Stres karena keuangan, kadang bukan hanya menjadi urusan pribadi. Di lingkungan kerja, efeknya bisa terasa nyata dan menurunkan produktivitas karyawan. SoFi at Work baru-baru ini merilis data yang cukup menakutkan: 1 dari 3 karyawan mengaku sulit fokus bekerja karena masalah keuangan. 25% diantaranya mengaku bahwa stres finansial membuat produktivitas dan kepercayaan diri mereka menurun di kantor.

Apa Itu Kesejahteraan Finansial?

Apa sebenarnya kesejahteraan finansial itu? Seperti apa kondisinya di Indonesia sekarang, terutama untuk para karyawan kantoran? Sederhananya, menurut CFPB, seseorang bisa dikatakan sejahtera sejahtera secara finansial bila kebutuhan di masa sekarang terpenuhi, tanpa mengkhawatirkan masa depan. Ciri-ciri karyawan sejahtera yang paling umum adalah: mereka punya kebebasan untuk mengambil langkah dalam karir, dan tidak merasa terjebak di satu pekerjaan.

Tapi, ada satu miskonsepsi yang sering terjadi di banyak kantor. Banyak yang menganggap kalau kesejahteraan ini murni tanggung jawab karyawan. Padahal sebaliknya, masalah kesejahteraan ini tanggung jawab bersama antara perusahaan dan karyawan. Perusahaan perlu menyiapkan ekosistem yang mendukung, mulai dari gaji sampai tunjangan kesehatan. Karyawannya sendiri pun harus punya bekal literasi keuangan untuk mengelola keuangan pribadi dengan bijak.

Kenapa Literasi Finansial yang Baik Sulit Terwujud Bagi Karyawan?

Di Indonesia sendiri, ada beberapa masalah kalau kita ingin meningkatkan literasi keuangan. Misalnya:

  • Tabungan Darurat Masih Minim: Kalau tiba-tiba ada biaya kesehatan atau keperluan mendesak lainnya, banyak yang langsung panik dan ambil jalan pintas: pinjam. Seringkali, karyawan memilih pinjama dari layanan berbunga tinggi. Bukannya menyelesaikan masalah, pinjaman seperti ini malah menambah beban mental dan mengganggu stabilitas kerja jangka panjang.

  • Akses Keuangan Formal Timpang: Ditambah lagi sistem gajian bulanan yang bikin celah riskan. Saat karyawan butuh uang mendesak di tengah bulan, gajian masih lama, akhirnya berutang jadi opsi paling mudah.

  • Literasi Keuangan Rendah: Banyak yang belum terbiasa membuat anggaran, menabung rutin, apalagi memikirkan investasi. Akhirnya, seseorang gampang tergoda keputusan konsumtif dan kurang strategis. Pondasi finansial jangka panjang juga tidak ada.

  • Tekanan Keluarga (Generasi Sandwich): Ini yang seringkali tidak kelihatan tapi nyata. Generasi sandwich, yang harus menjaga orang tua sekaligus anak, sangat umum di Indonesia. Beban ini kurang terlihat di kantor, tapi dampaknya ke ketenangan pikiran, fokus, dan kesejahteraan finansial sangat besar.

Dampak Beban Finansial pada Karyawan

Kalau literasi finansial karyawan terbengkalai, apalagi bila berutang lebih dari batas kemampuan, kesehatan mental karyawan bisa terganggu. Motivasi kerja turun, yang akhirnya memengaruhi produktivitas perusahaan. Saat perusahaan peduli kondisi keuangan karyawan, retensi dan loyalitas juga menguat.

Karyawan cenderung bertahan bila perusahaan peduli dengan kesejahteraan dan kesehatan jiwa. Plus, reputasi perusahaan sebagai employer of choice otomatis terbangun. Lingkungan kerja jadi lebih kondusif, tingkat absensi bisa turun karena finansial yang sehat juga berkorelasi dengan kesehatan mental dan fisik.

Langkah Menyehatkan Keuangan Karyawan

Langkah paling mendasar adalah kasih kompensasi yang adil dan kompetitif. Gaji pokok yang disesuaikan dengan standar industri dan inflasi, akan memberi ketenangan untuk karyawan. Perusahaan modern juga sering mengadakan program edukasi keuangan, pelatihan, seminar, atau sesi konsultasi yang difasilitasi kantor. Ini membangkitkan kesadaran finansial, dan meyakinkan karyawan yang punya masalah finansial, bahwa mereka tidak sendiri.

Kemudian, akses keuangan yang fleksibel juga penting. Misalnya Earned Wage Access (EWA) yang memberi kesempatan karyawan untuk menarik sebagian gaji yang sudah menjadi hak, sebelum tanggal gajian. Ini solusi konkret mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman di saat-saat tak terduga. Pilihan lainnya adalah dengan program dana talangan.

Kebutuhan tidak terduga juga sangat bisa diatasi bila perusahaan memberi berbagai tunjangan dan benefit tambahan, asuransi kesehatan, tunjangan transport dan makan, sampai program jaminan hari tua. Program seperti ini bukan cuma menstabilkan kondisi sekarang, tapi juga memberi rasa aman di masa depan.

Karyawan bisa produktif dan bekerja dengan tenang kalau punya literasi finansial, pendampingan oleh kantor, dan fasilitas tunjangan. Semakin cepat fondasi keuangan karyawan ini dibangun, semakin kecil kemungkinan karyawan terjerat kesulitan finansial. Performa perusahaan juga semakin stabil.

*Artikel ini hasil kerjasama Ukirama dan FLIN.