Apa Itu SAK (Standar Akuntansi Keuangan)?
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah kumpulan pedoman resmi yang mengatur bagaimana transaksi keuangan dicatat, diukur, dan disajikan dalam laporan keuangan suatu entitas. SAK diterbitkan dan terus diperbarui oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI).
Tanpa standar ini, setiap perusahaan bisa menyusun laporan keuangan dengan format dan metode masing-masing — yang akhirnya menyulitkan bank, investor, kantor pajak, atau mitra bisnis untuk membaca dan membandingkannya. SAK hadir untuk menjawab dua kebutuhan utama:
- Keseragaman — laporan keuangan disusun dengan format dan istilah yang sama di seluruh Indonesia
- Dapat diperbandingkan (comparable) — laporan satu perusahaan bisa dibandingkan dengan perusahaan lain, atau dengan periode sebelumnya, secara apple-to-apple
Sejak proses konvergensi dengan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang mulai berjalan penuh pada awal 2012, sebagian besar SAK di Indonesia — khususnya untuk perusahaan besar dan terbuka — telah mengikuti kaidah internasional. Ini penting terutama bagi bisnis yang menargetkan investor asing atau ekspansi ke luar negeri, karena laporan keuangannya lebih mudah dipahami secara global.
Satu hal yang perlu diluruskan: istilah PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) sering dipakai bergantian dengan "SAK berbasis IFRS penuh". Sementara itu, "SAK" sendiri adalah istilah payung yang mencakup seluruh kerangka standar akuntansi di Indonesia — termasuk SAK EP, SAK EMKM, dan PSAK Syariah yang akan dibahas di bagian berikutnya.
Jenis-Jenis SAK yang Berlaku di Indonesia
SAK di Indonesia tidak tunggal. Standar yang harus diikuti sebuah entitas tergantung pada skala usaha dan seberapa besar akuntabilitas publiknya. Berikut jenis-jenis SAK yang berlaku saat ini.
1. SAK Umum (PSAK Berbasis IFRS Penuh)
Ini adalah standar paling komprehensif, ditujukan untuk entitas dengan akuntabilitas publik signifikan — misalnya perusahaan terbuka (go public), BUMN, perbankan, dan asuransi. Karena mengadopsi IFRS secara penuh, standar ini menuntut pengungkapan (disclosure) yang sangat detail, termasuk instrumen keuangan kompleks dan laporan konsolidasian antar-anak perusahaan.
2. SAK EP (Entitas Privat) — Pengganti SAK ETAP
Ini adalah perkembangan penting yang perlu Anda ketahui: sejak 1 Januari 2025, SAK EP resmi menggantikan SAK ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik) yang sebelumnya berlaku sejak 2011. SAK EP ditujukan bagi entitas privat — perusahaan yang tidak memiliki akuntabilitas publik namun tetap menerbitkan laporan keuangan untuk pengguna eksternal seperti bank, investor, atau mitra bisnis.
Dibanding SAK ETAP, SAK EP jauh lebih komprehensif. Standar ini diadopsi dari IFRS for SMEs dengan penyesuaian kondisi Indonesia, mencakup 35 bab pengaturan (dibanding 30 bab di SAK ETAP), termasuk laporan keuangan konsolidasian, instrumen keuangan, hingga pajak tangguhan. SAK EP menjadi standar "jalan tengah" — lebih ringkas dari SAK Umum, tapi lebih lengkap dari SAK EMKM. Banyak perusahaan menengah, koperasi, dan BPR kini bertransisi ke standar ini.
3. SAK EMKM (Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah)
Standar paling sederhana, dirancang khusus untuk pelaku UMKM yang belum memerlukan pelaporan sekompleks SAK EP. SAK EMKM hanya mensyaratkan tiga laporan dasar: laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan. Standar ini banyak dipakai UMKM di sektor F&B, retail, dan jasa yang baru mulai merapikan pembukuannya.
4. PSAK Syariah
Standar ini melengkapi (bukan menggantikan) standar lain di atas, khusus untuk entitas atau transaksi yang berbasis prinsip syariah — seperti bank syariah, koperasi syariah, atau perusahaan dengan produk keuangan syariah. Penyusunannya dilakukan oleh Dewan Standar Akuntansi Syariah IAI.
