Pernahkah Anda membeli mesin senilai Rp120 juta, lalu bertanya mengapa laporan keuangan tidak langsung membebankan seluruhnya sebagai biaya di tahun pembelian? Atau mendapati dua rekan menghitung depresiasi mesin yang sama dengan hasil berbeda? Jawabannya ada pada metode yang dipilih.

Artikel ini membahas pengertian depresiasi aset, rumus tiga metode, contoh hitungan per tahun, jurnalnya, serta aturan penyusutan untuk pajak.

Apa Itu Depresiasi Aset?

Depresiasi aset adalah alokasi sistematis biaya perolehan aset tetap berwujud, dikurangi nilai sisa, selama masa manfaatnya. Di Indonesia istilah ini lazim disebut penyusutan. Standar akuntansinya adalah PSAK 216 tentang Aset Tetap, dengan penomoran baru yang berlaku sejak 1 Januari 2024 menurut IAI.

Empat istilah kunci untuk menghitungnya:

  • Biaya perolehan (cost): harga beli ditambah biaya agar aset siap dipakai.
  • Nilai sisa (residual value): perkiraan nilai aset di akhir masa manfaat.
  • Masa manfaat (useful life): lama aset diperkirakan dipakai.
  • Jumlah yang disusutkan: biaya perolehan dikurangi nilai sisa.

Apa Bedanya Depresiasi, Penyusutan, Amortisasi, Deplesi, dan Depresiasi Mata Uang?

Istilah-istilah ini sering tertukar, padahal objeknya berbeda.

IstilahObjekContoh
Depresiasi / penyusutanAset tetap berwujudMesin, kendaraan, bangunan
AmortisasiAset tak berwujudHak paten, lisensi
DeplesiSumber daya alamTambang, hutan
Depresiasi mata uangNilai tukarRupiah melemah terhadap dolar

Depresiasi mata uang tidak berkaitan dengan penyusutan aset. Untuk pembahasan lebih rinci, baca artikel amortisasi, depresiasi, dan deplesi Ukirama.

Bagaimana Rumus Tiga Metode Depresiasi Aset?

Mengapa satu aset bisa menghasilkan tiga pola beban yang berbeda? Karena setiap metode mengasumsikan cara aset menghabiskan manfaatnya.

  • Garis lurus (straight-line): (biaya perolehan - nilai sisa) / masa manfaat. Bebannya sama setiap tahun.
  • Saldo menurun ganda (double-declining balance): tarif 2 / masa manfaat, dikalikan nilai buku awal tahun. Bebannya terbesar di awal, dan nilai buku tidak boleh turun di bawah nilai sisa.
  • Unit produksi (units of production): (biaya perolehan - nilai sisa) / total estimasi unit, dikalikan unit yang dipakai pada tahun itu.

Rumus yang sering salah ditulis adalah saldo menurun. Tarifnya dikalikan nilai buku, bukan harga beli. Untuk panduan garis lurus, baca artikel cara menghitung penyusutan garis lurus Ukirama.

Bagaimana Contoh Hitungan Depresiasi Aset dengan Tiga Metode?

Contoh ilustrasi: sebuah mesin dengan biaya perolehan Rp120.000.000, nilai sisa Rp10.000.000, masa manfaat 5 tahun, dan estimasi total produksi 100.000 unit. Jumlah yang disusutkan adalah Rp110.000.000. Angka dalam juta rupiah.

TahunGaris lurus: bebanGaris lurus: nilai bukuSaldo menurun ganda: bebanSaldo menurun ganda: nilai bukuUnit produksi: unitUnit produksi: bebanUnit produksi: nilai buku
12298487225.00027,592,5
2227628,843,230.0003359,5
3225417,2825,9220.0002237,5
4223210,36815,55215.00016,521
522105,5521010.0001110
Total110110100.000110

Cara membacanya:

  • Garis lurus: (120 - 10) / 5 = Rp22 juta per tahun.
  • Saldo menurun ganda: tarif 2 / 5 = 40%. Tahun 1: 40% x 120 = 48. Tahun 2: 40% x 72 = 28,8. Tahun 5 dibatasi agar nilai buku berhenti di 10, sehingga bebannya 15,552 - 10 = 5,552.
  • Unit produksi: 110 juta / 100.000 unit = Rp1.100 per unit, dikali unit yang dipakai.

Tiga temuan dari contoh ini:

  • Totalnya selalu Rp110.000.000. Metode hanya menggeser kapan biaya diakui.
  • Beban tahun pertama bisa beda 118,2%. Saldo menurun ganda mencatat Rp48 juta, garis lurus Rp22 juta.
  • Akumulasi setelah dua tahun berbeda jauh: garis lurus Rp44 juta, unit produksi Rp60,5 juta, saldo menurun ganda Rp76,8 juta.

