Metode Manajemen Persediaan: Mana Yang Tepat Untuk Bisnis?

Sindhu Partomo
Metode Manajemen Persediaan: Mana Yang Tepat Untuk Bisnis?

Daftar Isi


Manajemen stok atau persediaan merupakan aspek penting dalam kelancaran operasi bisnis. Dengan mengelola persediaan secara efektif, perusahaan dapat meminimalkan biaya penyimpanan, meningkatkan efisiensi produksi, dan memaksimalkan keuntungan.

Artikel ini bertujuan untuk mengedukasi pembaca tentang berbagai metode manajemen persediaan beserta kelebihan dan kekurangannya, sehingga mereka dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka.

Pengertian Manajemen Stok

Manajemen persediaan adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk merencanakan, mengatur, dan mengendalikan persediaan barang dagangan atau bahan baku yang dimiliki oleh perusahaan. Kegiatan ini meliputi:

  • Perencanaan: Menentukan jumlah dan jenis stok yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan pelanggan dan meminimalkan biaya penyimpanan.
  • Pengadaan: Melakukan pembelian stok dari pemasok yang tepat dengan harga yang optimal.
  • Penyimpanan: Menjaga kondisi stok agar tetap baik dan terhindar dari kerusakan atau kehilangan.
  • Penggunaan: Menggunakan persediaan untuk proses produksi atau penjualan.
  • Pengendalian: Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap tingkat persediaan secara berkala untuk memastikan kelancaran operasi bisnis.

Berbagai Metode Manajemen Stok dan Kapan Menggunakannya

Terdapat berbagai metode manajemen yang dapat digunakan oleh perusahaan, antara lain:

  • Metode First In, First Out (FIFO): Metode ini mengasumsikan bahwa barang yang pertama kali masuk gudang adalah yang pertama kali dikeluarkan. Metode ini cocok untuk bisnis yang menjual produk dengan masa kadaluwarsa, seperti bahan makanan atau obat-obatan.
  • Metode Last In, First Out (LIFO): Metode ini mengasumsikan bahwa barang yang terakhir kali masuk gudang adalah yang pertama kali dikeluarkan. Metode ini cocok untuk bisnis yang ingin meminimalkan pajak penghasilan, terutama ketika harga barang naik.
  • Metode Just-in-Time (JIT): Metode ini bertujuan untuk meminimalkan stok dengan menerima barang hanya pada saat dibutuhkan untuk produksi. Metode ini cocok untuk bisnis yang memiliki sistem produksi yang efisien dan hubungan yang baik dengan pemasok.
  • Metode Economic Order Quantity (EOQ): Metode ini bertujuan untuk menentukan jumlah pemesanan barang yang optimal untuk meminimalkan biaya total pemesanan dan penyimpanan. Metode ini cocok untuk bisnis yang memiliki permintaan yang stabil dan biaya pemesanan yang signifikan.
  • Metode ABC Analysis: Metode ini bertujuan untuk mengelompokkan barang berdasarkan nilainya, sehingga perusahaan dapat fokus pada stok yang paling penting. Metode ini cocok untuk bisnis yang memiliki banyak jenis stok dengan nilai yang berbeda-beda.

Pemilihan metode yang tepat tergantung pada beberapa faktor, seperti:

  • Jenis bisnis: Pertimbangkan jenis produk yang dijual, masa kadaluwarsa produk, dan sistem produksi yang digunakan.
  • Permintaan pelanggan: Perkirakan tingkat permintaan pelanggan untuk setiap produk.
  • Biaya pemesanan dan penyimpanan: Hitung biaya pemesanan dan penyimpanan barang.
  • Tujuan perusahaan: Pertimbangkan tujuan perusahaan, seperti meminimalkan biaya, memaksimalkan keuntungan, atau meminimalkan pajak penghasilan.

Kelebihan dan Kekurangan Metode FIFO dan LIFO

Metode FIFO:

Kelebihan:

  • Memberikan gambaran yang lebih akurat tentang nilai stok pada neraca.
  • Cocok untuk bisnis yang menjual produk dengan masa kadaluwarsa.
  • Memberikan laba kotor yang lebih stabil dalam kondisi inflasi.

Kekurangan:

  • Biaya persediaan akhir mungkin lebih tinggi dalam kondisi inflasi.
  • Pajak penghasilan mungkin lebih tinggi dalam kondisi inflasi.

Metode LIFO:

Kelebihan:

  • Biaya stok akhir mungkin lebih rendah dalam kondisi inflasi.
  • Pajak penghasilan mungkin lebih rendah dalam kondisi inflasi.

Kekurangan:

  • Memberikan gambaran yang kurang akurat tentang nilai stok pada neraca.
  • Tidak cocok untuk bisnis yang menjual produk dengan masa kadaluwarsa.
  • Laba kotor mungkin lebih fluktuatif dalam kondisi inflasi.

Penerapan Metode Just-in-Time (JIT) dalam Manajemen Stok

Metode Just-in-Time (JIT) dapat diterapkan dalam manajemen stok dengan beberapa langkah berikut:

  • Membangun hubungan yang baik dengan pemasok: Perusahaan harus menjalin hubungan yang erat dengan pemasok yang dapat menyediakan barang dengan kualitas yang baik tepat pada waktu yang dibutuhkan.
  • Meningkatkan efisiensi sistem produksi: Perusahaan harus meningkatkan efisiensi sistem produksi untuk meminimalkan pemborosan dan waktu tunggu.
  • Menerapkan sistem kontrol yang efektif: Perusahaan harus menerapkan sistem kontrol stok yang dapat memantau tingkat stok secara real-time dan memberikan peringatan ketika sudah menipis.