5. SAP (Standar Akuntansi Pemerintahan)
Perlu dicatat, SAP digunakan khusus oleh instansi pemerintah dan diterbitkan oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) — bukan oleh DSAK IAI. SAP disebutkan di sini sekadar untuk kelengkapan, karena umumnya tidak relevan bagi pelaku bisnis swasta.
Fungsi dan Manfaat SAK bagi Bisnis Anda
Bagi pemilik bisnis, SAK bukan sekadar formalitas akuntan. Berikut manfaat konkretnya.
Menjaga Transparansi dan Kredibilitas
Laporan keuangan yang mengikuti SAK lebih mudah dipercaya karena disusun dengan metode yang sudah teruji dan diakui secara luas — bukan format buatan sendiri.
Memudahkan Akses Pembiayaan
Bank dan investor umumnya mensyaratkan laporan keuangan sesuai SAK sebagai bagian dari proses due diligence. Bisnis yang laporannya rapi dan sesuai standar punya peluang lebih besar mendapat pinjaman atau pendanaan.
Mendukung Kepatuhan Pajak dan Regulasi
Laporan keuangan yang konsisten dengan SAK menjadi dasar yang lebih kuat saat berhadapan dengan kantor pajak, auditor, atau saat mengikuti tender yang mensyaratkan laporan keuangan teraudit.
Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan
Laporan laba rugi, neraca, dan arus kas yang akurat membantu Anda melihat kondisi bisnis apa adanya — bukan berdasarkan feeling — sehingga keputusan ekspansi, efisiensi, atau investasi bisa lebih terukur.
Tantangan Menerapkan SAK dengan Pencatatan Manual
Masalahnya, menyusun laporan sesuai SAK — apalagi SAK EP yang kini lebih komprehensif dari ETAP — jauh lebih berat kalau masih mengandalkan Excel atau pembukuan manual.
Akibat Pembukuan Manual saat Menerapkan SAK
- Human error dalam mencatat transaksi dan menyusun laporan
- Closing bulanan makan waktu berhari-hari karena rekonsiliasi manual
- Perhitungan HPP dan persediaan sering tidak akurat
- Laporan sulit disesuaikan saat ada perubahan standar (seperti transisi ETAP ke EP)
Di sinilah sistem yang terintegrasi berperan. Dengan modul Keuangan & Akuntansi Ukirama, laporan laba rugi, neraca, dan arus kas tersaji real-time dalam satu dashboard, dengan pembukuan otomatis yang mengurangi hingga 85% proses pencatatan manual. Untuk bisnis F&B, retail, atau trading dan distribusi yang butuh perhitungan HPP akurat, fitur manajemen stok dan inventory yang terhubung langsung ke pembukuan juga membantu memastikan angka yang masuk ke laporan keuangan sudah sesuai kondisi lapangan — bukan hasil input manual yang rawan selisih.
Kalau Anda sedang mempertimbangkan sistem yang tepat, artikel 25 Software Akuntansi Terbaik di Indonesia bisa jadi bahan pertimbangan lebih lanjut.
FAQ
Apa itu SAK? SAK (Standar Akuntansi Keuangan) adalah pedoman resmi yang mengatur pencatatan dan penyajian laporan keuangan di Indonesia, diterbitkan oleh DSAK IAI.
Apa beda SAK EP dan SAK ETAP? SAK EP adalah standar baru yang efektif berlaku sejak 1 Januari 2025, menggantikan SAK ETAP. SAK EP mencakup 35 bab pengaturan dan lebih komprehensif, termasuk laporan konsolidasian dan instrumen keuangan yang tidak diatur di SAK ETAP.
Apakah UMKM wajib menggunakan SAK EMKM? SAK EMKM dirancang untuk memudahkan UMKM, tapi tidak selalu wajib — tergantung kebutuhan pelaporan. UMKM yang berkembang dan butuh laporan untuk bank atau investor terkadang lebih cocok memakai SAK EP.
Apakah SAK sama dengan PSAK? Tidak persis sama. SAK adalah istilah payung untuk seluruh kerangka standar akuntansi di Indonesia, sementara PSAK umumnya merujuk pada standar berbasis IFRS penuh di dalamnya.
Siapa yang menerbitkan SAK di Indonesia? SAK diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI), kecuali PSAK Syariah oleh Dewan Standar Akuntansi Syariah IAI, dan SAP oleh KSAP untuk instansi pemerintah.

