Approval matrix menetapkan siapa berwenang menyetujui suatu transaksi atau keputusan, berdasarkan jenis transaksi, nominal, dan tingkat risikonya. Tanpa matriks ini, persetujuan berjalan menurut kebiasaan: semua pengeluaran menunggu tanda tangan direktur, atau sebaliknya, transaksi besar lolos hanya dengan balasan "ok" di chat. Panduan berikut menjelaskan komponen, jenis, contoh tabel, dan langkah menyusun matriks persetujuan yang bisa Anda sesuaikan dengan struktur perusahaan.

Apa Itu Approval Matrix?

Approval matrix adalah dokumen kebijakan berbentuk tabel yang memetakan setiap jenis transaksi atau keputusan ke pihak yang berwenang menyetujuinya, lengkap dengan batas nominal dan urutan persetujuannya. Dalam praktik di Indonesia, dokumen ini juga disebut matriks persetujuan, matriks otorisasi, atau matriks batas wewenang.

Matriks persetujuan bekerja dengan logika "jika X, maka Y". Contohnya, jika nilai pembelian di bawah Rp10 juta, cukup disetujui kepala departemen; jika di atas Rp250 juta, wajib disetujui direktur utama.

Struktur matriks persetujuan

Komponen utama matriks persetujuan

Matriks persetujuan yang lengkap memuat enam komponen: jenis transaksi, batas nominal, peran penyetuju, urutan persetujuan, delegasi, dan dokumen pendukung.

KomponenIsiContoh
Jenis transaksiKategori keputusan yang diaturPembelian, reimbursement, diskon khusus
Batas nominalRentang nilai untuk setiap tingkat persetujuanSampai Rp10 juta; Rp10–50 juta
Peran penyetujuJabatan yang berwenang, bukan nama orangKepala departemen, Finance Manager, direktur
Urutan persetujuanBerurutan, paralel, atau kondisionalFinance Manager, lalu Direktur Keuangan
DelegasiPengganti saat penyetuju berhalanganWakil direktur selama masa cuti
Dokumen pendukungBukti wajib sebelum persetujuan diberikanPurchase requisition, penawaran vendor, nota

Perbedaan Matriks Persetujuan, Authority Matrix, dan Approval Hierarchy

Matriks persetujuan, authority matrix, dan approval hierarchy saling berkaitan, tetapi masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda. Tabel berikut merangkum perbedaannya, termasuk kaitannya dengan prinsip segregation of duties.

IstilahPertanyaan yang dijawabBentuk umum
Matriks persetujuanSiapa menyetujui transaksi apa, sampai nominal berapaTabel transaksi dan penyetuju
Authority matrix (authorisation matrix, delegation of authority)Wewenang apa yang didelegasikan direksi ke setiap jabatan, termasuk menandatangani kontrakDokumen kebijakan wewenang yang lebih luas
Approval hierarchyBagaimana urutan jenjang persetujuan dari level terendah ke tertinggiRantai atau bagan berjenjang
Segregation of dutiesBagaimana mencegah satu orang menguasai seluruh tahap transaksiPrinsip pengendalian internal

Dalam praktik, matriks persetujuan biasanya menjadi turunan operasional dari kebijakan pendelegasian wewenang. Matriks ini juga menjadi alat untuk menjalankan segregation of duties, karena pengaju, penyetuju, dan pembayar idealnya tiga orang yang berbeda.

Mengapa Perusahaan Membutuhkan Matriks Persetujuan?

Perusahaan membutuhkan approval matrix untuk mencegah kebocoran dana, mempercepat keputusan rutin, dan memastikan setiap transaksi memiliki jejak persetujuan yang bisa diaudit.

Mengurangi risiko fraud dari kontrol yang lemah

Laporan Occupational Fraud 2026 dari ACFE, yang menganalisis 2.402 kasus di 143 negara dan wilayah, mencatat 33% kasus terjadi karena tidak ada kontrol internal dan 19% karena kontrol yang ada dilangkahi. Matriks persetujuan yang dijalankan di sistem menutup kedua celah tersebut, karena transaksi tidak dapat diproses tanpa persetujuan dari peran yang tepat.

Mempercepat persetujuan transaksi rutin

Matriks persetujuan memindahkan transaksi bernilai kecil ke level manajer, sehingga direktur hanya menangani keputusan bernilai besar atau nonrutin. Dengan begitu, pembayaran ke vendor tidak tertahan hanya karena satu pejabat sedang rapat atau dinas luar.

Menyelaraskan wewenang dengan anggaran dasar dan UU PT

Matriks persetujuan harus sejalan dengan batas wewenang direksi dalam anggaran dasar perusahaan. Sebagai contoh, Pasal 102 UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mewajibkan direksi meminta persetujuan RUPS untuk mengalihkan atau menjaminkan kekayaan perseroan yang nilainya lebih dari 50% kekayaan bersih.