Contoh Perusahaan yang Menggunakan Metode JIT:

  • Toyota: Produsen mobil asal Jepang ini terkenal dengan penerapan metode Just-in-Time dalam sistem produksinya. Dengan metode ini, Toyota dapat meminimalkan biaya penyimpanan dan meningkatkan efisiensi produksi.

Metode JIT memiliki beberapa keuntungan, antara lain:

  • Mengurangi biaya penyimpanan: Perusahaan tidak perlu menyimpan barang dalam jumlah besar, sehingga dapat menghemat biaya penyimpanan.
  • Meningkatkan efisiensi produksi: Dengan mengurangi pemborosan dan waktu tunggu, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi produksi.
  • Meningkatkan kualitas produk: Karena barang diterima tepat sebelum digunakan, risiko kerusakan dan penurunan kualitas barang menjadi lebih rendah.

Namun, metode JIT juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

  • Memerlukan hubungan yang baik dengan pemasok: Jika terjadi gangguan pada suplai barang dari pemasok, maka proses produksi dapat terhenti.
  • Memerlukan sistem produksi yang efisien: Metode JIT mengharuskan perusahaan untuk memiliki sistem produksi yang efisien dan fleksibel.
  • Tidak cocok untuk semua jenis bisnis: Metode JIT tidak cocok untuk bisnis yang memproduksi barang dengan permintaan yang fluktuatif atau membutuhkan waktu produksi yang lama.

Metode EOQ (Economic Order Quantity) dan ABC Analysis dalam Optimasi Stok

Metode Economic Order Quantity (EOQ):
Metode EOQ bertujuan untuk menentukan jumlah pemesanan barang yang optimal untuk meminimalkan biaya total pemesanan dan penyimpanan. Biaya total ini terdiri dari biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (holding cost).

Rumus EOQ:
EOQ = √(2DS / H)

Dimana:

  • EOQ = Jumlah pemesanan optimal
  • D = Permintaan tahunan terhadap stok
  • S = Biaya pemesanan per pesanan
  • H = Biaya penyimpanan per unit stok per tahun

Metode EOQ memiliki beberapa keuntungan, antara lain:

  • Mengurangi biaya total stok: Dengan memesan jumlah yang optimal, perusahaan dapat mengurangi biaya pemesanan dan penyimpanan.
  • Meningkatkan efisiensi pengelolaan stok: Metode EOQ membantu perusahaan dalam merencanakan dan mengatur stok dengan lebih baik.

Namun, metode EOQ juga memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:

  • Memerlukan estimasi permintaan yang akurat: Akurasi perhitungan EOQ tergantung pada estimasi permintaan yang akurat.
  • Mengasumsikan biaya tetap: Metode EOQ mengasumsikan bahwa biaya pemesanan dan penyimpanan bersifat tetap, padahal biaya ini mungkin saja berubah.

ABC Analysis:
Metode ABC Analysis bertujuan untuk mengelompokkan stok berdasarkan nilainya. Persediaan ini dikelompokkan menjadi tiga kategori:

  • Kategori A: Stok dengan nilai tertinggi (biasanya 80% dari total nilai)
  • Kategori B: Stok dengan nilai sedang (biasanya 15% dari total nilai)
  • Kategori C: Stok dengan nilai terendah (biasanya 5% dari total nilai)

Perusahaan perlu menerapkan kontrol yang lebih ketat terhadap kategori A, karena kategori ini memiliki dampak yang paling signifikan terhadap biaya persediaan. Sebaliknya, kontrol terhadap persediaan kategori C dapat lebih longgar.

Contoh Perusahaan yang Menggunakan Metode ABC Analysis:

  • Toko retail: Toko retail dapat menggunakan metode ABC Analysis untuk mengelompokkan persediaan berdasarkan nilai jualnya. Peralatan elektronik yang mahal akan termasuk dalam kategori A, sedangkan permen dengan harga murah akan termasuk dalam kategori C.

Metode ABC Analysis memiliki beberapa keuntungan, antara lain:

  • Memfokuskan kontrol pada persediaan yang penting: Perusahaan dapat fokus pada kontrol persediaan yang memiliki dampak yang paling signifikan terhadap biaya persediaan.
  • Meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan: Dengan mengelompokkan persediaan, perusahaan dapat menerapkan metode kontrol yang sesuai untuk setiap kategori.

Kesimpulan

Pilihan metode manajemen persediaan yang tepat akan berdampak pada efisiensi operasional, profitabilitas, dan kepuasan pelanggan. Dengan memahami berbagai metode yang tersedia dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihannya, perusahaan dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka.

Tips memilih metode manajemen stok:

  • Analisa jenis bisnis dan produk yang dijual.
  • Perkirakan permintaan pelanggan.
  • Hitung biaya pemesanan dan penyimpanan.
  • Evaluasi kemampuan menjalin hubungan baik dengan pemasok (untuk metode JIT).
  • Pertimbangkan keakuratan estimasi permintaan (untuk metode EOQ).

Kalau kamu mau tahu lebih banyak tentang bisnis, akuntansi, ERP, atau ingin bisa menjalankan pencatatan dan analisis akuntansi secara serba otomatis, pelajari fitur dari Ukirama di sini.

Sumber:

Faster Capital
Investopedia

Ukirama ERP memudahkan ratusan perusahaan mengelola bisnis setiap hari

Jadwalkan Demo

Sindhu Partomo
Sindhu Partomo

Seorang penulis dengan fokus pada Branding dan Digital Marketing

You Might Also Like