Laporan arus kas adalah laporan yang akan memberikan informasi arus masuk dan keluar kas sebuah perusahaan. Dimana untuk saldo akhir dari laporan ini harus memuat saldo yang sama dengan nominal kas di laporan keuangan.


Melakukan pencatatan arus kas bagi perusahaan mempunyai nilai manfaat baik pada pihak internal seperti owner untuk melakukan kebijakan jangka pendek atau jangka panjang serta pihak eksternal seperti investor dan kreditor untuk menilai kredibel perusahaan akan mendatangkan dividen atau sanggup mengembalikan kewajiban.


Untuk bisa menyajikan laporan arus kas yang bisa menjadi pijakan semua kalangan, maka sebelum melakukan pencatatan akuntan atau owner yang merangkap bagian keuangan untuk melakukan pencatatan arus kas perlu mengetahui terlebih dahulu aktivitas operasi apa saja yang akan mempengaruhi posisi kas atau yang setara kas. Diantaranya :


Aktivitas Operasi

Pencatatan aktivitas operasi dalam arus kas ini terjadi karena perusahaan menerima pendapatan atau mengeluarkan beban dan biaya. 


Mengacu pada prinsip dasar akuntansi dimana saat pendapatan bertambah maka posisinya adalah kredit, maka hal ini mempengaruhi posisi kas juga bertambah di posisi debet. Sedangkan untuk beban yang mana jika bertambah posisinya berada di posisi debet, mana akan mempengaruhi kas yang berkurang karena melakukan pengeluaran biaya atau pengurangan beban dengan melakukan kredit saldo. 


Contohnya apabila perusahaan tersebut perusahaan dagang alat tulis PT. AA yang melakukan pembayaran listrik senilai Rp. 500.000,- Menjual stabilo 20 pack @30.000,-.

Maka dalam mencatat akan mempengaruhi posisi kas akan berkurang dengan membayar beban listrik Rp. 500.000 

Beban listrik (D) Rp. 500.000

Kas            (K) Rp. 50.0000


Sedangkan untuk transaksi yang kedua merupakan bentuk kegiatan penjualan yang mana mendatangkan pemasukan pada kas sehingga kas bertambah maka pencatatannya akan menambah Kas. Sehingga kas akan debet sesuai dengan jumlah pemasukan. Dimana stabilo 20 pack @Rp. 30.000,- = Rp. 600.000,-

Kas                                      (D) Rp. 600.000,-

Pendapatan penjualan (K) Rp. 600.000,-


Adapun jenis dari transaksi pendapatan beraneka ragam mulai dari usaha jasa yang memang menjadi pendapatan utama atau pendapatan dari kegiatan insidentil seperti pemasukan dari penjualan barang milik perusahaan yang sudah habis nilai residunya. Dan untuk pengeluaranan juga demikian mulai biaya rutin seperti beban listrik, sewa, gaji karyawan, pembelian perlengkapan hingga yang insidentil seperti iuran karena ada warga di lingkungan usaha yang tertimpa musibah. 


Jika itu dimasukkan dalam anggaran perusahaan untuk menjaga hubungan masyarakat antara perusahaan dengan area tinggal dan di klaim sebagai pengeluaran perusahaan tentunya akan mengurangi posisi kas/ terjadi pengeluaran kas.


Aktivitas Investasi

Pencatatan arus kas yang diakibatkan oleh aktivitas investasi adalah perubahan posisi kas dikarenakan perusahaan melakukan investasi terhadap aktiva tetap perusahaan. Contohnya saat perusahaan melakukan kegiatan jual/beli gedung untuk usaha, kendaraan operasional, atau peralatan operasional yang memiliki nilai diatas nomina tertentu serta masa manfaat yang biasanya lebih dari satu periode. 


Contoh PT AA membeli kendaraan Tossa untuk operasional delivery pesanan customer senilai Rp. 35.000.000,-

Maka diketahui pergerakan kas keluar untuk aktiva tetap berupa kendaraan senilai Rp. 35.000.000,- 

Maka dalam pencatatan pengurangan Kas, Kas menjadi kredit dan Kendaraan menjadi debet.

Kendaraan (D) Rp. 35.000.000

Kas            (K) Rp. 35.000.000


Aktivitas Pendanaan

Pencatatan kas juga dipengaruhi oleh aktivitas pendanaan yang meliputi antara lain aktivitas permodalan dan utang. Misalnya owner menambah modal untuk PT. AA sebesar Rp. 43.000.000 maka akan mempengaruhi penambahan kas senilai tersebut. 


Sedangkan jika PT. AA membayar hutang yang jatuh tempo ke PT. YY senilai Rp. 12.000.000,- maka akan mengurangi posisi Kas.