Jenis Approval Matrix

Matriks persetujuan dibedakan berdasarkan dasar penentuan penyetujunya, yaitu nominal transaksi, jenis transaksi, atau tingkat risiko.

Matriks persetujuan berbasis nominal

Matriks berbasis nominal menetapkan penyetuju menurut besar nilai transaksi. Jenis ini paling umum dipakai untuk pembelian dan pengeluaran karena aturannya mudah dipahami dan mudah diotomatisasi.

Matriks persetujuan berbasis jenis transaksi

Matriks berbasis jenis transaksi menetapkan penyetuju menurut kategori, misalnya pembelian aset tetap selalu melibatkan Direktur Keuangan berapa pun nilainya. Jenis ini cocok untuk transaksi yang risikonya tidak sebanding dengan nominalnya, seperti diskon khusus atau penghapusan piutang.

Matriks persetujuan berbasis risiko

Matriks berbasis risiko menambahkan penyetuju ketika transaksi memenuhi kondisi tertentu, seperti vendor baru, pembelian di luar anggaran, atau pengeluaran yang melampaui rencana anggaran proyek. Perusahaan kontraktor, misalnya, sering menambahkan persetujuan direksi ketika realisasi biaya proyek mendekati batas RAB.

Pola alur persetujuan

Setiap jenis matriks persetujuan dapat dijalankan dengan tiga pola alur berikut.

  • Sequential: penyetuju memberi keputusan secara berurutan, misalnya Finance Manager lalu Direktur Keuangan.
  • Paralel: beberapa penyetuju meninjau secara bersamaan, misalnya tim legal dan tim keuangan untuk kontrak vendor.
  • Kondisional: alur bercabang otomatis sesuai nominal, departemen, atau kondisi risiko transaksi.
Pola alur persetujuan

Contoh Approval Matrix untuk Perusahaan Menengah

Contoh approval matrix berikut menggambarkan kebijakan persetujuan perusahaan menengah dengan empat tingkat nominal untuk pembelian. Angka batas pada tabel bersifat ilustrasi dan perlu disesuaikan dengan skala transaksi perusahaan Anda.

Jenis transaksiPengajuPenyetuju sesuai nominalDokumen wajib
Purchase order barang dan jasaStaf purchasingSampai Rp10 juta: Kepala Purchasing; Rp10–50 juta: Finance Manager; Rp50–250 juta: Direktur Keuangan; di atas Rp250 juta: Direktur UtamaPurchase requisition, penawaran vendor
Reimbursement karyawanKaryawanSampai Rp5 juta: atasan langsung; di atas Rp5 juta: atasan langsung, lalu Finance ManagerNota asli, formulir klaim
Pengisian ulang kas kecilKasirSemua nominal: Finance ManagerRekap pengeluaran kas kecil
Pembelian aset tetapKepala departemenSampai Rp250 juta: Direktur Keuangan; di atas Rp250 juta: Direktur Keuangan dan Direktur UtamaAnalisis kebutuhan, tiga penawaran
Diskon khusus penjualanStaf salesDi atas diskon standar: Sales Manager; di atas dua kali diskon standar: DirekturPerhitungan margin
Penghapusan piutangStaf piutang (AR)Semua nominal: Direktur KeuanganLaporan umur piutang, bukti penagihan
Contoh tingkat persetujuan purchase order

Sebagai ilustrasi, purchase order senilai Rp45 juta masuk ke tingkat Rp10–50 juta, sehingga cukup disetujui Finance Manager setelah dokumen lengkap. Jika PO yang sama ditujukan ke vendor baru, aturan berbasis risiko dapat menambahkan Direktur Keuangan sebagai penyetuju kedua.

Perhatikan bahwa matriks ini juga mengatur transaksi yang mengurangi penerimaan, seperti diskon khusus dan penghapusan piutang. Transaksi jenis ini sering luput dari aturan persetujuan, padahal dampaknya terhadap laba sama nyatanya dengan pengeluaran.

Cara Membuat Approval Matrix dalam 6 Langkah

Approval matrix disusun dengan memetakan transaksi, menetapkan batas nominal dan penyetuju, lalu menjalankannya di sistem dan meninjaunya secara berkala.

