langsung. Yang berlaku secara resmi di Indonesia adalah PSAK, yang disusun berdasarkan IFRS.

Sejarah Singkat: Bagaimana Indonesia Sampai ke Titik Ini

Perjalanan standar akuntansi Indonesia sebenarnya cukup panjang. Pada era 1970-an, SAK Indonesia mengikuti standar praktik akuntansi Amerika Serikat (GAAP), lalu pada 1990-an mulai berkiblat pada International Accounting Standards (IAS) — cikal bakal IFRS yang kita kenal sekarang.

Titik baliknya terjadi pada Desember 2008, ketika IAI mencanangkan konvergensi PSAK ke IFRS, dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK-IAI) menjalankan program kerja konvergensi sejak 2009. Langkah ini sejalan dengan kesepakatan negara-negara G20 untuk menciptakan satu set standar akuntansi berkualitas yang berlaku secara internasional.

Prosesnya dilakukan bertahap, bukan sekali jadi. Pada fase pertama konvergensi (2008–2012), DSAK-IAI menerbitkan 40 PSAK, 20 ISAK, dan 11 PPSAK beserta revisinya, dengan SAK yang efektif per 1 Januari 2012 setara dengan IFRS yang berlaku per 1 Januari 2009 — ada jeda waktu sekitar tiga tahun. Pada gelombang konvergensi berikutnya, jeda ini menyempit menjadi sekitar satu tahun. Setelah itu, PSAK terus diperbarui secara berkelanjutan setiap kali ada perubahan pada IFRS — jadi ini bukan proyek yang "selesai" pada satu tanggal tertentu, melainkan proses yang terus berjalan hingga hari ini.

PSAK, SAK, dan IFRS — Apa Bedanya?

Tiga istilah ini sering tertukar, jadi mari diluruskan:

  • SAK (Standar Akuntansi Keuangan) — payung besar seluruh standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.
  • PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) — dokumen-dokumen spesifik di bawah SAK, diterbitkan oleh DSAK-IAI, yang mengatur topik tertentu (misalnya persediaan, aset tetap, atau pengakuan pendapatan).
  • IFRS — standar internasional yang menjadi acuan utama saat PSAK disusun atau direvisi.

Singkatnya: PSAK adalah "versi Indonesia" dari IFRS, disesuaikan dengan konteks regulasi dan praktik bisnis lokal.

Adopsi IFRS oleh PSAK

Ini bagian yang sering disalahpahami. Berbeda dengan negara seperti Australia, Kanada, Filipina, Malaysia, dan Korea Selatan yang mengadopsi IFRS secara penuh kata per kata, Indonesia menempuh jalur "konvergensi" — DSAK-IAI menerjemahkan, menyesuaikan istilah, dan mengadaptasi ketentuan teknis IFRS agar cocok dengan sistem hukum dan praktik bisnis di Indonesia.

Ada juga beberapa area yang tidak diatur dalam IFRS sama sekali, sehingga DSAK-IAI mengembangkan standarnya sendiri. Untuk topik seperti akuntansi syariah, akuntansi UKM, dan pelaporan organisasi nirlaba, IAI menyusun standarnya secara mandiri karena IFRS tidak mengaturnya. Jadi tidak semua PSAK "berasal" dari IFRS — sebagian memang murni dibuat untuk konteks Indonesia.

Empat "Pilar" Standar Akuntansi di Indonesia

Ini bagian yang paling praktis, karena tidak semua bisnis di Indonesia wajib memakai standar berbasis IFRS penuh. Standar akuntansi keuangan Indonesia terbagi ke dalam beberapa "pilar" berdasarkan jenis dan skala entitas:

StandarUntuk EntitasBasis
SAK Umum (PSAK)Entitas dengan akuntabilitas publik — perusahaan tercatat di bursa, bank, asuransiKonvergensi penuh dengan IFRS
SAK ETAPEntitas menengah tanpa akuntabilitas publik signifikan (mis. perusahaan keluarga skala menengah)Disederhanakan dari SAK Umum
SAK EMKMUsaha mikro, kecil, dan menengah sesuai UU No. 20/2008Paling sederhana, fokus pada laporan laba rugi dan neraca
SAK SyariahEntitas dengan transaksi berbasis syariahDikembangkan lokal oleh DSAK-IAI

SAK EMKM sendiri baru diperkenalkan DSAK-IAI pada 24 Oktober 2016 dan efektif berlaku sejak 1 Januari 2018, khusus dirancang agar pelaku UMKM tetap bisa membuat laporan keuangan yang rapi tanpa harus mengikuti kompleksitas PSAK penuh.

Artinya, jika bisnis Anda masih berskala mikro, kecil, atau menengah, kemungkinan besar Anda belum diwajibkan memakai PSAK yang berbasis IFRS penuh — SAK EMKM atau SAK ETAP sudah cukup. Untuk memastikan klasifikasi mana yang berlaku untuk bisnis Anda, ada baiknya berkonsultasi langsung dengan akuntan atau konsultan pajak Anda.