Angka di atas ilustrasi, dan estimasi nilai sisa serta unit perlu ditinjau berkala.

Bagaimana Jurnal Penyusutan Aset?

Bagaimana beban penyusutan masuk ke pembukuan? Dicatat di akhir periode lewat jurnal penyesuaian. Pada contoh garis lurus tahun pertama:

  • Debit Beban Penyusutan Mesin: Rp22.000.000
  • Kredit Akumulasi Penyusutan Mesin: Rp22.000.000

Akun akumulasi mengurangi nilai aset di neraca, sehingga nilai buku akhir tahun pertama adalah 120 - 22 = Rp98.000.000. Beban penyusutan tidak mengeluarkan kas pada saat dicatat. Kas keluar saat aset dibeli. Pelajari alur jurnal ini di artikel jurnal penyesuaian Ukirama.

Apa Bedanya Depresiasi Akuntansi dan Depresiasi Pajak?

Mengapa angka penyusutan di laporan keuangan bisa berbeda dengan yang dipakai untuk SPT? Karena aturan pajak menetapkan kelompok masa manfaat dan tarif sendiri. Menurut sosialisasi PMK 72/2023 dari DJP, garis lurus berlaku untuk semua harta, sedangkan saldo menurun hanya untuk harta selain bangunan.

KelompokMasa manfaatGaris lurusSaldo menurun
Kelompok 14 tahun25%50%
Kelompok 28 tahun12,5%25%
Kelompok 316 tahun6,25%12,5%
Kelompok 420 tahun5%10%
Bangunan permanen20 tahun5%Tidak berlaku
Bangunan tidak permanen10 tahun10%Tidak berlaku

Tiga hal yang perlu dicatat:

  • Harta yang tidak tercantum di lampiran PMK memakai kelompok 3.
  • Pada umumnya masa manfaat fiskal mengikuti kelompok di atas, bukan masa manfaat menurut pembukuan. Pengecualiannya terbatas, misalnya bangunan dan harta tak berwujud bermasa manfaat di atas 20 tahun.
  • PMK 72/2023 mencabut PMK 96/2009. Penetapan jenis harta per kelompok ada di lampiran PMK. Cara menerapkan tarif pada nilai harta dan penyesuaian di SPT sebaiknya Anda pastikan dengan konsultan pajak.

Untuk contoh hitungan pajak, baca artikel penyusutan garis lurus dan saldo menurun sesuai ketentuan pajak Ukirama.

Bagaimana Memilih Metode Depresiasi yang Tepat?

Metode mana yang paling cocok untuk aset Anda? Pilih yang paling mendekati pola aset menghabiskan manfaatnya.

MetodeCocok untukKelemahan
Garis lurusAset yang manfaatnya merata, seperti bangunan dan perabotKurang mencerminkan aset yang cepat usang
Saldo menurun gandaAset yang paling produktif atau cepat usang di awalBeban awal besar menekan laba
Unit produksiAset dengan pemakaian terukur dan berfluktuasiPerlu catatan unit yang rapi

Apa pun pilihannya, terapkan secara konsisten dan dokumentasikan asumsinya.

Bagaimana Sistem Membantu Laporan Biaya yang Lebih Akurat?

Beban penyusutan hanyalah satu komponen dari laporan laba rugi. Bagaimana dengan biaya persediaan yang berdampingan dengannya?

Dengan Ukirama ERP, stok ter-update dari setiap transaksi dan COGS dihitung secara akurat, sehingga biaya persediaan lebih dapat diandalkan. Ukirama ERP juga memantau stok multigudang dan stok dalam perjalanan (in transit), memberi peringatan lewat fitur buffer stock, mencatat batch dan expiry date, serta mendukung stock opname lewat barcode, impor Excel, atau API. Untuk pencatatan jadwal penyusutan aset tetap di dalam sistem, konfirmasikan kebutuhan Anda langsung dengan tim Ukirama.

Kesimpulan

Depresiasi aset membagi biaya perolehan ke seluruh masa manfaat, dan pilihan metode menentukan kapan biaya diakui, seperti beban tahun pertama Rp48 juta versus Rp22 juta pada contoh di atas. Jika Anda ingin data stok dan biaya persediaan yang akurat untuk melengkapi laporan keuangan, konsultasikan kebutuhan bisnis Anda dengan tim Ukirama ERP.