Setelah kita mengetahui aktivitas yang akan mempengaruhi arus kas, maka kita akan masuk dalam pembahasan metode pencatatan. Adapun metode pencatatan dalam arus kas dibagi dua.


Metode langsung

Metode langsung ini akan cocok jika digunakan oleh perusahaan yang masih kecil. Dimana transaksi yang terjadi tidak terlalu banyak sehingga dimana metode langsung yang mencatat semua alur pengeluaran dan pemasukan pada kas secara tunai terurai langsung. Dalam menggunakan metode ini mengingat data transaksi yang tersebar akan, bercampur dengan ragam transaksi yang tidak berpengaruh dengan arus kas.

Contohnya Retur 3 pack spidol yang kering dari supplier JJ dan masih dalam jangka waktu kredit. 


Artinya dari transaksi tersebut tidak melibatkan kas, karena akan melakukan kredit pada persediaan barang dagang dan mendebet utang pada supplier JJ. Nah dalam metode pencatatan arus kas langsung perusahaan harus bisa memilah transaksi seperti contoh agar tidak masuk ke pencatatan. Mengingat transaksi tersebut tidak mempengaruhi kas.


Metode tidak langsung

Sedangkan untuk metode tidak langsung  yang mana cara ini adalah untuk rekonsiliasi laba bersih sehingga arus kas yang diperoleh bersih. Dalam melakukan metode ini diperlukan data tentang arus kas baik dari operasi, investasi dan pendanaan serta laporan laba rugi juga neraca di dua periode. Periode sebelum serta periode yang telah berjalan. 


Contohnya sebagai berikut.

PT AA

Laporan Laba Rugi

01/01/2020 – 31/12/2020

Penjualan 

Rp. 68.000.000

Harga pokok penjualan

Rp. 28.500.000

Laba kotor

Rp. 39.500.000





Beban sewa 

Rp. 4.000.000

Beban gaji

Rp. 6.100.000

Biaya listrik, air, dan telepon.

Rp. 1.200.000

Biaya penyusutan peralatan 

Rp. 320.000

Biaya penyusutan kendaraan

Rp. 450.000

Total beban

(Rp. 12.070.000 )

Laba bersih

Rp. 27.430.000


Dari laporan di atas kita mengetahui PT AA mengalami keuntungan atau surplus sebesar 27.430.000.


Langkah selanjutnya adalah kita melakukan perbandingan neraca saldo di tahun 2019 & 2020. :

PT AA

Neraca

Periode 2020 - 2019


2020

2019

NET CHANGE

Aktiva




Kas 

3.500.000

7.500.000

(4.000.000)

Piutang

19.000.000

15.000.000

4.000.000

Cadangan kerugian piutang

(900.000)

(700.000)

(200.000)

Perlengkapan

4.000.000

5.000.000

(1.000.000)

Persediaan barang

16.000.000

10.000.000

6.000.000

Peralatan

23.000.000

19.000.000

4.000.000

Akum peny. Peralatan

(3.000.000)

(2.680.000)

(320.000)

Kendaraan

31.000.000

27.000.000

4.000.000

Akum peny. Kendaraan

(4.000.000)

(3.550.000)

(450.000)

Total Aktiva

88.600.000

76.570.000

12.030.000





Utang dan Modal

Utang




Utang dagang

20.000.000

30.000.000

(10.000.000)

Utang gaji

20.000.000

25.000.000

(5.000.000)

Utang Bank

10.000.000

15.000.000

(5.000.000)





Modal

11.170.000

6.570.000

4.600.000

Laba/Rugi periode ini

27.430.000

0

27.430.000

Total Utang dan Modal

88.600.000

76.570.000

12.030.000


Maka laporan arus kas yang dapat dibuat berdasarkan aktivitas operasional terdapat pengurangan sebesar Rp. 4.400.000

Laba periode ini

27.430.000

Kenaikan piutang dagang

(4.000.000)

Kenaikan cadangan kerugian piutang

200.000

Kenaikan persediaan barang

(6.000.000)

Penurunan perlengkapan

1.000.000

Beban penyusutan peralatan dan kendaraan

770.000

Penurunan utang dagang

(10.000.000)

Penurunan utang gaji

(5.000.000)

Total

4.400.000


Arus kas dari kegiatan investasi

Karena ada peningkatan investasi pada peralatan dan kendaraan maka mengurangi Kas yang mana masing-masing peningkatan 4.000.000 maka total pendanaan investasi 8.000.000.


Arus kas dari kegiatan pendanaan.

Penurunan utang bank (5.000.000)

Kenaikan modal 4.600.000

Total (400.000)