Kabar Terbaru: IFRS Kini Juga Merambah Pelaporan Keberlanjutan

Perkembangan IFRS tidak berhenti di laporan keuangan saja. Pada 1 Juli 2025, Dewan Standar Keberlanjutan IAI (DSK-IAI) resmi meratifikasi Standar Pengungkapan Keberlanjutan pertama Indonesia (PSPK 1 dan PSPK 2), yang akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027. Kedua standar ini mengadopsi IFRS Sustainability Disclosure Standards — IFRS S1 tentang persyaratan umum pengungkapan informasi keuangan terkait keberlanjutan, dan IFRS S2 tentang pengungkapan terkait iklim.

Standar ini awalnya diarahkan untuk entitas dengan akuntabilitas publik, termasuk perusahaan tercatat dan industri jasa keuangan. Bagi UMKM, dampaknya belum langsung terasa — tapi ini sinyal bahwa tren pelaporan berbasis standar internasional akan terus meluas, terutama jika bisnis Anda berada dalam rantai pasok perusahaan besar atau multinasional yang sudah harus mematuhi standar ini.

Mengapa Ini Penting untuk Bisnis Anda

Meski saat ini bisnis Anda mungkin cukup memakai SAK EMKM atau SAK ETAP, memahami hubungan IFRS-PSAK tetap bermanfaat dalam beberapa situasi berikut:

  • Mengajukan pembiayaan — bank dan investor modal ventura cenderung lebih percaya pada laporan keuangan yang terstruktur dan konsisten dari periode ke periode.
  • Bermitra dengan perusahaan multinasional — pemasok atau buyer internasional biasanya mengharapkan format laporan yang predictable dan mudah dibandingkan.
  • Berencana bertumbuh skala besar — jika suatu saat bisnis Anda beralih status menjadi entitas dengan akuntabilitas publik, transisi ke SAK Umum akan jauh lebih mulus jika pembukuan Anda sudah rapi sejak awal.
  • Membangun kredibilitas — laporan keuangan yang konsisten memudahkan proses audit dan negosiasi dengan pihak eksternal mana pun.

Standar Rapi Butuh Sistem yang Rapi Juga

Akibat Pembukuan yang Tidak Terstruktur
  • Format laporan berubah-ubah setiap kali diminta pihak eksternal
  • Proses closing memakan waktu berhari-hari karena data tersebar di banyak file Excel
  • Risiko human error tinggi karena input data dilakukan manual berulang kali

Di sinilah sistem pencatatan yang baik berperan besar. Dengan software akuntansi berbasis cloud seperti Ukirama ERP, laporan laba rugi, neraca, dan arus kas tersaji secara real-time dalam satu dashboard, sehingga jauh lebih mudah disesuaikan kapan pun diminta bank, investor, atau auditor. Klien Ukirama tercatat berhasil mengurangi 85% proses manual dalam pencatatan mereka, dengan implementasi yang bisa dilakukan dalam hitungan hari — bukan bulan seperti sistem ERP enterprise pada umumnya.

Pendekatan ini terbukti relevan lintas sektor, mulai dari bisnis retail dengan banyak cabang, hingga usaha F&B yang perlu memantau profitabilitas per outlet secara akurat. Anda bisa melihat lebih banyak contoh nyata penerapannya di halaman studi kasus Ukirama.

Kesimpulan

IFRS dan PSAK bukan dua hal yang bersaing, melainkan satu rangkaian yang saling terhubung — PSAK adalah adaptasi Indonesia dari standar internasional IFRS, disesuaikan bertahap sesuai skala bisnis. Memahami hubungan ini membantu Anda lebih siap saat bisnis mulai bertumbuh, mencari pendanaan, atau bermitra dengan pihak internasional.

Ukirama ERP membantu ratusan perusahaan di Indonesia menjaga pembukuan tetap rapi dan siap diaudit kapan pun dibutuhkan. Jadwalkan Demo Gratis untuk melihat bagaimana sistem ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda.

FAQ

Apakah semua bisnis di Indonesia wajib mengikuti IFRS?
Tidak. Yang berlaku resmi di Indonesia adalah PSAK/SAK, dan kewajiban penerapannya bertingkat sesuai skala usaha — dari SAK EMKM untuk UMKM hingga SAK Umum (berbasis IFRS penuh) untuk entitas dengan akuntabilitas publik.

Apa beda IFRS dan PSAK secara singkat?
IFRS adalah standar internasional yang diterbitkan IASB. PSAK adalah versi Indonesia yang disusun DSAK-IAI berdasarkan IFRS, dengan penyesuaian untuk konteks regulasi dan bisnis lokal.

Kapan Indonesia mulai konvergensi ke IFRS?
Proses ini resmi dicanangkan IAI pada Desember 2008, dengan tahap awal berlangsung hingga 2012, dan terus diperbarui bertahap hingga sekarang.

UMKM harus pakai standar akuntansi yang mana?
Umumnya SAK EMKM, yang lebih sederhana dan berfokus pada laporan laba rugi serta neraca dasar, tanpa kompleksitas PSAK berbasis IFRS penuh.

Apakah PSAK akan pernah identik 100% dengan IFRS?
Kemungkinan besar tidak sepenuhnya, karena Indonesia menempuh jalur konvergensi (dengan penyesuaian lokal), bukan adopsi kata per kata seperti beberapa negara lain.