  1. Inventarisasi jenis transaksi. Daftar seluruh transaksi yang mengeluarkan atau mengurangi uang perusahaan, mulai dari tahapan proses procurement hingga penggajian.
  2. Tetapkan batas nominal dari data. Turunkan batas dari distribusi nilai transaksi 6–12 bulan terakhir, sehingga tingkat terendah mampu menangani sebagian besar transaksi rutin. Batasi jumlahnya menjadi tiga sampai empat tingkat agar mudah diingat.
  3. Petakan peran penyetuju. Gunakan jabatan, bukan nama orang, dan pastikan pengaju tidak dapat menyetujui transaksinya sendiri.
  4. Atur delegasi dan eskalasi. Tentukan penyetuju pengganti saat pejabat cuti, batas waktu delegasi, dan ke mana permintaan dieskalasi jika tertahan terlalu lama.
  5. Sahkan dan sosialisasikan. Matriks perlu ditandatangani direksi agar berlaku sebagai kebijakan resmi, lalu dibagikan kepada seluruh pengaju dan penyetuju.
  6. Jalankan di sistem dan tinjau berkala. Konfigurasikan aturan persetujuan di sistem ERP atau akuntansi, lalu tinjau batas nominal setiap tahun bersamaan dengan penyusunan anggaran.
6 langkah menyusun matriks persetujuan

Kesalahan Umum saat Menerapkan Matriks Persetujuan

Kesalahan paling umum adalah membuat approval matrix yang rapi di dokumen, tetapi tidak dijalankan di sistem. Berikut pola kesalahan yang paling sering muncul.

  • Pemecahan transaksi (split purchase): pembelian Rp60 juta dipecah menjadi beberapa PO di bawah Rp10 juta agar cukup disetujui kepala departemen.
  • Persetujuan setelah pembayaran: dana ditransfer lebih dulu dan persetujuan menyusul, sehingga matriks kehilangan fungsi pencegahannya.
  • Terlalu banyak tingkat: lebih dari empat tingkat membuat transaksi rutin tertahan dan mendorong pengguna mencari jalan pintas.
  • Batas nominal tidak diperbarui: batas yang disusun saat omzet masih kecil membuat direktur kembali kebanjiran permintaan persetujuan.

Agar aturan tidak berhenti di dokumen, persetujuan perlu tertanam langsung di alur transaksi. Ukirama ERP mendukung multi-level approval berbasis nominal pada modul keuangan dan akuntansi, sementara document tree di modul pembelian dan penjualan menghubungkan PR, PO, pengiriman, invoice, hingga pembayaran sehingga dokumen pendukung setiap persetujuan mudah ditelusuri.

Jika persetujuan di perusahaan Anda masih dikumpulkan lewat chat dan tanda tangan basah, tim Ukirama dapat membantu memetakan matriks persetujuan ke alur pembelian dan pengeluaran di sistem. Jadwalkan demo Ukirama ERP atau konsultasikan kebutuhan Anda dengan tim kami melalui WhatsApp.

FAQ

Berapa jumlah tingkat persetujuan yang ideal?

Jumlah tingkat persetujuan yang ideal untuk perusahaan menengah umumnya tiga sampai empat tingkat. Jumlah ini cukup untuk membedakan transaksi rutin, transaksi menengah, dan transaksi strategis tanpa memperlambat proses. Ukurannya sederhana: tingkat terendah sebaiknya mampu menyelesaikan sebagian besar transaksi harian tanpa melibatkan direksi.

Apakah matriks persetujuan perlu disahkan direksi?

Approval matrix sebaiknya disahkan direksi agar berlaku sebagai kebijakan resmi perusahaan. Pengesahan ini memberi dasar yang jelas saat audit internal, audit eksternal, maupun ketika terjadi perbedaan pendapat soal wewenang. Pastikan juga isi matriks tidak bertentangan dengan batas wewenang direksi dalam anggaran dasar dan UU Perseroan Terbatas.

Bagaimana jika penyetuju sedang cuti?

Penyetuju yang sedang cuti digantikan oleh penyetuju pengganti yang sudah ditetapkan dalam aturan delegasi. Aturan ini sebaiknya mencantumkan nama jabatan pengganti, batas nominal yang boleh disetujui, dan masa berlaku delegasi. Tanpa aturan delegasi, transaksi akan menumpuk atau disetujui oleh pihak yang sebenarnya tidak berwenang.

Seberapa sering matriks persetujuan perlu ditinjau?

Matriks persetujuan perlu ditinjau minimal setahun sekali, idealnya bersamaan dengan penyusunan anggaran tahunan. Peninjauan lebih cepat diperlukan ketika ada perubahan struktur organisasi, pembukaan cabang atau anak usaha baru, maupun kenaikan omzet yang signifikan, karena batas nominal lama bisa menjadi terlalu rendah.

Apakah perusahaan kecil juga membutuhkan matriks persetujuan?

Perusahaan kecil tetap membutuhkan matriks persetujuan, meskipun bentuknya lebih sederhana. Dua tingkat persetujuan sudah cukup, misalnya manajer untuk transaksi rutin dan pemilik untuk transaksi besar. Jika tim keuangan hanya dua atau tiga orang, tambahkan kontrol pengganti seperti review mutasi rekening mingguan oleh pemilik.